Perang Ukraina: Dampak Penyitaan Aset Rusia

  • Bagikan
RUU Perampasan Aset: Kunci dalam Pemberantasan Korupsi
RUU Perampasan Aset: Kunci dalam Pemberantasan Korupsi

MoneyTalk, Jakarta – Kita tertegun ketika sebuah perang yang mula-mula tampak sebagai sengketa dua negara tiba-tiba mengirimkan gema yang lebih luas dari yang pernah dibayangkan para jenderal yang memulainya. Perang Ukraina, yang lahir dari kecemasan tentang batas dan keamanan, kini menyentuh sebuah simpul yang membuat dunia menoleh. Uni Eropa sedang bergulat dengan pemerintah Belgia untuk menyita 140 miliar dolar aset Rusia yang disimpan di Euroclear, Brussels. Tindakan seperti ini belum pernah terjadi dalam sejarah modern—perang itu seakan melompat keluar dari geografinya sendiri. Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Eropa, menyebut dana itu akan dipakai untuk perang dan pemulihan Ukraina. Namun bagi dunia, penyitaan itu seperti isyarat bahwa batas lama antara perang konvensional dan keuangan global telah runtuh, dan sesuatu yang lebih besar telah mulai bergerak.

Selalu ada kesunyian tertentu sebelum sejarah berubah arah. Di antara dentum artileri dan debat para diplomat, perang di Ukraina sebenarnya dimulai dari sesuatu yang lebih sunyi: kebutuhan akan keamanan nasional. Dua negara bertetangga, dua ketakutan yang saling meniadakan.

Di satu sisi Ukraina, yang merasa dirinya hanya akan selamat bila bernaung di bawah payung NATO. Di sisi lain Rusia, yang percaya bahwa keselamatannya justru bergantung pada satu hal: Ukraina tetap netral, tetap menjadi ruang penyangga yang tidak dipenuhi instalasi militer Barat.

Dua kebutuhan yang bertabrakan itu awalnya masih berada dalam ranah argumen. Hingga Amerika Serikat dan NATO masuk, mengatakan kepada Ukraina bahwa impian itu mungkin—bahwa pintu menuju NATO dapat ditembus dengan cukup kemauan dan keberanian. Mereka berjanji akan mendukung “selama diperlukan”, as long as it takes, sebuah janji yang diulang seperti ritus.

Tetapi Rusia tidak mundur. Diplomasi yang rapuh telah retak. Dua negara yang berkonflik tidak lagi menemukan ruang untuk berbicara; mereka harus menyelesaikan persoalan keamanan nasionalnya melalui perang, seperti bangsa-bangsa yang kehilangan pilihan di masa lampau.

Dan hari ini, seperti sebuah panggung yang perlahan kehilangan ilusi, kenyataan mulai menampakkan dirinya. Rusia bergerak pelan tetapi pasti, memotong garis logistik Ukraina, menguasai langit, dan mengubah ketidakseimbangan persenjataan menjadi keunggulan strategis. Ukraina mundur setapak demi setapak, kehilangan wilayah, kehilangan personel tempur yang andal, kehilangan waktu. Dengan jatuhnya Pokrovsk dan Kupyansk, perang ini sudah memperlihatkan pemenangnya: Rusia.

Kemenangan Rusia sulit diucapkan oleh Uni Eropa/NATO. Dalam dunia geopolitik, mengakui kekalahan berarti menyerahkan hak menentukan masa depan kepada lawan. Namun Amerika Serikat dengan realisme politik yang jarang diucapkan dengan suara keras mulai melihat bahwa melanjutkan perang hanya akan membuat Ukraina kehilangan lebih banyak nyawa dan wilayah. Dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih Donald Trump menyergah Zelensky, “Anda tidak punya kartu.” Sebuah tamparan dari kawan sendiri.

Lalu datanglah Proposal Perdamaian 28 Poin dari AS: sebuah rancangan yang, dalam banyak elemennya, mengadopsi tuntutan Moskow. Sebuah pengakuan lembut bahwa peta kekuatan telah berubah. Ukraina murka. Uni Eropa pun tersinggung. Friedrich Merz menuduh Amerika dan Trump telah “menjual” Ukraina kepada Rusia.

Inilah responnya: UE/NATO mengaskan keinginannya untuk menyita aset Rusia senilai 140 miliar dolar yang tersimpan di Euroclear. Mereka mengatakan dana itu cukup dipakai membiayai perang hingga dua tahun ke depan. Waktu itu cukup untuk memperkuat kembali mesin militer Barat sehingga bisa berhadapan langsung dengan Rusia kelak bila diperlukan. Suatu horison perang dalam skala lebih besar muncul di cakrawala yang dekat.

Artinya, penyitaan aset Rusia itu diperkirakan bakal mencabik-cabik batas yang selama ini dianggap sakral. Bahkan ketika Perang Dunia I dan II menghancurkan kota-kota, sesuatu tetap dihormati: simpanan uang di bank. Sistem keuangan internasional bertahan selama puluhan tahun karena satu kesepakatan sunyi: bahwa uang, betapapun negara-negara bertikai, adalah benda netral.

Kini garis itu dilanggar. Dan sebuah dunia bergeser.

Rusia murka. Tentu saja. Tetapi kemarahan dalam politik internasional jarang berhenti pada kata-kata. Ada tujuh konsekuensi setidaknya—dan mungkin lebih banyak lagi yang kini bergema di ruang-ruang pertemuan tertutup di Kremlin.

Pertama, Gerakan militer NATO ke timur harus dihentikan, dan ini berpotensi revisi total atas doktrin mandat Special Military Operation yang telah digariskan sebelumnya. Operasi yang sebelumnya “dibatasi” pada empat oblast Luhansk, Donetsk, Zaporizhzhia, dan Kherson berpotensi meluas hingga mencakup oblast di bagian timur Sungai Dnieper, plus Odessa. Bila Odessa jatuh, Ukraina terputus dari Laut Hitam kehilangan laut berarti kehilangan masa depan ekonomi. Dan penguasaan sisi timur Dnieper memberi Rusia pertahanan alamiah sekaligus kedekatan strategis dengan Kyiv.

Kedua, penyitaan aset akan merobek kepercayaan negara-negara non-Barat terhadap bank-bank Eropa. Negara-negara Teluk Arab Saudi, UEA, Oman serta Aljazair dan Mesir, kini bertanya: “Apakah uang kami aman?” Ketika pertanyaan itu muncul, keputusan untuk memindahkan aset hanyalah soal waktu.

Ketiga, BRICS bergerak lebih cepat dari yang diinginkan Eropa. Dedolarisasi tak lagi menjadi teori; ia menjelma naluri bertahan hidup. Dunia keuangan Barat, dengan menjadikan dolar dan euro alat pemerasan geopolitik, justru menciptakan musuh baru bagi dirinya sendiri.

Namun ada konsekuensi lain yang lebih tak terduga.

Keempat, lahirnya doktrin geopolitik baru: keamanan tanpa Barat. Negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin selama ini percaya bahwa stabilitas global dijaga oleh tatanan finansial Barat. Kini mereka melihat bahwa tatanan itu bisa dijadikan palu. Maka keamanan nasional tidak lagi hanya soal tank dan misil, tetapi juga soal di mana uang disimpan dan melalui mekanisme apa ia beredar.

Kelima, Eropa sedang berjalan menuju konfrontasi yang sebenarnya belum siap ia hadapi. Brussels merasa punya waktu dua atau tiga tahun untuk membangun kembali industrinya. Rusia mungkin tidak menunggu selama itu.

Keenam, Ukraina perlahan berubah dari negara menjadi simbol.

Simbol selalu indah dalam kata-kata, tetapi rapuh dalam sejarah. Ukraina dibutuhkan Barat sebagai dalih memperkuat NATO; dibutuhkan Rusia sebagai tembok terakhir terhadap Barat. Di antara dua kebutuhan itu, Ukraina berdarah.

Ketujuh, sistem hukum internasional retak. Jika aset negara dapat disita, apa yang menjamin kekebalan diplomatik, hukum laut, dan aturan perang akan bertahan? Dunia seperti kembali ke era ketika kekuatan menentukan hukum hanya saja kini kekuatan itu tersebar di banyak tangan.

Ketika semua itu berlangsung, dunia bertanya: bisakah perang ini dihentikan? Jawabannya, seperti biasa, tak terutama berada di meja perundingan. Rusia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan penghalang strategis yang dianggap aman. NATO tidak akan berhenti sebelum Rusia memahami bahwa agresi tak boleh dihadiahi wilayah.

Mungkin satu-satunya titik temu adalah kehancuran yang cukup besar untuk menghentikan keduanya.

Kita menyaksikan tragedi yang tumbuh pelan-pelan, seperti badai yang tampak di cakrawala namun tak seorang pun bisa membelokkannya. Di masa depan, para sejarawan mungkin bertanya: pada titik mana dunia memilih jalan yang salah?

Ketika NATO membuka pintu bagi Ukraina? Ketika Rusia mengirim tank melewati perbatasan? Ketika Amerika menawarkan dukungan “selama diperlukan”? Atau ketika Eropa menyita uang yang bukan miliknya?

Jawabannya mungkin lebih sederhana: dunia terseret oleh logika kekuatan. Ketika ketakutan menjadi bahasa utama, diplomasi berhenti berbicara. Dan perang, seperti biasa, mengambil alih.

Di tengah reruntuhan itu, hanya waktu yang tersisa. Rusia memperpanjangnya. NATO mencoba membelinya. Ukraina kehabisan. Dunia menunggu dengan napas tertahan ke mana sejarah akan bergerak setelah ini.

Selebihnya, seperti dalam tragedi klasik, manusia hanya penyaksi. Dunia yang berubah tidak menunggu persetujuan siapa pun.

Penulis : Radhar Tribaskoro,anggota Komite Eksekutif KAMI dan ketua Komite Kajian Ilmiah FTA.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *