MoneyTalk, Jakarta – Ekonom Awalil Rizky kembali melontarkan peringatan keras soal krisis industri tekstil nasional yang kian parah. Dalam kanal YouTube-nya pada Sabtu (20/09), ia menyebut gelombang PHK massal sudah menghantui dari operator pabrik hingga tenaga ahli dan manajemen menengah.
“Ini masalah kasat mata. Bukan sekadar isu bank atau dana cair, tapi soal jutaan pekerja yang terancam hidupnya,” tegas Awalil.
Menurut data Ikatan Alumni Institut Teknologi Tekstil (IKA Tekstil), banjir produk impor murah baik legal maupun ilegal menjadi biang kerok. Harga barang lokal kalah 35–40% dibanding produk asing. Biaya energi mahal, logistik ruwet, hingga SDM yang tak disokong pemerintah ikut memperparah keadaan.
“Yang ilegal itu seharusnya segera diberantas! Kalau tidak, industri kita habis digilas impor,” tambah Awalil dengan nada gusar.
Ketua IKA Tekstil, Riadi Maryadinata, menegaskan bahwa PHK kini tak hanya menimpa buruh biasa, melainkan juga profesional dan manajer menengah. Bahkan banyak alumni tekstil terpaksa mencari nafkah ke luar negeri karena industri TPT dalam negeri mati suri.
Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi, Nandi Herdiaman, mendesak Kementerian Perindustrian membuka data siapa penerima kuota impor. “Kalau tidak transparan, ini permainan kotor!” katanya.
Awalil menyoroti bahwa kapasitas produksi nasional sejatinya sanggup memenuhi kebutuhan dalam negeri hingga 2,8 juta ton per tahun. Namun karena kebijakan lemah, pasar domestik malah dibanjiri barang asing.
“Kalau pemerintah tak segera membatasi impor dan menindak penyelundupan, jangan harap industri ini bisa rebound. 3,5 juta pekerja terancam kehilangan masa depan!” seru Awalil.
Ia pun mengingatkan, tanpa keberpihakan serius pemerintah, industri tekstil yang dulu jadi kebanggaan manufaktur nasional akan tinggal sejarah.





