MoneyTalk, Jakarta – Guru besar Universitas Airlangga (Unair), Prof. Henri Subiakto, mengingatkan masyarakat akan sejarah panjang bangsa Indonesia yang sarat dengan pengkhianatan di tengah perjuangan merebut kemerdekaan. Menurutnya, sejarah ini bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi juga pelajaran penting bagi generasi sekarang.
“Bangsa kita punya sejarah yang cukup kelam. Nenek moyang kita dijajah Belanda sekitar 350 tahun, padahal mereka dikenal pemberani dan ulet. Namun, perjuangan mereka sering gagal karena ada pengkhianat di dalam,” ujar Prof. Henri, Selasa (13/1/2026).
Prof. Henri mencontohkan beberapa tokoh perlawanan yang berakhir tragis karena dikhianati orang dekatnya. Pangeran Diponegoro, misalnya, yang memimpin perlawanan sengit selama lima tahun, akhirnya ditangkap setelah ditipu Jenderal De Kock dan dikhianati patih Danurejo. Begitu pula Cut Nyak Dien yang gigih meneruskan perjuangan suaminya, Teuku Umar, harus diringkus karena pengkhianatan Pang Lao.
Sejarah serupa juga terjadi pada Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram. Saat menyerang Batavia dengan ribuan pasukan, Sultan Agung gagal karena Tumenggung Inderanata membocorkan lokasi lumbung pangan pasukan ke Belanda. Akibatnya, pasukan Mataram kelaparan dan terserang wabah penyakit.
Prof. Henri menegaskan, pengkhianatan selalu hadir dalam perjuangan bangsa. Para pengkhianat biasanya tergiur oleh tawaran materi, kedudukan, atau kuasa dari pihak musuh. “Di era sekarang, tawaran imbalan berupa cuan atau jabatan juga ada. Ini menjadi tantangan berat bagi mereka yang ingin berjuang demi bangsa, terutama di kondisi ekonomi yang sulit,” jelasnya.
Ia pun menyoroti strategi licik politik adu domba yang dulu dipakai Belanda dan kini masih digunakan oleh segelintir pihak berpengaruh. Politik adu domba bertujuan memecah belah dan mematahkan perjuangan tokoh yang ingin memajukan bangsa.
“Setiap ada anak bangsa yang berani melangkah demi kebaikan negeri, selalu ada pihak yang tergiur dan justru merugikan negara serta saudaranya. Kita harus waspada terhadap pengkhianatan dalam berbagai bentuk yang sesuai konteks zamannya,” pungkas Prof. Henri Subiakto.
Sejarah panjang pengkhianatan ini menjadi pengingat agar bangsa Indonesia tetap bersatu dan berhati-hati menghadapi politik licik yang bisa memecah belah masyarakat dan perjuangan untuk kemajuan negeri.


