MoneyTalk, Jakarta – Ekonom senior Amerika Serikat (AS) dan Guru Besar Universitas Johns Hopkins, Steve Hanke, kembali menyoroti kondisi ekonomi Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Melalui pernyataannya di media sosial, Hanke menilai program makan bergizi gratis senilai sekitar US$15 miliar yang menjadi program unggulan Prabowo telah menimbulkan tekanan terhadap anggaran negara.
“Program makan sekolah gratis Presiden Indonesia Prabowo senilai US$15 miliar menyebabkan tekanan anggaran,” tulis Hanke, Jumat (12/6/2026).
Ia menambahkan bahwa persoalan program tersebut tidak hanya terkait pembiayaan, tetapi juga munculnya kasus keracunan makanan dan dugaan korupsi yang mencuat dalam pelaksanaannya.
“Jika itu belum cukup buruk, program tersebut juga menjadi sumber kasus keracunan makanan dan korupsi,” lanjutnya.
Menurut Hanke, kondisi tersebut menunjukkan pemerintah mulai kehilangan kendali fiskal yang pada akhirnya memengaruhi kepercayaan pelaku pasar terhadap ekonomi Indonesia.
“Prabowo sedang kehilangan kendali fiskal. Hal itu menciptakan masalah kepercayaan dan membuat rupiah terus terpuruk,” tegasnya.
Pernyataan Hanke muncul di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap kondisi fiskal Indonesia. Sejumlah laporan internasional menyebut program makan bergizi gratis menghadapi tantangan berupa pembengkakan biaya, kasus keracunan makanan, hingga penyelidikan dugaan korupsi terhadap sejumlah pejabat yang terlibat dalam pelaksanaannya.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk melanjutkan program tersebut dengan melakukan pembenahan tata kelola dan pengawasan yang lebih ketat. Presiden Prabowo juga telah menegaskan tidak akan mentolerir praktik korupsi dalam program unggulannya tersebut.
Pernyataan Steve Hanke diperkirakan akan kembali memicu perdebatan mengenai keberlanjutan fiskal program-program populis pemerintah serta dampaknya terhadap stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan investor global terhadap Indonesia.





