MoneyTalk, Jakarta – Koordinator Kajian Politik Merah Putih, Sutoyo Abadi, menilai pertarungan menuju Pilpres 2029 akan berlangsung keras, brutal, dan jauh dari norma serta etika politik yang sehat.
Dalam rilis kepada wartawan, Kamis (14/5/2026), Sutoyo menyebut sejak era pemerintahan Joko Widodo, negara telah berada dalam cengkeraman oligarki dan kapitalisme politik. Menurutnya, kondisi tersebut justru berpotensi semakin menguat pada era pemerintahan Prabowo Subianto.
Sutoyo mengungkapkan bahwa Jusuf Kalla dan Amien Rais disebut tengah menyiapkan langkah politik besar untuk mendorong Anies Baswedan maju dan memenangkan Pilpres 2029.
“Ini bukan sekadar dukungan politik biasa, tetapi semacam warisan terakhir untuk mengembalikan negara ke khitah sesuai amanah para pendiri bangsa,” ujar Sutoyo.
Menurutnya, Jusuf Kalla memainkan peran strategis melalui jaringan elite, diplomasi, dan dukungan logistik politik. Ia menyebut JK sebagai “dirigen paling dingin” dalam orkestrasi politik Indonesia.
“Dukungan JK berarti terbukanya akses elite dan kekuatan logistik yang besar. Ia akan menjahit kembali jaringan pengusaha dan diplomat agar Anies tidak dipandang sebagai orang luar oleh pemegang modal,” katanya.
Sementara itu, Amien Rais dinilai memiliki kekuatan berbeda, yakni kemampuan menggerakkan basis massa ideologis dan akar rumput yang haus perubahan.
“Jika JK menyiapkan karpet merah di istana dan gedung pencakar langit, Amien Rais menyiapkan pasukan di lorong perjuangan rakyat,” tulis Sutoyo.
Ia menyebut aliansi JK-Amien-Anies sebagai kombinasi antara kekuatan uang, jaringan, dan militansi politik yang berpotensi menjadi kekuatan besar menghadapi kekuasaan.
Sutoyo juga memprediksi benturan keras akan terjadi antara politik model lama yang mengandalkan lobi elite dan narasi moral melawan politik modern yang menurutnya bertumpu pada bansos, kekuatan uang, dan pengaruh birokrasi kekuasaan.
“Pilpres 2029 akan berjalan brutal, jauh dari tata krama, norma, dan etika politik yang sewajarnya,” tegasnya.
Dalam rilisnya, Sutoyo turut mengingatkan masyarakat agar tidak kembali menjadi korban politik bantuan sosial dan janji-janji kekuasaan yang dinilai manipulatif.
Ia juga meminta Anies Baswedan tidak hanya tampil sebagai intelektual, tetapi juga menjadi politisi yang cerdik, kuat, dan militan menghadapi pertarungan politik mendatang.





