Firman Tendry Masengi Singgung Situasi Mirip 1998, Serukan Refleksi Nasional atas Kepemimpinan

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan keras datang dari aktivis 1998, Firman Tendry Masengi, yang menyinggung situasi politik nasional, relasi mantan Joko Widodo (Jokowi) dengan Presiden Prabowo Subianto, hingga wacana gerakan rakyat sebagaimana pernah terjadi pada masa reformasi.

Dalam sebuah forum diskusi yang juga dihadiri sejumlah tokoh, termasuk budayawan Eros Djarot dan Mayjen TNI (Purn) Soenarko, Firman melontarkan kritik tajam terhadap kondisi negara yang ia nilai mengalami kerusakan serius selama satu dekade terakhir. Ia menggunakan analogi “dirampok habis lalu diberi ongkos pulang” untuk menggambarkan situasi tersebut.

Firman juga mempertanyakan sikap Prabowo yang dinilainya tetap memberikan penghormatan kepada Jokowi di tengah berbagai kritik publik terhadap pemerintahan sebelumnya. Menurutnya, setiap desakan terhadap apa yang ia sebut sebagai “dinasti politik” justru direspons dengan pembelaan.

“Sekarang suasana kebatinan mirip 1998,” ujarnya beberapa waktu lalu, merujuk pada periode menjelang runtuhnya Orde Baru ketika gelombang demonstrasi mahasiswa dan tekanan publik meluas di berbagai daerah.

Firman mengingat kembali dinamika gerakan mahasiswa pada Mei 1998, termasuk pertemuan dengan fraksi di DPR serta situasi keamanan menjelang lengsernya Presiden Soeharto. Ia menilai pengalaman sejarah tersebut menunjukkan bahwa perubahan politik besar kerap dipicu oleh tekanan rakyat, bukan semata proses hukum formal.

Dalam forum yang sama, ia juga mengajak para purnawirawan dan jaringan masyarakat sipil untuk membaca situasi nasional secara serius. Pernyataan tersebut memicu perhatian karena menyentuh isu sensitif terkait mobilisasi massa dan peran kelompok non-pemerintah dalam perubahan politik.

Mayjen TNI (Purn) Soenarko, yang disebut dalam diskusi sebagai salah satu figur purnawirawan dengan jejaring luas, tidak secara langsung memberikan pernyataan terbuka dalam potongan forum yang beredar. Namun kehadirannya menunjukkan keterlibatan kalangan militer purnawirawan dalam ruang diskursus politik kebangsaan yang belakangan kembali menguat.

Sementara itu, budayawan Eros Djarot turut disinggung sebagai bagian dari lingkaran tokoh yang mengikuti perkembangan sosial-politik dan menyuarakan keprihatinan terhadap kondisi rakyat. Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, Eros dikenal vokal menyampaikan kritik terhadap arah demokrasi dan kepemimpinan nasional.

Pernyataan Firman Tendry Masengi menambah daftar panjang kritik terhadap relasi politik Jokowi–Prabowo yang sejak awal memicu perdebatan publik. Sebagian kalangan melihat kesinambungan kekuasaan sebagai strategi stabilitas nasional, sementara pihak lain menilai hal itu berpotensi melemahkan mekanisme checks and balances demokrasi.

Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pihak Istana maupun tim Prabowo terkait pernyataan tersebut. Namun wacana mengenai arah demokrasi, peran purnawirawan, serta kemungkinan mobilisasi sosial diperkirakan akan terus menjadi topik hangat menjelang transisi pemerintahan.

Situasi ini menunjukkan bahwa lebih dari dua dekade setelah Reformasi 1998, ingatan kolektif tentang gerakan rakyat masih menjadi referensi penting dalam membaca dinamika politik Indonesia hari ini—baik sebagai inspirasi perubahan maupun sebagai pengingat pentingnya menjaga proses demokrasi tetap berada di jalur konstitusi.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *