Pemerintah Membiarkan PMA Menguasai Sektor Strategis Ekonomi Kita

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Salah satu kekurangan terbesar dalam strategi industri Indonesia adalah dominasi perusahaan asing dalam rantai nilai yang sedang berkembang. Tidak ada kebijakan khusus yang mendorong keterlibatan perusahaan lokal dalam investasi ini.

Penanaman Modal Asing (PMA) terutama China telah menguasai sektor strategis hingga mematikan pengusaha lokal adalah masalah yang kompleks, di mana modal asing besar berpotensi mendominasi pasar dan mengancam keberlangsungan pengusaha lokal.

Sektor yang memiliki keterbatasan bagi investor asing dan sektor yang dibuka bersyarat dengan batasan kepemilikan asing diatur dalam daftar negatif investasi, yang penting untuk dipahami oleh pengusaha dan investor lokal.

Hal ini juga menjadi potensi ancaman bagi pengusaha lokal. Dominasi Pasar Perusahaan asing dengan modal besar dan teknologi canggih dapat mendominasi pasar, sehingga mengalahkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.

Tidak hanya itu, data kami menemukan bahwa banyak dari mereka yang tidak tertib administrasi. Perijinan banyak diabaikan seperti IMB, Amdal, bahkan ada dari beberapa mereka yang tidak taat pajak. Tentu hal ini sangat merugikan, sebab jelas tidak memberikan kontribusi pada negara.

Sementara para pengusaha lokal yang tertib administrasi taat membayar pajak, dan semua perijinan dipenuhi bisa kalah saing. Ini menjadi permasalahan yang kompleks yang harus dibenahi oleh negara. Jangan sampai monopoli asing telah memberangus keberadaan pengusaha lokal dengan cara memainkan harga yang jauh dibawah pasar.

Seperti contoh pada industri manufaktur dan konstruksi hampir semua dikuasai asing. Persoalan hulu yang sudah mereka kuasai sehingga di hilir banyak pengusaha lokal yang berteriak karena kalah saing.

Aparat penegak hukum juga cenderung tutup mata terhadap sejumlah ijin yang tidak dimiliki oleh perusahaan PMA tersebut. Seperti adanya PMA yang menguasai produksi hebel dibeberapa daerah seperti Banyumas, Tegal maupun Jombang.

Di Tegal, perusahaan PMA yakni PT Mitra Sentra Manunggal, di Banyumas PT Inovasi Nusantara Sentosa dan di Jombang perusahaan asing PT. Platinum Cemerlang Indonesia (PCI) yang memproduksi hebel dengan hasil penjualan di bawah harga. Mau tidak mau, perusahaan kecil akan tergerus (tidak bisa melawan pasar). Begitupun dengan yang di Banyumas dan Jombang.

Perusahaan-perusahaan yang memproduksi hebel tersebut, selain menjual dengan harga di bawah pasar, juga mengabaikan seperti IMB, Amdal, bahkan ada dari beberapa mereka yang tidak taat pajak.

Seharusnya pemerintah yang punya banyak program untuk masyarakat, harus memperhatikan juga pengusaha kecil dan menengah agar mereka tetap dapat bersaing sehat agar tetap bisa eksis.

Program pemerintah salah satunya pengadaan 3 juta rumah melalui  Kementerian Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PKP) jikalau ini melibatkan pengusaha kecil dan menengah untuk pengadaan hebel dan lain-lain pastinya ekonomi akan membaik. Jadi intinya tidak dimonopoli sama perusahaan asing.

Menanggapi permasalahan tersebut, Direktur Center Of Budget (CBA) Uchok Sky Khadafi mengungkapkan, PMA selalu meminggirkan perusahaan lokal agar bisa menguasai sumber daya alam, modal, pekerja yang murah.

“PMA selalu dilindungi dan dibekingi oleh pemerintah agar arus investasi bisa terus masuk ke Indonesia. Mau bisnis apapun PMA selalu diberi karpet merah tanpa perduli dengan UMKM, atau pengusaha lokal,” ucap Uchok melalui pesan WhatsApp.

Uchok juga menyoroti bahwa memang PMA itu ahli dalam manipulasi pajak agar mereka dapat untung besar, dan untuk membayar dugaan upeti kepada ‘beking-beking’ dari aparat pemerintah yang dekat dengan mereka.

“Sebaiknya pemerintah membatasi peran PMA. Kalau ada produk lokal yang sedang berkembang, PMA tidak boleh masuk ke bisnis tersebut,” ujarnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *