Disanksi IOC Gegara Israel, Pengamat Intelijen dan Geopolitik: Prabowo Bisa Buat Olimpiade Tandingan seperti Bung Karno

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Dunia olahraga dan politik kembali bersinggungan setelah keputusan tegas Presiden Prabowo Subianto menolak kehadiran atlet senam Israel dalam Kejuaraan Dunia Senam Artistik di Jakarta berujung pada sanksi dari Komite Olimpiade Internasional (IOC). Namun, di balik sorotan global itu, muncul pandangan strategis dari pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah yang menilai langkah Prabowo justru membuka peluang lahirnya momentum baru dalam konstelasi politik global mirip dengan manuver bersejarah Presiden Soekarno pada awal 1960-an.

Amir Hamzah menilai, keputusan Prabowo memiliki kesamaan ideologis dan geopolitik dengan langkah Bung Karno saat menjadi tuan rumah Asian Games IV tahun 1962. Kala itu, Soekarno menolak memberikan visa bagi atlet Israel dan Taiwan (yang saat itu masih mengklaim sebagai perwakilan seluruh Tiongkok), hingga membuat Indonesia dijatuhi sanksi oleh IOC.

Sebagai respons, Bung Karno mencetuskan GANEFO (Games of the New Emerging Forces) pada 1963—sebuah “olimpiade tandingan” yang menjadi simbol perlawanan Dunia Ketiga terhadap dominasi Barat.

“Prabowo bisa melakukan hal yang sama dengan menegakkan kembali kedaulatan moral dan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif,” ujar Amir.

Menurutnya, jika GANEFO dulu menjadi alat diplomasi anti-imperialisme, maka Prabowo berpotensi menciptakan “GANEFO 2.0” dalam konteks baru: olimpiade dunia multipolar, di mana negara-negara non-Barat menegakkan sportivitas tanpa tekanan ideologis atau politik.

Amir Hamzah menekankan, dalam analisa intelijen, kebijakan penolakan terhadap atlet Israel bukan semata soal agama atau sentimen politik jangka pendek, tetapi mencerminkan sinyal kedaulatan strategis Indonesia.

“Ini langkah yang dikalkulasi. Prabowo memahami bahwa tekanan geopolitik global pasca perang Gaza dan agresi Israel ke Palestina telah membentuk poros baru kekuatan dunia. Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar, punya posisi moral yang kuat,” jelas Amir.

Ia menambahkan bahwa keputusan Prabowo juga menunjukkan “independensi intelijen negara” yang mulai lepas dari orbit pengaruh Barat.

“Ini bukan kebijakan impulsif, tetapi hasil analisis mendalam bahwa legitimasi politik global Barat sedang menurun. Menolak Israel bukan hanya soal solidaritas Palestina, tapi simbol kebangkitan dunia non-Barat,” ujarnya.

Amir Hamzah mengingatkan bahwa Prabowo bukan figur yang asing di arena diplomasi global.

“Prabowo adalah saksi langsung dari peristiwa penting di Timur Tengah. Ia pernah hadir dalam momen penandatanganan perdamaian Israel-Palestina di Mesir. Ia memahami anatomi konflik dan strategi global yang melingkupinya,” kata Amir.

Menurut dia, pengalaman Prabowo berinteraksi dengan tokoh-tokoh dunia membuatnya memahami politik kekuasaan global (realpolitik). Maka, ketika Donald Trump pernah memuji langkah diplomasi Prabowo, hal itu bukan tanpa alasan.

“Trump melihat Prabowo sebagai pemimpin dengan naluri strategis. Ia bisa menyeimbangkan idealisme dan pragmatisme, bahkan di tengah tekanan Barat,” lanjut Amir.

Amir Hamzah memprediksi, jika Prabowo benar-benar menolak tunduk pada tekanan IOC dan menggagas alternatif global baru dalam dunia olahraga, maka Indonesia akan menarik dukungan luas dari negara-negara BRICS, OKI, dan Dunia Selatan (Global South).

“Bayangkan jika negara seperti Rusia, Tiongkok, Iran, Arab Saudi, Brasil, bahkan Afrika Selatan mendukung gagasan olimpiade alternatif. Itu bukan hanya tentang olahraga, tapi tentang pergeseran tatanan dunia,” ujarnya.

Menurut Amir, keputusan seperti ini akan mempercepat pergeseran pusat gravitasi kekuasaan dunia dari Barat ke Asia dan Selatan Global.

“Indonesia bisa menjadi pusat baru diplomasi olahraga dunia dengan prinsip kemanusiaan dan keadilan, bukan dominasi,” katanya.

Namun, Amir juga mengingatkan bahwa langkah Prabowo bukan tanpa risiko. Tekanan ekonomi, diplomatik, hingga boikot bisa saja terjadi.

“Tapi justru di sinilah ujiannya. Bung Karno dulu diserang habis-habisan secara ekonomi dan politik setelah GANEFO, namun ia menang secara moral dan ideologis. Jika Prabowo mampu menjaga konsolidasi nasional, ia akan masuk sejarah sebagai pemimpin yang menegakkan kedaulatan di tengah tekanan global,” tegas Amir.

Ia juga menilai, reaksi IOC terhadap Indonesia justru membuka mata publik dunia bahwa olahraga internasional telah terpolitisasi oleh kepentingan negara-negara besar.

“Penolakan Indonesia terhadap Israel adalah ujian moral dunia olahraga. Kalau Olimpiade ingin bersih dari politik, kenapa mereka tak menegur Israel saat membombardir Gaza?” tanya Amir.

Bagi Amir Hamzah, Prabowo kini berada di persimpangan sejarah yang sama dengan Bung Karno 60 tahun lalu.

“Satu keputusan bisa mengubah arah sejarah bangsa. Jika Bung Karno membangun GANEFO untuk Dunia Ketiga, maka Prabowo bisa membangun Olimpiade Dunia Merdeka untuk Dunia Multipolar,” tegasnya.

Langkah tegas Prabowo dalam kasus ini bukan sekadar keputusan politik olahraga, melainkan manifesto kedaulatan bangsa di tengah tekanan geopolitik global yang semakin tajam. Dan seperti kata Amir Hamzah, “Kadang, sejarah memang menunggu satu pemimpin yang berani menolak tunduk.”

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *