Hatta Taliwang Analisis Gaya Bicara Prabowo: Bahasa Rakyat Bertemu Kultur Militer

  • Bagikan
Direktur Eksekutif Soekarno-Hatta Institute, Hatta Taliwang

MoneyTalk id, Jakarta – Gaya komunikasi Presiden Prabowo Subianto menjadi perhatian dari perspektif sosiolinguistik. Cara Prabowo berbicara di ruang publik dinilai mempertemukan sejumlah ragam bahasa, mulai dari bahasa Indonesia resmi, kosakata militer, bahasa pergaulan Jakarta, hingga retorika politik yang menggunakan kata-kata konkret dan ekspresif.

Pandangan tersebut disampaikan Dr. M. Hatta Taliwang dalam tulisannya berjudul “Mencermati Gaya Bahasa Presiden Prabowo: Antara Ragam Jakarta, Register Militer, dan Retorika Politik Populer”. Menurutnya, gaya tutur Prabowo tidak tepat jika hanya disederhanakan sebagai gaya bahasa Betawi.

Hatta menjelaskan, dalam sejumlah pidato publik, Prabowo menggunakan bentuk kolokial seperti “gue” dan “lu”, sekaligus kosakata yang sangat langsung seperti “maling” dan “nyolong”. Di sisi lain, Prabowo juga tetap menggunakan bahasa resmi kenegaraan dan pola komunikasi yang dipengaruhi pengalaman panjangnya di lingkungan militer.

“Gaya Prabowo tampaknya bukan produk satu dialek, melainkan hasil pertemuan beberapa repertoar komunikasi,” demikian inti analisis Hatta mengenai gaya komunikasi Prabowo, Jumat (25/9/2026).

Repertoar tersebut mencakup lingkungan keluarga elite-intelektual, pengalaman internasional, bahasa pergaulan Jakarta, budaya komunikasi militer, serta teknik komunikasi politik kepada massa.

Salah satu ciri yang terlihat dalam komunikasi publik Prabowo adalah penggunaan bahasa yang relatif langsung. Istilah birokratis seperti “penyimpangan”, “ketidakefisienan” atau “penyelewengan pengelolaan keuangan” dalam sejumlah kesempatan dapat diganti dengan istilah sehari-hari seperti “maling”, “nyolong” atau “akal-akalan”.

Hatta mencatat, dalam sambutan pada PENAS Petani dan Nelayan XVII 2026, transkrip Sekretariat Negara merekam penggunaan ungkapan “sopan-sopan tetap maling” serta pembicaraan mengenai uang yang “nyolong dari rakyat”.

Namun, menurut Hatta, gaya langsung tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa Prabowo menggunakan bahasa Betawi. Prabowo sendiri dalam pidatonya menyatakan bahwa cara berbicara perlu disesuaikan dengan siapa yang menjadi pendengarnya.

Karena itu, penggunaan bahasa yang lebih keras dan lugas dapat dibaca sebagai strategi komunikasi yang disesuaikan dengan audiens. Dalam teori audience design Allan Bell, seorang penutur memang dapat mengubah gaya bahasa sebagai respons terhadap karakter pendengarnya.

Penggunaan kata “gue” dan “lu” juga menjadi salah satu ciri yang menonjol dalam komunikasi Prabowo. Bentuk tersebut sangat diasosiasikan dengan percakapan Jakarta dan memiliki makna sosial serta regional tertentu.

Hatta mencatat, dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah pada Februari 2026, transkrip resmi mencatat Prabowo menggunakan kalimat “lu jangan menantang gue lo” ketika berbicara mengenai mantan pimpinan BUMN. Pada September 2026, Prabowo bahkan sempat bercanda mengenai kebiasaannya menggunakan gaya bahasa “lu-gue”.

Meski demikian, penggunaan “lu-gue” oleh seorang presiden tidak berarti menghapus hubungan hierarkis antara dirinya dengan lawan bicara. Menurut Hatta, penggunaan bahasa tersebut lebih tepat dipahami sebagai upaya mengurangi jarak formal.

Fenomena itu dapat dibaca melalui Communication Accommodation Theory Howard Giles. Teori tersebut menjelaskan bahwa seseorang dapat menyesuaikan gaya berbicara untuk memperkecil atau memperbesar jarak sosial dengan lawan bicara.

Ciri lain yang menjadi perhatian adalah kecenderungan Prabowo menggunakan kata-kata konkret untuk menggambarkan persoalan publik.

Ungkapan seperti “ada yang nyolong” dinilai lebih cepat dipahami dibandingkan istilah abstrak seperti “terdapat penyalahgunaan sumber daya publik”. Penggunaan kata “maling” juga secara langsung memberikan gambaran tindakan sekaligus penilaian moral terhadap tindakan tersebut.

Namun, Hatta mengingatkan bahwa bahasa konkret tidak dapat dijadikan ukuran tingkat intelektualitas seseorang. Bahasa sederhana dapat digunakan untuk menyampaikan gagasan kompleks, sementara istilah akademis juga belum tentu menunjukkan kedalaman gagasan.

