MoneyTalk,Jakarta – Perombakan kabinet merah putih jilid II yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan besar publik, netizen, hingga lingkar elite politik nasional. Sejumlah pos strategis mengalami pergeseran, termasuk kursi Menko Polhukam yang kini ditempati Jamari Chaniago, menggantikan pejabat lama.
Menurut Mardigu Wowiek dalam kanal YouTube-nya (23/09), langkah ini bukan sekadar rotasi biasa, melainkan penegasan arah konsolidasi politik baru. Penunjukan Jamari Chaniago yang dikenal memiliki reputasi kuat di bidang intelijen dan operasi strategis, dinilai sebagai langkah tepat menghadapi tantangan geopolitik dan ancaman cyber.
“Prabowo butuh figur yang punya kecakapan analitik dan jejaring intelijen mumpuni. Ini sinyal bahwa presiden ingin memperkuat koordinasi politik dan keamanan,” ujar Mardigu.
Perubahan ini semakin kentara dengan pencopotan Hasan Hasbi, Kepala PCO yang kerap dikaitkan dengan lingkaran Geng Solo kelompok politik yang disebut-sebut berpengaruh pada era Jokowi.
Mardigu menilai, langkah ini merupakan pesan simbolis: Prabowo ingin mengurangi pengaruh kelompok lama dan memberi ruang keseimbangan baru.
Namun, sejumlah nama kontroversial justru masih dipertahankan dalam kabinet. Netizen ramai mempertanyakan mengapa Erick Thohir, Tito Karnavian, dan Kapolri Listyo Sigit masih bertahan.
Erick Thohir dianggap meninggalkan jejak buruk di BUMN, mulai dari tumpukan utang, bancakan proyek IKN, hingga dugaan kedekatan dengan oligarki.
Tito Karnavian dikritik karena kebijakan transfer pulau dari Aceh ke Sumut yang memicu kemarahan rakyat Aceh.
Kapolri Listyo Sigit dipandang terlalu loyal pada Jokowi, dengan rekam jejak kasus Sambo, perang bintang di Polri, hingga dugaan bisnis tambang dan narkoba.
“Selama Sigit masih bercokol, bayangan Jokowi di tubuh Polri akan terus ada. Bagaimana mungkin Prabowo bisa benar-benar mandiri?” tegas Mardigu, mengutip komentar yang ramai di sosial media.
Bom Waktu Dalam Kabinet
Mardigu mengingatkan, mempertahankan figur-figur warisan Jokowi bisa menjadi “bom waktu” bagi pemerintahan Prabowo. Cepat atau lambat, bom tersebut akan meledak jika tidak segera dinetralisir.
“Presiden mungkin punya pertimbangan politik, menimbang keseimbangan kekuasaan. Tapi publik juga berhak mengingatkan, bom waktu tidak bisa selamanya dibiarkan. Reformasi sejati hanya bisa berjalan jika keberanian menyingkirkan beban lama benar-benar diwujudkan,” kata Mardigu.
Ia menutup dengan optimisme bahwa rakyat masih percaya Prabowo mampu mengambil keputusan berani.
“Rakyat yakin Prabowo bisa. Peace.”





