MoneyTalk, Jakarta – Pengamat sosial politik sekaligus pegiat demokrasi, Yusuf Blegur, melontarkan kritik tajam terhadap kondisi kepemimpinan nasional melalui sebuah pernyataan bernuansa satir berjudul “Si Cungkring dan Si Gemoy, Pasangan Tak Berkesudahan”.
Dalam narasi puitis yang disampaikannya dari Bekasi Kota, Yusuf menggambarkan dua sosok pemimpin dengan karakter berbeda namun memiliki tujuan yang sama, yakni kekuasaan dan pengaruh.
Menurut Yusuf, kedua tokoh yang ia sebut sebagai “Si Cungkring” dan “Si Gemoy” merupakan simbol dari praktik politik yang sarat kepentingan pribadi, jauh dari semangat pengabdian kepada rakyat.
“Si Cungkring sukanya blusukan, Si Gemoy terbiasa pada penculikan, ups maaf maksudnya pemberontakan. Keduanya beda dalam kebiasaan tapi sama dalam tujuan,” tulis Yusuf dalam pernyataannya, Rabu (22/4/2026).
Ia menilai, keduanya memiliki pola yang sama dalam menjalankan kekuasaan, yakni haus jabatan dan kekayaan, serta menjadikan rakyat hanya sebagai objek politik.
“Selain lapar pengaruh, keduanya juga haus kekuasaan. Satu ketika pernah berlawanan, tak butuh waktu lama menjalin keakraban,” lanjutnya.
Yusuf juga menyoroti inkonsistensi antara ucapan dan tindakan para elite tersebut. Menurutnya, pidato yang disampaikan kerap berujung pada kebohongan dan manipulasi politik.
“Kebiasaan yang tak terbantah dari keduanya, beda ucapan beda tindakan. Pidato keduanya selalu berujung kebohongan,” tegasnya.
Ia menilai, kepemimpinan seperti itu tidak lahir dari semangat pengabdian, melainkan hanya demi kesenangan pribadi dan kepentingan kelompok tertentu.
Dalam kritiknya, Yusuf menyebut kondisi tersebut sangat memprihatinkan karena rakyat harus menanggung penderitaan akibat praktik kekuasaan yang menurutnya dibangun dari kecurangan dan pengkhianatan.
“Sungguh miris nasib rakyat, harus mengalami penderitaan dan kesengsaraan. Lahir dari kecurangan dan kejahatan, rakyat pasrah memiliki pemimpin penuh kepalsuan,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyebut bahwa figur-figur seperti itu menjadi representasi dari kebiadaban politik yang terus berlangsung tanpa akhir.
“Si Cungkring dan Si Gemoy representasi kebiadaban, pasangan kedzoliman tak berkesudahan,” tutup Yusuf.





