Kasus JK, Adhie Massardi: Membenturkan Iman Sama dengan Mengundang Bencana bagi Bangsa

  • Bagikan
Juru Bicara Presiden Gus Dur,Adhie Massardi

MoneyTalk, Jakarta – Polemik yang berkembang di ruang publik terkait pernyataan tokoh nasional dan isu-isu sensitif bernuansa keagamaan kembali memunculkan kekhawatiran akan potensi perpecahan sosial di tengah masyarakat. Di era media sosial yang serba cepat, satu potongan pernyataan dapat dengan mudah dipelintir, dibingkai ulang, lalu disebarluaskan hingga memicu emosi publik tanpa adanya pemahaman utuh terhadap konteks sebenarnya.

Fenomena ini dinilai semakin berbahaya ketika menyentuh persoalan agama. Sebab, agama bukan hanya soal identitas, melainkan menyangkut keyakinan mendalam yang hidup dalam kesadaran setiap individu dan komunitas. Ketika narasi konflik antarumat sengaja dibangun, dampaknya tidak hanya terjadi secara lokal, tetapi dapat meluas hingga menimbulkan resonansi global.

Menanggapi kondisi tersebut, Juru Bicara Era Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Adhie Massardi menyampaikan surat terbuka kepada seluruh rakyat Indonesia. Ia mengingatkan bahwa upaya membenturkan antarumat beragama melalui rekayasa informasi merupakan ancaman serius bagi persatuan bangsa dan masa depan Indonesia.

Menurut Adhie, saat ini masyarakat tidak hanya menghadapi derasnya arus informasi, tetapi juga ancaman yang jauh lebih serius, yakni manipulasi realitas yang dapat mengguncang keyakinan dan persatuan bangsa. Ia menilai media sosial seperti Facebook dan X sering kali lebih mengutamakan reaksi publik dibandingkan kebenaran substansi informasi.

Dalam surat terbukanya, Adhie mencontohkan polemik yang menimpa Jusuf Kalla sebagai bentuk nyata bagaimana satu pernyataan dapat dipelintir dan dijadikan alat untuk membangun konflik horizontal di tengah masyarakat.

“Yang kita hadapi hari ini bukan sekadar kebisingan informasi. Kita sedang berdiri di tepi sesuatu yang jauh lebih berbahaya, yakni rekayasa realitas yang menyentuh iman,” kata Adhie Massardi dalam pernyataannya, Sabtu (25/4/2026).

Ia menegaskan bahwa fakta saat ini sering kali tidak lagi utuh. Informasi dipotong, dibingkai, lalu disebarkan dengan kecepatan yang melampaui akal sehat.

“Platform seperti Facebook dan X tidak bertanya apakah sesuatu itu benar. Mereka hanya bertanya, apakah ini cukup memancing reaksi? Dan kita tahu jawabannya, amarah selalu lebih cepat daripada kebenaran,” ujarnya.

Adhie menilai apa yang menimpa Jusuf Kalla bukan sekadar kesalahpahaman biasa, melainkan peringatan serius bahwa siapa pun bisa dijadikan alat untuk membenturkan umat.

Menurutnya, agama bukan sekadar identitas sosial, melainkan bagian dari keyakinan terdalam manusia. Ketika agama disentuh dengan cara yang salah, yang muncul bukan lagi diskusi sehat, tetapi reaksi emosional yang dapat meluas tanpa batas.

“Agama tidak berhenti pada batas geografis. Ia hidup dalam jejaring makna dan solidaritas yang menjalar melampaui negara. Ketika satu peristiwa dibingkai sebagai konflik antarumat, resonansinya tidak lokal, melainkan bisa mengguncang kesadaran di berbagai belahan dunia,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa sejarah telah berkali-kali menunjukkan dampak besar ketika agama dibenturkan, mulai dari Perang Salib, Perang Bosnia, hingga konflik modern seperti Israel-Palestina.

“Yang terhubung bukan tubuh manusia, melainkan keyakinan yang mereka pegang. Ketika keyakinan itu terusik, dunia yang jauh pun bisa terasa dekat—bukan untuk memahami, tapi untuk ikut bereaksi,” katanya.

Adhie juga menegaskan bahwa Indonesia bukan bangsa yang lahir dari konflik antaragama, melainkan dibangun dari kesadaran hidup bersama dalam keberagaman.

Ia menyebut semangat persatuan itu telah diwariskan sejak masa Pangeran Diponegoro hingga ajaran Mpu Tantular melalui filosofi Bhinneka Tunggal Ika.

“Perbedaan adalah fakta, tapi benturan adalah pilihan,” ujarnya.

Karena itu, Adhie mengingatkan adanya pihak-pihak yang berusaha mengubah pilihan tersebut dengan memelintir fakta, merekayasa narasi, dan memainkan emosi publik.

“Jika kita lengah, kita bukan hanya akan kehilangan kebenaran, tetapi juga kehilangan arah sebagai bangsa,” katanya.

Ia menegaskan bahwa membenturkan antarumat beragama bukan sekadar pelanggaran sosial, melainkan ancaman serius terhadap kehidupan bersama yang dapat mengguncang hak asasi manusia dan meruntuhkan martabat kemanusiaan.

“Membenturkan antarumat beragama harus dihentikan. Dengan kesadaran, dengan kewaspadaan, dan bila diperlukan, dengan penegakan hukum yang tegas dan berkeadilan. Sebab ketika iman dijadikan alat benturan, yang hancur bukan hanya fakta, tapi masa depan kita bersama,” tutup Adhie Massardi.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *