MoneyTalk, Jakarta – Ada topik menarik dalam edisi terbaru Seruput Kopi, Selasa (08\10) bersama pengamat politik M. Qodari. Perbincangan semakin mendalam tentang tantangan bangsa Indonesia saat ini serta intrik di panggung politik nasional menjelang pelantikan presiden terpilih, Prabowo Subianto.
Tak hanya isu domestik, M. Qodari juga menyoroti ancaman global seperti pandemi dan potensi perang dunia ketiga. Isu ini menjadi ancaman nyata bagi seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.
Pada pembukaan diskusi, Qodari menyebutkan bahwa Indonesia dan seluruh negara saat ini menghadapi ancaman-ancaman yang jauh lebih kompleks dibandingkan 10-20 tahun yang lalu.
“Pandemi bisa terjadi sewaktu-waktu, seperti COVID-19, yang datang tanpa menunggu ratusan tahun lagi. Kita juga menghadapi potensi ancaman serius lainnya, seperti perang dunia ketiga,” ujar Qodari.
Tantangan-tantangan ini, menurutnya hanya bisa diatasi jika bangsa Indonesia bersatu dan menjaga persatuan serta kesatuan.
Persatuan bangsa, tegasnya, adalah modal utama untuk menghadapi berbagai ancaman tersebut. Jika tantangan besar ini benar-benar terjadi, kebersamaan dan kekompakan akan menjadi kunci bagi Indonesia untuk menavigasi situasi yang sulit.
“Mudah-mudahan itu tidak terjadi, tapi kalau terjadi, kita harus siap dengan persatuan,” tambahnya.
Pembahasan politik kemudian beralih ke hubungan antara Prabowo Subianto, Presiden Jokowi, dan Megawati Soekarnoputri. Qodari memberikan pandangannya mengenai rumor yang beredar bahwa PDI-P, di bawah kepemimpinan Megawati, memiliki syarat tersendiri untuk bergabung dengan kabinet Prabowo. Salah satu isu yang mencuat adalah dugaan bahwa Mega hanya akan masuk ke dalam kabinet jika hubungan Prabowo dengan Jokowi merenggang.
“Banyak yang berspekulasi bahwa jika Prabowo bertemu dengan Mega, itu berarti dia siap meninggalkan Jokowi,” kata Qodari.
Namun, Qodari menegaskan bahwa hal itu sangat tidak mungkin terjadi.
“Prabowo telah berkomitmen terhadap Jokowi, baik dalam hal program-program maupun kontribusi besar Jokowi dalam kemenangan Prabowo,” ujarnya.
Menurut Qodari, Prabowo tidak mungkin meninggalkan Jokowi, karena mereka sudah menyatu dalam visi yang sama, termasuk dalam hal keberadaan Gibran Rakabuming sebagai wakil presiden terpilih.
Isu lain yang menarik perhatian adalah posisi Gibran Rakabuming sebagai wakil presiden terpilih. Beberapa kalangan menilai bahwa Gibran bisa menjadi beban bagi Prabowo. Qodari membantah spekulasi ini dan menyatakan bahwa Gibran sebenarnya sangat berhati-hati dalam menempatkan dirinya dalam berbagai situasi politik.
“Gibran memang cenderung diam dan jarang berbicara, tapi dia bukan orang yang sombong. Dia menahan diri dan mempelajari situasi,” jelasnya.
Qodari juga mengingatkan agar Gibran belajar dari pengalaman Jusuf Kalla (JK) yang dianggap terlalu dominan ketika menjadi wakil presiden.
“Jangan sampai Gibran mengulangi kesalahan Pak JK yang dalam beberapa hal dianggap terlalu maju ke depan, hingga akhirnya tidak dipilih lagi untuk periode kedua,” katanya.
Menurut Qodari, Gibran harus menempatkan dirinya dengan bijaksana dan mengikuti peran yang sesuai dengan yang diberikan oleh Prabowo sebagai presiden.
Isu tentang PDI-P juga tak luput dari diskusi. M. Qodari menyebutkan bahwa meskipun koalisi Indonesia Maju yang mendukung Prabowo sudah sangat kuat dengan 82% kursi di parlemen, ada argumen bahwa oposisi tetap dibutuhkan sebagai saluran bagi suara-suara yang tidak puas dengan pemerintahan.
“Oposisi adalah representasi penting bagi rakyat yang merasa tidak terwakili oleh pemerintah, dan jika PDI-P masuk kabinet, kita mungkin kehilangan fungsi oposisi tersebut,” paparnya.
Bahkan, Qodari menyebut gugatan PDI-P terhadap pencalonan Gibran sebagai wapres menjadi tanda tanya besar.
“Di satu sisi mereka ingin bergabung ke kabinet, tapi di sisi lain mereka menolak Gibran sebagai wapres. Ini penyakit lama PDI-P, mau menterinya tapi tidak mau presidennya,” sindirnya.
Dalam perbincangan yang padat dan penuh wawasan ini, M. Qodari menegaskan bahwa tantangan besar yang dihadapi Indonesia, baik dari ancaman global maupun intrik politik dalam negeri, hanya bisa dihadapi dengan persatuan.
Relasi antara Prabowo, Jokowi, dan Mega, serta posisi Gibran sebagai wapres, menjadi sorotan utama dalam membangun pemerintahan yang solid pasca pelantikan. Namun, peran oposisi juga tak boleh diabaikan demi menjaga keseimbangan politik yang sehat di Indonesia.
Dengan semakin dekatnya pelantikan Prabowo Subianto sebagai presiden, peran PDI-P dan posisi Gibran akan menjadi topik yang terus berkembang, memberikan dinamika baru dalam lanskap politik Indonesia.(c@kra)




