MoneyTalk,Jakarta – Ratusan petani singkong asal Lampung yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Ubi Kayu Indonesia (PPKUI) bersama Koalisi Nasional untuk Reforma Agraria (KNARA) menggelar aksi di kawasan Patung Kuda, Jakarta, pada Kamis siang. Mereka menuntut keadilan atas praktik pemotongan harga singkong yang disebut sudah merugikan petani kecil hingga separuh pendapatan mereka.
Dalam aksinya, massa menyoroti praktik pengusaha pabrik singkong di daerah yang tetap melakukan pemotongan harga hingga 50%, meski pemerintah melalui Menko Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto telah mengeluarkan aturan resmi bahwa pemotongan maksimal hanya boleh 15%.
Namun, aturan tersebut dianggap hanya berhenti di atas kertas. “Faktanya di lapangan, petani tetap diperas oleh pengusaha. Edaran pemerintah tidak dipatuhi, dan dua menteri itu diam saja,” teriak salah satu orator dalam aksi.
Aktivis asal Lampung, Bunda Merry, dengan lantang menuntut sikap tegas dari pemerintah. Ia bahkan meminta dua menteri terkait untuk mundur jika tidak mampu menegakkan aturan yang sudah mereka keluarkan sendiri.
“Kalau Zulhas dan Airlangga tidak berani menghadapi para pengusaha pabrik singkong, lebih baik mundur saja dari jabatan. Petani tidak butuh pejabat yang hanya bisa bikin aturan tanpa keberanian menegakkan hukum,” ujar Merry di hadapan massa.
Aksi ini juga menyoroti lemahnya pengawasan pemerintah terhadap praktik monopoli dan permainan harga oleh industri pengolahan singkong. Menurut para petani, mereka sudah berada di ambang kebangkrutan akibat biaya produksi yang semakin tinggi, sementara harga jual singkong terus ditekan.
PPKUI menegaskan bahwa perjuangan ini bukan sekadar soal harga, tetapi soal keberlangsungan hidup petani singkong yang menjadi tulang punggung bahan baku industri tapioka nasional. Mereka menuntut agar pemerintah segera turun langsung ke lapangan, bukan sekadar mengeluarkan surat edaran.
Massa aksi berjanji akan terus melakukan tekanan hingga pemerintah benar-benar menindak tegas para pengusaha pabrik singkong yang nakal.





