Banyak Setan Kelola Uang Negara

  • Bagikan
Prabowo Pilih Sri Mulyani Jadi Menkeu Lagi, Singkirkan yang Berbeda Mazhab?
Prabowo Pilih Sri Mulyani Jadi Menkeu Lagi, Singkirkan yang Berbeda Mazhab?

MoneyTalk, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan pidato panjang dalam Sarasehan Nasional Ekonomi Syariah yang menyinggung pentingnya tata kelola keuangan negara berbasis keadilan dan nilai syariah. Di hadapan peserta, ia menegaskan bahwa APBN adalah instrumen utama dalam mewujudkan program Presiden Prabowo melalui Asta Cita menuju Indonesia Emas.

Namun, di balik optimisme itu, Sri Mulyani juga melontarkan pernyataan keras:

“Kalau mengelola ekonomi tanpa transparansi, di situ banyak setan. Banyak banget setan irjim,” ujarnya yang disambut tawa dan tepuk tangan peserta.

APBN dan Asta Cita, Pilar Ekonomi Syariah

Menurut Sri Mulyani, APBN bukan sekadar angka, melainkan kendaraan untuk mengantarkan cita-cita keadilan sosial. Ia menjelaskan bahwa anggaran pemerintah pusat tahun ini sebesar Rp133 triliun langsung menyentuh kelompok bawah, terutama melalui perlindungan sosial, bantuan sembako untuk 18 juta keluarga, dan subsidi akses modal bagi UMKM.

“Dalam setiap rezeki dan harta yang kamu dapatkan ada hak orang lain. Cara menyalurkan bisa melalui zakat, wakaf, maupun pajak. Dan pajak kembali lagi untuk mereka yang membutuhkan,” katanya.

Selain perlindungan sosial, APBN juga diarahkan untuk memperkuat kesehatan, pendidikan, pangan, dan energi. Mulai dari pembangunan fasilitas kesehatan di daerah terpencil, pendirian Sekolah Rakyat bagi anak-anak dari keluarga miskin, hingga subsidi pupuk dan bibit pertanian.

Ekonomi Syariah sebagai Instrumen Keadilan

Sri Mulyani menegaskan bahwa substansi keadilan dalam Asta Cita sejalan dengan nilai-nilai ekonomi syariah. Indonesia, kata dia, sudah mencatat capaian penting: pangsa aset keuangan syariah mencapai 51,42%, terutama lewat instrumen sukuk negara.

Ia menambahkan bahwa program besar seperti Koperasi Merah Putih yang digagas Presiden berpotensi menjadi wadah besar penerapan ekonomi syariah di level akar rumput. Dengan dana lebih dari Rp250 triliun yang disiapkan, koperasi ini diharapkan mampu mendorong literasi, inklusi, dan praktik ekonomi halal.

“Setan” dalam Tata Kelola

Pernyataan paling keras muncul saat Sri Mulyani mengaitkan empat karakter Rasulullah sidik, amanah, tablig, dan fatonah sebagai fondasi good governance.

Ia menekankan bahwa tanpa kejujuran (sidik) dan amanah, pengelolaan anggaran raksasa seperti APBN Rp3.800 triliun bisa berubah menjadi alat penzaliman terhadap rakyat miskin.

“Mau pegang duit Rp1 juta, Rp1 miliar, Rp10 triliun, Rp3.800 triliun kayak APBN kalau tidak sidik dan amanah, itu mencederai cita-cita Islam dan menzalimi yang harus kita bela. Dan kalau tidak transparan, pasti banyak setan di situ,” tegasnya.

Sri Mulyani menyebut “setan” dalam arti praktik korupsi, moral hazard, dan penyalahgunaan instrumen keuangan yang merugikan rakyat. Ia mengingatkan bahwa instrumen syariah sekalipun bisa menjadi alat kesengsaraan bila dijalankan tanpa etika.

Di tengah perkembangan teknologi, Menteri Keuangan juga mengingatkan pentingnya kecerdasan (fatonah). Dunia, katanya, bergerak cepat—dari perang konvensional menjadi perang drone, hingga persaingan teknologi ruang angkasa.

“Islam harus punya keresahan terhadap kecerdasan ini. Tanpa ilmu pengetahuan, kita hanya sibuk dengan kata-kata dan program kecil yang tak menyelesaikan persoalan besar bangsa,” ujar Sri Mulyani.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *