Kajian Politik Merah Putih: “Iblis Imperium Uang” Diramal Kian Merajalela di 2026

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Koordinator Kajian Politik Merah Putih, Sutoyo Abadi, menyampaikan kritik keras terhadap arah perjalanan bangsa memasuki Tahun Baru 2026. Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum refleksi yang digelar pada Kamis malam, 1 Januari 2026, bertepatan dengan malam Jumat, di tengah suasana hujan gerimis.

Forum tersebut diikuti oleh mahasiswa yang tergabung dalam Kajian Politik Merah Putih, yang oleh Sutoyo disebut sebagai “pendekar-pendekar kecil”. Alih-alih membicarakan harapan dan optimisme tahun baru, diskusi justru dipenuhi kekhawatiran atas semakin menguatnya apa yang mereka sebut sebagai “Iblis Imperium Uang”.

Menurut Sutoyo, kekuatan imperium uang telah menjelma menjadi otoritas tertinggi yang mengendalikan negara. Negara, kata dia, berada dalam genggaman politbiro oligarki, di mana kebijakan strategis tidak lagi ditentukan oleh kedaulatan rakyat, melainkan oleh kepentingan segelintir pemilik modal.

“Imperium uang itu tumbuh dari hasil penjarahan sumber daya alam bangsa sendiri. Ia kemudian mengendalikan pejabat, aparat, hingga arah kebijakan negara,” ujar Sutoyo dalam keterangannya, Sabtu (3/1/2025).

Ia menyinggung sejumlah peristiwa yang dinilainya sebagai bukti nyata negara tak berdaya menghadapi kekuatan modal, seperti kasus pagar laut, kawasan PIK 1 dan PIK 2 yang disebut menyerupai “negara dalam negara”, keberadaan tenaga kerja asing ilegal di Morowali, hingga berbagai bencana ekologis seperti banjir bandang di Sumatera.

“Para pelaku kejahatan lingkungan itu bertindak seperti raja-raja kecil. Mereka bebas merusak, menenggelamkan wilayah, bahkan menghancurkan kehidupan rakyat tanpa tersentuh hukum,” tegasnya.

Sutoyo menilai imperium uang tidak hanya mengeksploitasi alam, tetapi juga memperbudak manusia Indonesia dengan menggunakan alat dan legitimasi negara. Aparat, menurutnya, direduksi menjadi instrumen kekuasaan yang dipelihara sekadarnya untuk melanggengkan kepentingan modal.

“Negara dikendalikan untuk merampas tanah rakyat, membabat hutan, dan mengeruk kekayaan alam demi menciptakan akumulasi uang bagi segelintir elite,” katanya.

Lebih jauh, ia menuding bahwa kemiskinan, kebodohan, dan kelaparan sengaja dipelihara agar masyarakat tetap lemah dan tidak melakukan perlawanan. Bahkan, peran moral kaum ulama pun dinilai telah mengalami degradasi.

“Sebagian ulama telah dibutakan oleh sihir kekuasaan dan uang. Mereka dijadikan alat legitimasi, robot yang memproduksi pembenaran atas wajah bengis imperium,” ujarnya.

Sutoyo juga menyebut imperium uang kini telah bermetamorfosis menjadi imperium senjata, yang dinilainya jauh lebih berbahaya karena mampu melumpuhkan bangsa secara sistematis hingga ke akar-akarnya.

“Ia mengeksploitasi manusia, memanipulasi nurani, dan mengubah manusia menjadi iblis bagi sesamanya,” pungkas Sutoyo.

Pernyataan ini menjadi refleksi kritis sekaligus peringatan dari kalangan mahasiswa dan pengamat politik terhadap ancaman oligarki ekonomi yang dinilai semakin menggerus kedaulatan negara dan masa depan demokrasi Indonesia di tahun 2026.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *