MoneyTalk, Jakarta – Di tengah duka dan penderitaan ribuan warga Sumatera pasca bencana alam, jagat media sosial justru dihebohkan oleh kemeriahan acara open house Natal yang digelar di rumah politisi Maruarar Sirait. Kontras yang tajam antara perayaan elite dan penderitaan rakyat ini memantik gelombang kritik publik serta mempertanyakan kepekaan nurani para pejabat negara.
Sebuah video yang beredar luas di Instagram memperlihatkan suasana open house Natal di kediaman Maruarar Sirait berlangsung meriah. Sejumlah pejabat dan tokoh publik tampak hadir, menikmati jamuan, berfoto, serta bercengkerama dalam suasana penuh keakraban. Tayangan tersebut dengan cepat menjadi viral dan menuai beragam reaksi dari warganet.
Ironi pun tak terelakkan. Pada waktu yang hampir bersamaan, di berbagai wilayah Sumatera, warga terdampak banjir dan longsor masih berjibaku dengan lumpur, membersihkan sisa-sisa rumah yang rusak, serta bertahan hidup di pengungsian dengan keterbatasan bantuan. Banyak di antara mereka kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, bahkan anggota keluarga.
Kondisi ini membuat publik mempertanyakan empati dan sensitivitas pejabat negara terhadap situasi darurat kemanusiaan yang belum selesai. Media sosial dipenuhi komentar bernada kecewa, dengan tagar #MaruararSirait, #pejabat, #rakyat, dan #bencanaalam menggema sebagai bentuk kritik.
“Bukan soal Natalnya, tapi soal timing dan kepekaan. Rakyat masih berjuang di tengah bencana, sementara pejabat berpesta,” tulis seorang warganet dalam kolom komentar unggahan tersebut.
Pengamat sosial Rokhmat Widodo menilai, persoalan ini tidak sekadar menyangkut kegiatan pribadi atau perayaan keagamaan, melainkan simbol sikap pejabat publik di tengah krisis. Dalam situasi bencana, setiap aktivitas pejabat memiliki dimensi moral dan politik yang kuat karena mereka dipandang sebagai representasi negara.
“Ketika penderitaan rakyat belum tertangani secara tuntas, kemeriahan yang dipertontonkan pejabat dapat memunculkan kesan jarak antara negara dan warganya,” ujar Rokhmat, Selasa (30/12/2025).
Ia menambahkan, di masa pemulihan bencana, publik lebih berharap kehadiran pejabat dalam bentuk aksi nyata: turun langsung ke lokasi terdampak, mempercepat distribusi bantuan, dan memastikan pemulihan berjalan adil serta merata. Simbol empati dinilai sama pentingnya dengan kebijakan teknis.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Maruarar Sirait terkait kritik publik atas open house Natal tersebut. Namun reaksi luas di media sosial menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya empati dan kepekaan sosial dari para pemegang kekuasaan.
Di tengah luka yang belum kering akibat bencana, publik berharap para pejabat tidak sekadar hadir dalam perayaan, tetapi juga benar-benar hadir di tengah penderitaan rakyat. Sebab bagi korban bencana, solidaritas dan kepedulian negara adalah harapan terakhir untuk bangkit kembali.





