Soal Gugurnya Ali Khamenei, Pengamat Timur Tengah: Jangan Terburu-buru Sebut Iran Kecolongan

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat Timur Tengah, Dina Sulaiman, membantah narasi yang menyebut Iran “kecolongan” dalam serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Dalam keterangannya, Dina menilai penyederhanaan tersebut mengabaikan kompleksitas perang modern dan realitas pertahanan udara yang tidak pernah 100 persen kedap.

Ia mengisahkan, pertanyaan soal “kelengahan” Iran muncul saat dirinya menjadi narasumber di sebuah program televisi. Narasi yang berkembang menyebut bahwa seorang pemimpin dengan level setinggi itu seharusnya memiliki sistem pengamanan berlapis yang mustahil ditembus. Namun menurut Dina, asumsi tersebut tidak mempertimbangkan karakter kepemimpinan di Iran maupun dinamika geopolitik kawasan.

Dina merujuk pada pernyataan Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, yang menyebut bahwa Khamenei tidak ingin bersembunyi. Sang Rahbar, kata Dina, memilih tetap berada di tengah masyarakat. Bahkan disebutkan, ia hanya bersedia masuk bunker apabila seluruh warga Iran juga memiliki akses perlindungan yang sama.

“Dalam banyak kesempatan, beliau juga menunjukkan kesiapan menghadapi risiko tertinggi. Ada kesadaran ideologis dan politik yang kuat di sana,” ujar Dina, Senin (2/3/2026).

Ia menggambarkan bahwa di kalangan elite Iran, konsep kesyahidan bukan retorika kosong, melainkan dipadukan dengan kesadaran geopolitik dan dorongan membangun kemandirian teknologi, termasuk di bidang pertahanan.

Menanggapi pertanyaan mengapa langit Teheran tidak sepenuhnya terlindungi, Dina menjelaskan bahwa dalam perang modern, tidak ada sistem pertahanan udara yang sempurna. Ia mencontohkan sejumlah kasus global. Amerika Serikat gagal mencegah serangan 11 September 2001 terhadap World Trade Center. Israel dengan sistem Iron Dome-nya tetap mengalami kebocoran roket. Arab Saudi pun tidak mampu sepenuhnya mencegat serangan drone terhadap fasilitas Saudi Aramco pada 2019.

“Kegagalan intersepsi bisa terjadi karena serangan multi-vektor, faktor kejutan, infiltrasi intelijen, atau celah teknis. Menyimpulkan bahwa satu insiden berarti negara itu lemah adalah bentuk generalisasi tergesa-gesa,” tegasnya.

Ia juga menolak anggapan bahwa keberhasilan serangan tersebut otomatis menunjukkan kebocoran intelijen atau rapuhnya soliditas internal Iran. Menurut Dina, praktik infiltrasi adalah realitas dalam hubungan antarnegara. Badan intelijen besar seperti CIA, Mossad, hingga dinas intelijen Rusia dan China beroperasi lintas batas. “Semua negara mengalami hal serupa. Itu bukan indikator tunggal kelemahan rezim,” ujarnya.

Terkait teknis serangan, Dina menyebut masih ada ketidakpastian apakah serangan dilakukan melalui jet tempur yang memasuki wilayah udara Iran atau melalui rudal jarak dekat yang ditembakkan dari luar perbatasan. Jika rudal diluncurkan dari titik yang relatif dekat, seperti wilayah sekitar Iran yang memiliki pangkalan militer asing, waktu reaksi sistem pertahanan menjadi sangat sempit.

Ia menjelaskan bahwa misil yang ditembakkan dari jarak dekat akan memasuki fase aktif dalam waktu singkat, sehingga peluang intersepsi jauh lebih kecil. Sebaliknya, rudal yang meluncur dari jarak lebih jauh cenderung lebih mudah dideteksi dan dicegat sebelum memasuki fase terminal.

Dalam konteks tersebut, Dina menilai Iran tetap menunjukkan kapasitas respons yang cepat. Ia menyebut, serangan balasan dilancarkan hanya beberapa jam setelah insiden terjadi. “Artinya, struktur komando dan kemampuan militer masih berjalan,” katanya.

Lebih jauh, Dina menekankan bahwa fokus seharusnya tidak diarahkan pada menyalahkan pihak yang diserang. Ia mengingatkan bahwa agresi terhadap negara berdaulat bertentangan dengan prinsip hukum internasional, termasuk ketentuan dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang larangan penggunaan kekuatan dan hak membela diri.

Pandangan serupa, menurutnya, juga relevan dalam melihat konflik Palestina. Ia menilai perdebatan internal di pihak yang diduduki tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan akar persoalan. “Yang harus dilihat adalah tindakan agresi dan pendudukan. Jangan sampai perhatian publik justru bergeser menjadi menyalahkan korban,” ujarnya.

Bagi Dina, kematian seorang pemimpin atau komandan militer dalam situasi perang adalah risiko yang selalu ada. Namun yang lebih penting adalah bagaimana sebuah negara merespons, mempertahankan martabat, dan menjaga kedaulatannya di tengah tekanan eksternal.

“Dalam konflik sebesar ini, narasi yang adil dan proporsional sangat dibutuhkan. Jangan terjebak pada simplifikasi yang menyesatkan,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *