MoneyTalk.id, Jakarta– Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha mengungkapkan bahwa gejolak energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah memberikan tekanan besar terhadap fiskal Indonesia sebagai negara net importir minyak.
Hal itu disampaikannya saat diwawancarai Pemimpin Redaksi INAnews TV, Helmi Romdhoni, dalam program Prime Time, Selasa (26/5/2026).
Satya menjelaskan, harga energi tidak semata ditentukan oleh mekanisme pasar, melainkan sangat dipengaruhi dinamika geopolitik global. Konflik di Yaman, Irak, hingga Libya terbukti mendorong kenaikan harga minyak yang jauh melampaui asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Kalau misalkan kenaikan daripada harga minyak 1 dolar saja, maka defisitnya hampir sekitar 6 triliun rupiah. Dan kalau kurs naik 100 rupiah, defisitnya 0,8 triliun. Jadi bisa dibayangkan,” ujarnya.
Kondisi itu diperparah oleh kesenjangan antara produksi dan konsumsi minyak dalam negeri. Indonesia saat ini hanya memproduksi sekitar 605 ribu barel per hari, sementara kebutuhan nasional mencapai 1,6 juta barel per hari. Artinya, sekitar 1 juta barel per hari masih harus dipenuhi melalui impor.
Di tengah tekanan tersebut, Satya mengapresiasi langkah diplomasi Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya sebagai terobosan luar biasa.
Indonesia berhasil membuka peluang impor minyak mentah dari Rusia dengan harga diskon hingga 35 persen di bawah harga pasar, sesuatu yang sebelumnya sulit terwujud lantaran Rusia berada di bawah sanksi Amerika Serikat.
“Ini satu momen yang tidak bisa kita dapat setiap saat. Pak Prabowo melobi ke Amerika, tapi juga berkunjung ke Rusia beberapa kali. Itu tentunya tidak lepas dari upaya beliau untuk menyelamatkan kepentingan-kepentingan vital Indonesia,” kata Satya.
Ia menambahkan, bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS turut membuka ruang gerak diplomasi energi yang lebih luas, sembari tetap menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat.
Strategi diversifikasi impor juga tengah dijalankan, mengingat sekitar 25–36 juta barel per tahun sebelumnya berasal dari Arab Saudi yang posisinya berdekatan dengan wilayah konflik.