Dengan demikian, yang lebih penting untuk dianalisis adalah informasi apa yang menjadi lebih mudah dipahami dan nuansa apa yang mungkin hilang ketika persoalan kompleks diterjemahkan menjadi bahasa yang sangat sederhana.

Gaya komunikasi Prabowo juga ditandai dengan humor, celetukan dan perubahan suasana dalam pidato. Ia dapat berpindah dari pembicaraan serius menuju humor, imitasi percakapan atau komentar spontan, kemudian kembali pada agenda utama.

Hatta menyebut pola tersebut membuat pidato Prabowo terasa seperti percakapan langsung dan tidak sepenuhnya seperti pembacaan dokumen resmi. Namun, dari penampilan publik saja tidak dapat diketahui secara pasti bagian mana yang benar-benar spontan dan mana yang telah menjadi kebiasaan retoris.

Keterkaitan humor Prabowo dengan budaya tutur Betawi juga dinilai masih berupa kemungkinan pengaruh, bukan hubungan sebab-akibat yang telah terbukti. Menurut Hatta, pengalaman internasional, keluarga, militer, politik, media dan kehidupan Jakarta kemungkinan saling bertumpuk dalam membentuk gaya komunikasi Prabowo.

Selain lingkungan Jakarta, pengalaman panjang Prabowo di militer dinilai menjadi unsur penting dalam membentuk gaya komunikasinya.

Prabowo masuk AKABRI pada 1970 dan kemudian menjalani karier militer selama lebih dari dua dekade hingga 1998. Lingkungan militer memiliki struktur hierarkis, kosakata khusus serta kebutuhan komunikasi yang jelas dan efektif.

Hatta mengutip penelitian mengenai register taruna Akademi Militer yang menemukan karakter bahasa singkat, padat dan tegas. Karakter tersebut dapat menjadi salah satu penjelasan ketika dalam pidato Prabowo muncul kalimat pendek, bentuk imperatif, pengulangan instruksi atau penekanan yang kuat.

Meski begitu, pengalaman militer tidak berarti Prabowo selalu berbicara dengan gaya komando. Ia tetap dapat mengubah gaya bahasa ketika tampil dalam forum diplomatik, rapat pemerintahan, kegiatan partai maupun acara massa.

Hatta melihat adanya fenomena menarik dalam gaya komunikasi Prabowo. Dari sisi biografi, Prabowo memiliki latar keluarga elite, pendidikan internasional, pengalaman militer tingkat tinggi, bisnis dan politik nasional.

Namun, dalam komunikasi kepada massa, ia dapat menggunakan bahasa yang sangat kolokial.

Hatta menyebut fenomena tersebut lebih tepat dianalisis sebagai style-shifting, yakni perpindahan gaya bahasa sesuai dengan situasi dan audiens. Seorang kepala negara dapat menggunakan bahasa formal ketika berbicara dalam forum kenegaraan, tetapi beberapa saat kemudian menggunakan “gue”, “lu”, “enggak”, “maling” atau “nyolong” ketika berinteraksi dengan massa.

Menurut Hatta, perubahan tersebut tidak menunjukkan adanya satu dialek tunggal yang menguasai seluruh cara bicara Prabowo. Sebaliknya, hal itu memperlihatkan adanya sejumlah repertoar bahasa yang dapat digunakan sesuai kebutuhan komunikasi.

Pada akhirnya, Hatta menilai penyebutan gaya tutur Prabowo sebagai “bahasa Betawi” terlalu menyederhanakan persoalan.

Secara sosiolinguistik, gaya komunikasi Prabowo lebih tepat dipahami sebagai repertoar bahasa Indonesia yang berlapis, dengan unsur Jakarta Indonesian yang memiliki hubungan historis dengan Betawi, bentuk kolokial perkotaan, gaya tutur personal, jejak register militer dan strategi komunikasi politik kepada masyarakat luas.

Dari sisi fakta biografis, Prabowo lahir di Jakarta, mengalami masa kecil awal di kota tersebut, menjalani sebagian besar pendidikan sekolah di luar negeri, kembali berinteraksi dengan lingkungan Jakarta pada akhir 1960-an, berhubungan dengan Soe Hok Gie, kemudian masuk AKABRI pada 1970 dan menjalani karier panjang di militer. Ia juga masih menggunakan bentuk kolokial seperti “gue”, “lu”, “maling” dan “nyolong” dalam sejumlah pidato publik.

Karena itu, gaya komunikasi Prabowo dapat dilihat sebagai pertemuan antara lingkungan linguistik Jakarta, pengalaman militer yang membentuk kebiasaan komunikasi singkat dan tegas, serta strategi komunikasi politik yang disesuaikan dengan beragam lapisan masyarakat.

Dengan gaya tersebut, seorang tokoh dengan latar sosial elite dapat tampil menggunakan bahasa yang sangat informal ketika berada di depan massa. Fenomena itulah yang membuat gaya komunikasi Presiden Prabowo menarik untuk dikaji dari perspektif bahasa, komunikasi politik dan budaya masyarakat Indonesia.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *