Kenapa Amerika Sangat Berkuasa?

  • Bagikan
Kenapa Amerika Sangat Berkuasa?
Kenapa Amerika Sangat Berkuasa?

MoneyTalk, Jakarta – Pembicaraan yang sangat menarik antara Mardigu Wowiek dan Helmy Yahya dalam podcast B Media (26 September 2024) mengupas secara mendalam tentang dominasi Amerika Serikat dalam percaturan global. Dalam perbincangan tersebut, sejumlah poin kunci diangkat untuk menjelaskan mengapa Amerika menjadi negara superpower dan terus mendominasi hingga saat ini.

Peran Amerika dalam Konspirasi Global

Mardigu Wowiek menyampaikan konsep tentang dua jenis bencana yang dihadapi dunia saat ini: bencana alam (nature-made disaster) dan bencana buatan manusia (man-made disaster). Salah satu teori yang banyak dibicarakan adalah keterlibatan Amerika dalam berbagai konspirasi besar. Mardigu mengaitkan ini dengan Corruption, Collusion, Nepotism, and Conspiracy (CCCN), di mana Amerika sering dianggap sebagai penggerak utama dalam upaya globalis untuk melemahkan negara-negara lain melalui globalisasi.

Contoh nyata dari teori ini, menurut Mardigu, adalah pandemi COVID-19, yang ia anggap sebagai bencana buatan manusia, hasil dari perencanaan elit global. Amerika, dengan kekuatan politik, militer, dan ekonominya, sering dianggap terlibat dalam konspirasi ini. Hal ini diperkuat dengan pengaruh besar Amerika dalam berbagai lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia, yang berperan dalam pengendalian ekonomi dunia.

Amerika dan Globalisasi

Mardigu juga mengungkapkan bahwa globalisasi dalam tiga dekade terakhir telah melemahkan nasionalisme banyak negara. Dalam konteks ini, Amerika berperan besar melalui pengaruhnya dalam rantai pasokan global (global supply chain). Teknologi, ekonomi, dan bahkan budaya Amerika menjadi faktor yang memperkuat posisi negara ini sebagai penguasa global.

Contohnya, Mardigu menyoroti aplikasi seperti TikTok sebagai alat yang digunakan untuk melemahkan nasionalisme di kalangan generasi muda. Ini merupakan bagian dari strategi untuk mengukuhkan dominasi globalis yang dikendalikan oleh Amerika dan sekutu-sekutunya.

Keberhasilan Amerika dalam Perang Tanpa Militer

Helmy Yahya menambahkan, dominasi Amerika tidak hanya berasal dari kekuatan militer, tetapi juga dari kemampuannya untuk mengendalikan dunia tanpa perlu melakukan invasi fisik. Sejak Perang Dunia II, Amerika lebih mengedepankan perang melalui ideologi, ekonomi, dan teknologi, alih-alih invasi militer langsung. Perang dagang antara Amerika dan Tiongkok, misalnya, merupakan salah satu bentuk dominasi Amerika tanpa perlu melibatkan kekuatan militer.

Dalam perbincangan ini, Donald Trump dipresentasikan sebagai sosok pemimpin nasionalis yang melawan agenda globalisasi, dengan kebijakan proteksionisnya yang fokus pada kepentingan Amerika. Trump dipandang sebagai penolak dominasi globalis dan pendukung nasionalisme Amerika.

Konflik Globalis vs Nasionalis, hal ini juga menyentuh isu konflik ideologis antara nasionalisme dan globalisme. Mardigu menyebutkan bahwa Amerika berada di tengah perang ideologis antara dua kubu ini. Di satu sisi, globalis berusaha menciptakan dunia yang lebih terhubung dan saling bergantung, sementara nasionalis ingin memperkuat kedaulatan negara tanpa campur tangan asing. Amerika memainkan peran kunci dalam dinamika ini, karena posisinya sebagai pemimpin dalam agenda globalis.

Dalam pandangan Mardigu, Donald Trump adalah representasi dari perlawanan nasionalis terhadap pengaruh globalis di Amerika. Kebijakan Trump yang anti-globalisasi dan lebih proteksionis memperkuat posisi kubu nasionalis, yang ingin mempertahankan kedaulatan negara dari campur tangan kekuatan global.

Kekuatan Ekonomi dan Teknologi Amerika

Faktor lain yang menjadikan Amerika begitu dominan adalah kekuatan ekonomi dan teknologinya. Sejak Revolusi Industri, Amerika telah menjadi pusat inovasi global. Penguasaan Amerika atas teknologi, militer, dan energi menjadi alat penting untuk mendominasi dunia. Perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Google, Apple, dan Microsoft adalah contoh nyata dari kekuatan teknologi Amerika yang mendunia.

Mardigu mengaitkan dominasi ini dengan peran kelompok elit global yang menurutnya berakar dari sejarah panjang, termasuk Kesatria Templar. Kelompok kapitalis modern ini, melalui kontrol terhadap inovasi dan teknologi, terus memegang kendali atas ekonomi dunia.

Mengapa Amerika sangat berkuasa, Diskusi antara Mardigu Wowiek dan Helmy Yahya di B Media mengungkap berbagai faktor yang berperan dalam menjadikan Amerika negara superpower. Kekuatan ekonomi, teknologi, dan militer Amerika, serta perannya dalam berbagai konspirasi global, memungkinkan negara ini untuk mempertahankan dominasinya. Selain itu, dalam konflik ideologi antara nasionalisme dan globalisme, Amerika tetap menjadi pusat perhatian, dengan pertarungan antara kedua kubu ini yang akan menentukan masa depan dunia.

Amerika berhasil menciptakan sistem yang menempatkannya di puncak kekuasaan global. Dalam menghadapi tantangan dari negara-negara seperti Tiongkok, dan dengan munculnya teknologi baru seperti mata uang digital, Amerika akan terus memainkan peran sentral dalam mengendalikan dunia.

Diamond, Simbol Cinta yang Diciptakan dan Dominasinya dalam Sejarah Mata Uang Dunia

Pada pertengahan abad ke-19, sekitar tahun 1864, berlian dideklarasikan sebagai simbol cinta. Namun, status berlian ini sebenarnya diciptakan melalui rekayasa sosial dan pemasaran oleh perusahaan besar. Meskipun batu-batu mulia lain juga melimpah, berlian dipilih untuk menjadi yang paling bernilai, berkat kontrol yang ketat atas pasar oleh segelintir pelaku industri, terutama yang berbasis di Afrika Selatan.

Fenomena ini mirip dengan sejarah mata uang dunia. Sekitar 400 tahun yang lalu, sistem perbankan di Italia mulai terbentuk. Puncaknya terjadi pada tahun 1910, ketika pertemuan rahasia di Jekyll Island, Amerika Serikat, yang dihadiri oleh keluarga-keluarga kaya termasuk Rothschild, menyepakati bahwa dolar Amerika akan menjadi mata uang dunia, menggantikan dominasi pound sterling Inggris yang saat itu memegang 80% transaksi global.

Dominasi dolar semakin dikukuhkan dalam Konferensi Bretton Woods tahun 1945, di mana Amerika mengusulkan pembentukan IMF dan Bank Dunia, yang keduanya bermarkas di Washington, memberikan kontrol ekonomi global kepada Amerika Serikat. Hasilnya, dolar kini menguasai sekitar 70% dari seluruh transaksi dunia.

Namun, dengan berkembangnya mata uang digital, dunia mungkin sedang menyaksikan perubahan besar yang bisa menggeser dominasi dolar. Libra, mata uang digital yang diluncurkan Facebook, sempat menjadi ancaman, sebelum akhirnya diblokir oleh banyak negara, termasuk Amerika Serikat.

Ke depan, kekuatan global akan terus menciptakan sistem ekonomi baru sesuai dengan kepentingan mereka. Mata uang digital mungkin menjadi alat baru untuk mengontrol dunia, menggantikan sistem tradisional yang telah lama dikuasai oleh segelintir elit global.(c@kra)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *