Hilangnya Kaum Aristokrat alias Para Insinyur maka Indonesia akan Terpuruk

  • Bagikan

MoneyTalk,Jakarta – Jumlah profesi insinyur di Indonesia jauh dari harapan. Hal ini dibuktikan data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, pada tahun 2022 terdapat sekitar 1,45 juta Sarjana Teknik (ST), dengan tambahan sekitar 27 ribu ST baru setiap tahunnya.

Rasio ini, jika dibandingkan dengan populasi Indonesia yang melebihi 273 juta jiwa, hanya sekitar 5.300 ST per satu juta penduduk. Angka ini terbilang rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam yang memiliki 9.000 insinyur per satu juta penduduk.

Masalah profesi insinyur inilah yang dibahas di kanal YouTube Podcast PHD 4K pada 19 Agustus 2024. Dan hadir dalam diskusi ini Heru Dewanto, mantan Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

Kali ini membahas masalah tentang penurunan minat generasi muda terhadap profesi teknik, yang berimbas pada semakin sedikitnya insinyur di Indonesia.

Meski banyak lulusan teknik di Indonesia, banyak dari mereka yang kesulitan menemukan pekerjaan di industri.

Hal ini disebabkan oleh kurangnya lapangan kerja yang sesuai dengan keahlian mereka serta rendahnya minat mahasiswa untuk memilih jurusan teknik di perguruan tinggi. Banyak mahasiswa teknik memilih untuk beralih ke jurusan lain yang dianggap lebih menjanjikan secara finansial atau stabilitas karir kata Heru Dewanto

Kemudian sektor industri yang ada di Indonesia juga memiliki teknologi yang relatif rendah dan tidak mampu menampung semua lulusan teknik yang ada. Akibatnya, banyak insinyur yang tidak dapat mengembangkan keterampilan mereka sesuai dengan standar global, tambah Heru Dewanto

Peran insinyur dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sangat penting. Negara-negara maju telah menunjukkan bahwa keberhasilan ekonomi mereka sebagian besar bergantung pada kontribusi sektor industri dan teknologi tinggi yang dikelola oleh insinyur.

Namun, Indonesia menghadapi kegagalan. Karena jumlah Insinyur masih sedikit, dan kualitas insinyur yang ada kurang memadai kapasitasnya.

Maka Salah satu solusi kata Heru Dewanto adalah diusulkan untuk memotivasi mahasiswa teknik untuk memulai usaha mereka sendiri, seperti startup teknologi, untuk menciptakan inovasi dan nilai tambah di sektor industri. Digitalisasi dan kemajuan teknologi menjadi area yang potensial untuk dikembangkan oleh insinyur, yang dapat membantu Indonesia bertransformasi dari ekonomi berbasis konsumsi menjadi ekonomi berbasis produksi dan teknologi.

Untuk mengatasi masalah ini, dibutuhkan kerjasama antara pemerintah, industri, dan lembaga pendidikan untuk menciptakan ekosistem yang mendukung perkembangan profesi teknik. Ini termasuk peningkatan kurikulum pendidikan teknik, peningkatan minat siswa terhadap teknik, dan penyediaan lebih banyak peluang kerja yang relevan, tambah Heru Dewanto.

Hilangnya insinyur alias kaum aristokrat dalam konteks ini mencerminkan krisis dalam profesi insinyur di Indonesia. Untuk mewujudkan cita-cita sebagai salah satu kekuatan ekonomi global, Indonesia perlu mengambil langkah strategis untuk membangkitkan kembali minat dan kualitas insinyur. Tanpa perbaikan dalam aspek ini, Indonesia berisiko terjebak dalam perangkap pendapatan menengah dan kehilangan kesempatan untuk berkembang sebagai negara maju.(c@kra)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *