MoneyTalk, Jakarta – Aktivis Relawan Jokowi 2 Periode (RJ2P), Relly Reagen, menilai pencopotan Budi Arie Setiadi dari jabatan Menteri Koperasi dan UKM tidak lepas dari isu loyalitas. Menurutnya, Budi Arie dianggap tidak lagi menunjukkan kesetiaan kepada Presiden Jokowi, sosok yang telah membesarkannya.
“Kalau sudah diberi kepercayaan, ya harus loyal. Jangan ketika dilepas malah menyerang balik. Itu catatan penting buat siapa pun yang pernah diberi kesempatan oleh Jokowi,” tegas Relly dalam podcast Zulfan Lindan Unparking (15/09).
Relly mengingatkan, kesetiaan adalah kunci dalam politik tingkat tinggi. Ia mencontohkan bagaimana Prabowo Subianto selalu dikelilingi orang-orang yang setia sejak masa TNI hingga kini menjabat Presiden. “Makanya saya salut sama Pak Prabowo, beliau sangat menjaga loyalitas. Orang-orang yang mendampinginya tetap setia, dan itu yang dibawa ke kabinet,” ujarnya.
Terkait kasus Budi Arie, Relly menyebut ada dua faktor utama. Pertama, isu negatif yang berkembang di publik soal dugaan judi online yang mencatut namanya, meskipun belum ada proses hukum yang membuktikan. “Di media sosial, framing itu sudah terbentuk. Itu bisa membebani kabinet Pak Prabowo,” katanya.
Kedua, soal arah politik. Relly mengungkap momen ketika Jokowi dalam Kongres PSI menanyakan kesiapan Budi Arie. Namun belakangan, Budi justru menyatakan akan bergabung ke Gerindra. “Itu sebenarnya tes kesetiaan. Pertanyaannya: lu setia enggak sama Jokowi? Ternyata jawabannya tidak. Jadi wajar kalau akhirnya dicopot,” tutur Relly.
Ia menilai, langkah itu bukan sekadar hukuman, tapi juga pesan keras bagi para elite politik: jangan sampai salah memilih orang dekat (think tank). “Belajarlah dari pengalaman Pak Jokowi. Salah pilih think tank, ujungnya bisa jadi musuh sendiri. Itu yang harus dihindari Mas Gibran di masa depan,” jelasnya.
Relly menambahkan, sebagai wakil presiden muda, Gibran harus berhati-hati dalam memilih lingkaran dekatnya. Loyalitas dan kesetiaan adalah harga mati. “Jangan sampai ada orang yang dulu dibesarkan, diberi jabatan, tapi kemudian menikam dari belakang. Kalau setia kepada orang yang membesarkan saja tidak bisa, jangan bicara setia kepada bangsa,” tandasnya.
Lebih jauh, Relly mengajak semua pihak menghentikan upaya memecah belah antara Jokowi, Prabowo, dan Gibran. “Mandat rakyat 58% itu untuk semua, bukan hanya pemilihnya. Jadi jangan buat gaduh. Bersatulah untuk membangun bangsa,” tutupnya.





