Prabowo Simpan Kartu As: Pemakzulan Gibran Bisa Jadi Tekanan untuk Jokowi

  • Bagikan

MoneyTalk,Jakarta – Wacana pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali mencuat. Namun, pengamat politik Ray Rangkuti menilai isu ini bukan sekadar wacana kosong, melainkan kartu as politik yang sengaja disimpan Presiden Prabowo Subianto untuk menekan atau mengendalikan posisi politik Joko Widodo.

Dalam diskusi di Forum Keadilan TV (24/08), Ray menyebut sikap Gerindra tampak ambigu. Mereka tidak terang-terangan menolak, tapi juga tidak mendorong. “Gerindra tidak menutup, tapi juga tidak membuka. Artinya, isu ini tetap hidup. Bisa jadi kapan saja kartu ini dimainkan,” ujar Ray.

Ray menegaskan, isu pemakzulan terhadap Gibran bukan untuk benar-benar dijalankan, melainkan sebagai instrumen negosiasi. “Saya tidak yakin pemakzulan itu serius. Lebih tepatnya, ini dijadikan senjata tekan. Kalau hubungan Jokowi Prabowo berjalan mulus, kartu itu disimpan. Tapi kalau ada gesekan, bisa langsung dibuka,” tegasnya.

Ia mencontohkan kasus Bank Century di era Presiden SBY. Walaupun tidak pernah tuntas, isu itu dipelihara DPR sebagai alat tekan politik. “Skema yang sama bisa dipakai terhadap Gibran. Cukup sekali dipanggil DPR lewat pansus, wibawa Gibran sudah terguncang,” kata Ray.

Menurut Ray, posisi ini menempatkan Jokowi dalam situasi sulit. Selama Gibran jadi “titik lemah” di pemerintahan, Jokowi tidak bisa leluasa. “Prabowo justru diuntungkan. Dengan kartu pemakzulan di tangan, ia bisa menjaga Jokowi agar tetap berada dalam garisnya,” ucapnya.

Meski Golkar sempat menyatakan penolakan di rapat paripurna, Ray melihat itu bukan jaminan isu ini mati. “Partai lain bisa berpikir berbeda. Justru semakin lama isu ini digantung, semakin besar nilainya untuk dijadikan tawar-menawar politik,” tambahnya.

Ray mengingatkan Prabowo agar berhati-hati. Politik hari ini tidak lagi berjalan bertahap. “Isu bisa langsung meloncat dari DPR ke jalanan. Kalau tidak ada oposisi formal, ledakan politik bisa meledak di luar sistem,” jelasnya.

Ia menekankan, demokrasi akan semakin rapuh jika semua kekuatan politik hanya sibuk berebut kursi kekuasaan. Tanpa oposisi, kata Ray, laporan-laporan yang masuk ke presiden hanya berisi cerita indah yang tidak sesuai realita. “Semua terlihat besar di atas, tapi rapuh di dalam. Itu berbahaya,” tandasnya.

Bagi Ray, kunci menjaga keseimbangan demokrasi ada pada keberanian partai politik terutama PDIP untuk mengambil sikap oposisi. “Kalau semua larut dalam kekuasaan, demokrasi kehilangan pengawas. Justru oposisi yang akan menyelamatkan bangsa dari jebakan politik ‘asal bapak senang’,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *