MoneyTalk, Jakarta – William Sudhana melalui kanal YouTube-nya, Kamis (03/10), membahas topik yang hangat terkait ekonomi Indonesia, yaitu fenomena deflasi yang telah terjadi selama lima bulan berturut-turut. Dalam video tersebut, William memaparkan potensi dampak deflasi terhadap kehidupan sehari-hari dan sektor bisnis, serta memberikan pandangannya mengenai kemungkinan Indonesia terjerumus ke jurang resesi, bahkan mungkin lebih buruk dari krisis ekonomi 1998.
Deflasi terjadi ketika harga barang dan jasa menurun dalam jangka waktu yang signifikan. Meskipun penurunan harga tampaknya menguntungkan bagi konsumen, William mengingatkan bahwa situasi ini bisa berbahaya bagi perekonomian secara keseluruhan. Penurunan harga seringkali disebabkan oleh menurunnya permintaan konsumen, yang dapat memengaruhi pendapatan bisnis. Ketika harga produk turun, sementara biaya produksi (COGS – Cost of Goods Sold) tetap sama, profit margin perusahaan akan tergerus. Jika keuntungan terus menurun, perusahaan terpaksa melakukan efisiensi, yang salah satunya melalui pemutusan hubungan kerja (layoff).
William menjelaskan, layoff dapat menyebabkan masyarakat kehilangan pendapatan, yang pada gilirannya menurunkan daya beli mereka. Hal ini menciptakan lingkaran setan ekonomi: semakin banyak layoff, semakin sedikit orang yang mampu berbelanja, dan semakin tertekanlah sektor bisnis. Situasi ini sangat memukul kelas menengah ke bawah, kelompok terbesar dalam populasi Indonesia.
William juga membandingkan kondisi saat ini dengan krisis ekonomi 1998, yang ia alami secara langsung. Menurutnya, meskipun kondisi belum sepenuhnya mirip dengan 1998, tanda-tanda ke arah sana ada. Permintaan produk konsumsi menurun, terlihat dari penurunan penjualan motor dan mobil yang menjadi indikator penting daya beli masyarakat. Bahkan industri otomotif, yang biasanya menjadi andalan, mengalami penurunan signifikan.
Lebih jauh, William menyebut bahwa data BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan peningkatan klaim dari para pekerja yang terkena dampak layoff. Data ini menjadi sinyal bahwa perekonomian sedang mengalami tekanan yang serius. Banyak pengusaha yang melaporkan tidak mencapai target penjualan, yang semakin memperburuk kondisi.
William menekankan bahwa dalam menghadapi deflasi dan potensi resesi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh masyarakat, khususnya angkatan kerja. Salah satu solusi yang ia tawarkan adalah “skilling up” dan “reskilling,” yaitu memperkuat keterampilan dan kemampuan diri untuk menghadapi tantangan di tempat kerja. Menurutnya, pekerja yang hanya bekerja sesuai perintah atasan tanpa inisiatif lebih besar berisiko tinggi untuk terkena layoff. Sebaliknya, pekerja yang proaktif dalam memberikan kontribusi dan solusi lebih mungkin bertahan.
Di sisi lain, William juga memperingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam jeratan pinjaman online (pinjol) atau perjudian, yang sering kali dianggap sebagai solusi cepat untuk mendapatkan uang. Dia mengacu pada film dokumenter yang menunjukkan bagaimana orang dapat kehilangan segalanya karena kecanduan judi.
William memberikan pesan penting bahwa semua orang harus bersiap untuk menghadapi masa-masa sulit ini. Perusahaan akan berusaha mempertahankan produktivitas dengan biaya seminimal mungkin, yang berarti tuntutan kerja bisa semakin tinggi. William menekankan pentingnya memiliki mentalitas “karyawan” yang tidak hanya bekerja tetapi juga berkontribusi bagi kemajuan perusahaan.
Meskipun tidak ada yang dapat memprediksi dengan pasti bagaimana kondisi ekonomi ke depan, persiapan dan kemampuan beradaptasi adalah kunci. Dalam kondisi ekonomi yang sulit, kesempatan justru akan muncul bagi mereka yang terus mengembangkan diri dan siap menghadapi perubahan.(c@kra)





