MoneyTalk, Jakarta – Donald Trump pasti tidak membayangkan dengan jumawa terpancar di layar lebar dipertontonkan di seluruh muka bumi menginisiasi Dewan Perdamaian BoP membayangkan dirinya sebagai raksasa dunia, secepat kilat menjadi sampah politik dunia.
Kesalahan fatal yang dilakukan AS-Israel dalam serangan ke Iran 28 Februari, jauh dari wajahnya sebagai inisiator Dewan Perdamaian, yang tampak sebagai drakula dengan angkuhnya menyerang kedaulatan negara lain menginjak semua hukum internasional bergaya rambo.
BoP seketika itu kehilangan substansi moral kemanusiannya dan Trump telah melanggar tatanan hukum internasional sebagai pemimpin negara agresor.
Otomatis gagasan Presiden Prabowo Subianto akan mengirim pasukan TNI ke Gaza lewat BoP sebagai katalisator diplomasi politik Indonesia dalam mempercepat kemerdekaan Palestina, menjadi tertawaan didalam dan luar negeri.
Presiden Prabowo Subianto mestinya menyadari kesalahan dan kekeliruannya mengikuti arus atau syahwat politik Trum dan Netanyahu. Sadar bahwa Trump beserta Netanyahu adalah penjahat perang. BoP yang diinisiasi Trump hanya lembaga tipuan dan omon-omon untuk perdamaian Palestina, yang oleh Prabowo masih digadang sebagai two state solution.
Lebih konyol lagi munculnya imajinasi dan mimpi ingin menjadi juru damai perang Iran dengan Amerika dan Israel. Bersamaan Dubes Iran baru baru ini “tak ada perdamaian dan perundingan dengan AS”, kalau AS hanya akan mendikte negara berdaulat.
Rakyat Indonesia masih terluka dengan kebijakan Presiden yang telah menjual harga diri dan kedaulatan negara dengan peristiwa baru baru ini, yakni perjanjian dagang antara Indonesia dan AS yang nilai tidak masuk akal, Presiden dengan merundukan kepalanya mengorbankan kepentingan nasional Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto tidak ada gunanya membela diri dengan alasan apapun telah melakukan kesalahan-kesalahan yang fatal.
Betapa kerasnya pada ahli politik dan ekonomi spontan mengingatkan Presiden telah menempuh diplomasi politik dan ekonomi asal asalan dengan resiko sangat berat bagi negara dan sangat memalukan bagi dalam kancah nasional dan internasional.
Tidak ada kamusnya memenangkan diplomasi politik dan ekonomi di kancah global dengan kepala merunduk kayaknya pesuruh dan budak negara lain. Sekarang terserah Presiden Prabowo Subianto terus melaju dijamin babak belur atau mundur teratur dengan pijakan Pembukaan UUD 45.
Penulis : Sutoyo Abadi




