MoneyTalk, Jakarta – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, melontarkan kritik terbuka terhadap sikap pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri, dalam merespons situasi di Venezuela. Dino menilai pernyataan resmi Kemlu RI terlalu standar, normatif, dan tidak menyentuh akar persoalan utama, yakni dugaan pelanggaran hukum internasional yang melibatkan Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya yang disampaikan melalui media sosial, Dino mempertanyakan mengapa Indonesia terkesan enggan atau sungkan menyebut peran Amerika Serikat secara eksplisit. Padahal, menurutnya, Indonesia memiliki tradisi diplomasi yang berani dan konsisten dalam menyuarakan keadilan global.
“Saya heran membaca pernyataan Kemlu RI re Venezuela yang sangat standar dan sama sekali tidak menyebut Amerika Serikat. Sejak kapan kita sungkan atau takut mengkritik kawan yang melakukan pelanggaran hukum internasional?” ujar Dino, Senin (5/1/2025).
Dino juga menyoroti absennya pernyataan langsung dari Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, terkait isu tersebut. Ia menilai, dunia internasional justru menunggu pandangan Indonesia sebagai salah satu aktor penting Global South yang selama ini memiliki posisi strategis dan legitimasi moral dalam isu-isu global.
“Kenapa Menlu Sugiono sampai sekarang tidak bersuara, padahal dunia menunggu pandangan Indonesia sebagai pemain Global South yang penting?” lanjut Dino.
Menurut Dino, momentum Venezuela seharusnya dimanfaatkan Indonesia untuk menunjukkan kembali jati diri politik luar negeri bebas aktif. Ia mengingatkan bahwa Indonesia pernah secara tegas menentang invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003, meski saat itu AS merupakan mitra strategis.
“Ini momen Indonesia perlu percaya diri menunjukkan sikap, sama seperti ketika kita dulu menentang invasi AS terhadap Irak,” tegasnya.
Dino menekankan, prinsip bebas aktif bukan sekadar jargon diplomatik, melainkan keberanian untuk berpendirian dalam membela hukum internasional dan nilai-nilai keadilan global. Menurutnya, kemitraan dengan Amerika Serikat maupun negara mana pun tidak boleh menjadikan Indonesia negara penurut yang mengorbankan prinsip-prinsip dasar.
“Bebas aktif itu artinya berani berpendirian. Bermitra dengan AS dan dengan negara mana pun tidak boleh membuat Indonesia mengorbankan hal-hal yang prinsipil,” tandas Dino.
Kritik Dino Patti Djalal ini menambah daftar sorotan publik terhadap arah diplomasi Indonesia di bawah pemerintahan baru. Sejumlah pengamat menilai, sikap tegas Indonesia dalam isu-isu global sangat dibutuhkan untuk menjaga kredibilitas dan kepemimpinan moral RI di kancah internasional, khususnya di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.




