MoneyTalk, Jakarta – Di Hari Kesaktian Pancasila diperingati pada 1 Oktober, begituan dengan jujur Presiden Era Abdurrahman Wahid, Adhie Massardi memperingati Hari Kesaktian Pancasila dengan mengunggah puisinya karyanya sendiri bertema KANJURUHAN. Hal itu diunggah di platform media sosial X pada 30/9/2025.
“STADION KANJURUHAN 1 Oktober 2022 jadi Killing Fields bagi suporter Arema saat dibombardir GAS AIRMATA secara brutal oleh polisi,” kata Adhie Massardi.
“Dunia geger. Suporter Bayern Munich bentangkan spanduk MORE THAN 100 PEOPLE KILLED by the POLICE,” lanjutnya
Kemudian ia menambahkan “Tak ada yg bertanggungjawab atas TRAGEDI BOLA ini..!”
KANJURUHAN
SAJAK ADHIE M MASSARDI
Lapangan hijau
Bukan. Itu lapangan hitam
Kebodohan, keserakahan, kebohongan menghanguskan rerumputan
Kadal, kalajengking, belatung menjijikan menyeruak dari dalam tanah busuk Melemparkan tabung-tabung kejahatan Asap mengepul menjulang-julang
Ini bukan asap lampu Aladin yang berubah jadi Jin
Ini asap yang ngubah rerumputan jadi lautan airmata
Asap dari tabung-tabung itu meracuni kehidupan
Menjadi iblis seribu tangan seperti dalam film horor
Mencekik leher anak-anak, remaja, perempuan dan siapa saja. Bisa juga ayahmu, atau ibumu.
Mereka tak bisa bernafas. Ratusan tewas dalam tumpukan ketakutan
Orang Jerman teringat kelakuan Nazi Ruang tertutup. Gas beracun. Mayat-mayat bergelimpangan. Paranoid. Mual Mereka berteriak dalam spanduk “More than 100 people killed by the police..!” Pembunuh itu polisi! Polisi itu pembunuh!
Kebiadaban polisi di Stadion Kanjuruhan 1 Oktober 2022 itu mengguncang dunia sepakbola internasional Suporter klub Bayern Muenchen, dalam aksi
Kanjuruhan itu bukan kuburan
Di atas rerumputannya kupu-kupu dan capung berkejaran. Belalang cemburu memandang
Tapi Kanjuruhan kini memang kuburan Keadilan, harapan, kemanusiaan yang dihinakan
Disemayamkan di sini
Tanpa upacara. Hanya hening
Gas dari tabung-tabung kesombongan itu Memaksa airmata keluar dari kelopak Kelopak mata perempuan yang kehilangan suami
Lelaki yang kehilangan istri
Suami-istri yang kehilangan anak Anak-anak yang kehilangan orangtua Kakak yang kehilangan adik
Adik yang kehilangan kakak
Asap itu iblis dengan seribu tangan Menghitam di langit Kanjuruhan Seluruh dunia gemetar Kecuali kalian, O polisi..!





