MoneyTalk, Jakarta – Tiga Direktur Utama dari Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) Indonesia, yakni Ramdani Basri dari Nusantara Infrastructure, Subakti Syukur dari Jasa Marga, dan Budi Harto dari Hutama Karya. Diskusi ini mengupas tantangan dan peluang dalam pengembangan infrastruktur jalan tol di Indonesia, serta harapan untuk keterlibatan investor dalam membawa teknologi dan keahlian yang diperlukan untuk pengoperasian dan pengembangan infrastruktur tayangan Kompas.com pada Selasa (08/10).
Dalam perbincangan ini, ketiga direktur menekankan pentingnya investasi yang tidak hanya mencakup modal finansial, tetapi juga transfer teknologi dan keahlian. Ramdani Basri menekankan harapannya agar investor tidak hanya menyuntikkan dana, tetapi juga membawa pengetahuan dan teknologi maju yang dapat meningkatkan efisiensi operasional dan pengelolaan jalan tol. Dalam konteks ini, penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) untuk pengelolaan lalu lintas menjadi sorotan. Dengan memanfaatkan data dan prediksi berbasis AI, pihak Jasa Marga dapat merencanakan pengendalian lalu lintas yang lebih baik, terutama pada momen-momen penting seperti libur panjang dan arus mudik.
Salah satu isu yang diangkat dalam diskusi ini adalah tantangan dalam hal governance, terutama terkait perjanjian dengan pihak asing dan penanganan isu anti-suap dan anti-korupsi. Para direktur menyatakan keinginan untuk belajar dari pengalaman yang telah ada dan memperbaiki tata kelola agar lebih transparan dan efektif.
Budi Harto dalam penjelasannya, membahas tantangan yang dihadapi dalam pengembangan infrastruktur di Sumatera. Ia menjelaskan bahwa secara finansial, pembangunan jalan tol di Sumatera harus dilakukan dengan hati-hati karena pergerakan kendaraan yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Jawa. Hanya 14% kendaraan roda empat beroperasi di Sumatera, dibandingkan dengan 60% di Jawa, yang mengindikasikan potensi pertumbuhan ekonomi yang masih bisa dikembangkan.
Diskusi ini juga menyoroti peran penting konektivitas infrastruktur dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Ketiga direktur sepakat bahwa pembangunan jalan tol dapat mendorong pertumbuhan industri dan perdagangan, termasuk perdagangan hasil pertanian. Mereka berharap, dengan adanya jalan tol, konektivitas antara daerah seperti Palembang dan Lampung dapat ditingkatkan, sehingga masyarakat dapat lebih mudah bertransaksi dan berekreasi.
Dalam bagian akhir diskusi, para direktur mengemukakan harapan mereka terhadap pemerintahan yang akan datang, khususnya di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Mereka berharap agar pemerintahan mendatang dapat memberikan kepastian hukum dan insentif yang diperlukan untuk menarik lebih banyak investasi. Kesinambungan kebijakan yang mendukung pembangunan infrastruktur, seperti pemberian tax holiday bagi investor, dinilai krusial untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Diskusi antara tiga Direktur Utama BUJT ini mencerminkan pentingnya kerjasama antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta dalam membangun infrastruktur yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan fokus pada transfer teknologi, peningkatan governance, dan konektivitas yang lebih baik, harapan untuk masa depan infrastruktur jalan tol di Indonesia semakin cerah. Para direktur berharap, dengan dukungan dari pemerintah dan stakeholder lainnya, Indonesia dapat membangun infrastruktur yang tidak hanya efisien, tetapi juga berkelanjutan dan inklusif untuk semua lapisan masyarakat.(c@kra)





