Pengamat: Aksi Delegasi AS Buang Barang dari China Pertanda Cold War Modern 

  • Bagikan
Komunitas Muslim dan Keturunan India Menangkan Trump
Komunitas Muslim dan Keturunan India Menangkan Trump

MoneyTalk, Jakarta – Hubungan Amerika Serikat dan China kembali memperlihatkan wajah keras di balik diplomasi penuh senyum. Di tengah kunjungan kenegaraan Presiden AS Donald Trump ke Beijing pada 13–15 Mei 2026, muncul fakta mengejutkan bahwa seluruh barang pemberian dari pihak China dibuang oleh delegasi Amerika sebelum menaiki Air Force One.

Laporan itu diungkap Koresponden Gedung Putih New York Post, Emily Goodin, melalui akun X miliknya. Ia menyebut staf keamanan AS memerintahkan seluruh rombongan, termasuk jurnalis, untuk tidak membawa satu pun barang asal China ke dalam pesawat kepresidenan.

Barang-barang seperti kartu pers, pin delegasi, hingga ponsel sekali pakai yang diberikan selama kunjungan dikumpulkan dan langsung dibuang ke tempat sampah di dekat tangga Air Force One sebelum keberangkatan dari Beijing.

Di depan publik, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping memang tampak hangat dan penuh senyum. Namun di balik layar, ketegangan keamanan dan kecurigaan intelijen ternyata berada pada level sangat tinggi.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai tindakan delegasi AS tersebut bukan sekadar prosedur keamanan biasa, melainkan sinyal bahwa rivalitas Washington-Beijing sudah memasuki fase “paranoia strategis”.

“Ini bukan soal souvenir atau barang biasa. Dalam dunia intelijen modern, benda sekecil apa pun bisa menjadi medium pengumpulan data,” ujar Amir Hamzah kepada wartawan, Ahad (17/5/2026).

Menurut Amir, langkah delegasi AS membuang seluruh barang dari China menunjukkan bahwa Washington memandang Beijing bukan lagi sekadar kompetitor ekonomi, melainkan ancaman strategis multidimensi.

“Amerika takut terhadap kemungkinan penyadapan elektronik, pelacakan digital, penanaman chip, hingga operasi cyber intelligence melalui benda-benda yang terlihat sepele,” katanya.

Amir menjelaskan, praktik seperti itu sebenarnya bukan hal baru dalam dunia intelijen internasional. Dalam era perang teknologi dan artificial intelligence, perangkat sederhana sekalipun bisa dimanfaatkan untuk operasi pengumpulan informasi.

“Ponsel sekali pakai, pin delegasi, bahkan kartu identitas elektronik dapat menjadi instrumen untuk membaca pola komunikasi, lokasi, biometrik, hingga kebiasaan pengguna,” jelasnya.

Ia menilai sikap ekstrem delegasi AS mencerminkan tingkat ketidakpercayaan yang sangat dalam terhadap China. Bahkan, menurut Amir, kondisi tersebut menggambarkan bahwa hubungan kedua negara adidaya saat ini berada dalam situasi “cold war modern”.

“Kalau pada era Perang Dingin dulu fokusnya senjata nuklir dan ideologi, sekarang perang berlangsung dalam bentuk teknologi, data, kecerdasan buatan, semikonduktor, cyber warfare, dan penguasaan rantai pasok global,” ujarnya.

Amir menyebut China saat ini dianggap AS sebagai satu-satunya kekuatan yang mampu menyaingi dominasi global Washington dalam jangka panjang. Karena itu, pendekatan keamanan terhadap Beijing menjadi sangat ketat.

“Amerika melihat China bukan ancaman regional biasa. Mereka melihat Beijing sebagai calon pengganti hegemoni global AS,” katanya.

Lebih jauh, Amir menilai insiden ini memperlihatkan bahwa diplomasi tingkat tinggi saat ini sudah sangat dipengaruhi pertimbangan intelijen dan keamanan siber.

“Diplomasi modern sekarang dikendalikan oleh aparat keamanan nasional. Bahkan gesture simbolik seperti hadiah pun diperlakukan sebagai potensi ancaman,” ucapnya.

Ia juga menyoroti ironi di balik kunjungan tersebut. Di depan kamera, kedua pemimpin dunia tampak akrab dan saling memuji. Namun di belakang layar, masing-masing aparat keamanan memperlakukan pihak lawan dengan tingkat kewaspadaan maksimal.

“Inilah wajah geopolitik global hari ini. Senyum diplomatik tetap dipertontonkan, tetapi rasa saling percaya hampir nol,” katanya.

Menurut Amir, tindakan delegasi AS juga bisa dibaca sebagai pesan politik terselubung kepada China bahwa Washington tidak akan lengah sedikit pun dalam menghadapi kebangkitan Beijing.

“Itu simbol bahwa Amerika sedang mengirim sinyal psikologis: kami tidak percaya kepada Anda,” ujar Amir.

Ia menambahkan, ketegangan semacam ini kemungkinan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan, terutama menjelang perebutan dominasi teknologi global.

“Persaingan AS-China ke depan bukan hanya soal perdagangan atau tarif. Ini perebutan masa depan dunia, siapa yang menguasai teknologi, data, AI, energi, dan sistem keuangan global,” tuturnya.

Amir juga menilai negara-negara berkembang seperti Indonesia harus cermat membaca situasi tersebut agar tidak terjebak dalam pusaran konflik dua kekuatan besar dunia.

“Negara-negara middle power harus pintar menjaga keseimbangan. Jangan sampai terseret terlalu jauh dalam blok geopolitik tertentu,” katanya.

Ia memperingatkan bahwa rivalitas AS-China berpotensi memunculkan fragmentasi global baru, termasuk pemisahan ekosistem teknologi dan ekonomi dunia.

“Dunia bisa masuk era digital bipolar. Satu kubu memakai sistem teknologi China, satu lagi memakai sistem Barat,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Amir menilai insiden pembuangan barang dari China oleh delegasi AS menjadi simbol kecil dari pertarungan besar dua negara adidaya yang kini sedang berlangsung diam-diam di berbagai lini.

“Perang hari ini tidak selalu menggunakan peluru. Kadang dimulai dari chip, data, aplikasi, perangkat elektronik, sampai benda-benda kecil yang dianggap biasa,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *