Rakyat Bukan Tak Cinta Pertamina, Tapi Sudah Muak Dibohongi!

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Pakar perubahan dan guru besar Universitas Indonesia,Rhenald Kasali kembali menyorot tajam wajah kompetisi bisnis energi di Indonesia. Dalam narasi reflektif nya yang tayang di kanal YouTube pada Kamis (09/10), Rhenald mengupas soal ketimpangan perlakuan antara SPBU asing dan Pertamina, serta bagaimana kepercayaan publik terhadap BUMN energi itu makin luntur akibat buruknya profesionalisme dan komunikasi pemerintah.

“Kehidupan ini terus berganti. Lama-lama bangsa yang beradab ingin memperlakukan siapa saja secara fair, karena kita pun ingin diperlakukan fair,” ujar Rhenald membuka refleksinya.

Ia menilai, publik kini tak lagi menilai dari sisi nasionalisme semata. “Lucu kan? SPBU asing seperti Shell, Vivo, BP, dan AKR ogah beli BBM dari Pertamina karena kandungan etanolnya tak sesuai. Tapi publik malah marah ke pemerintah, bukan ke SPBU asing,” katanya.

Menurut Rhenald, bukan soal pro-asing atau anti-asing, melainkan soal kepercayaan dan profesionalisme. “Di balik logo merah putih Pertamina ada cerita yang membuat orang susah percaya. Banyak yang merasa cinta terus-menerus diminta, tapi tak pernah diberi alasan untuk percaya,” tegasnya.

Ia lalu mengingatkan masa-masa reformasi 1998 ketika Pertamina nyaris terpecah dan jatuh ke tangan asing, namun berhasil bertahan karena semangat nasionalisme para pemimpinnya saat itu. “Dulu Pertamina jadi powerhouse ekonomi bangsa, transformasinya luar biasa. Tapi kini, keindahan itu pudar karena kepercayaan yang hilang,” ujarnya getir.

Rhenald,menggambarkan ironi publik kota yang kini lebih memilih antre di SPBU Shell ketimbang di Pertamina.

“Bukan karena benci lokal, tapi karena mereka capek diminta cinta tanpa komitmen. Kepercayaan diminta tanpa transparansi,” sindirnya.

Kasus BBM oplosan, perubahan harga yang mendadak, dan subsidi yang berantakan menjadi bukti nyata turunnya reputasi Pertamina di mata publik. “Kita jadi bangsa yang terus berganti pemain, tapi perilakunya tetap sama. Yang satu ditangkap, yang lain datang menggantikan,” ucapnya tajam.

Menurutnya, SPBU asing hadir bukan semata karena kekuatan modal, tapi karena publik haus keadilan dan layanan profesional. “Mereka datang dengan standar baru: bersih, cepat, ramah, dan konsisten. Hal yang seharusnya bisa kita punya dari dulu,” ujar Rhenald.

Namun ia juga menegaskan, kompetisi tak sepenuhnya adil. “Pertamina punya beban sosial: harus distribusi ke pulau-pulau terpencil dan menjaga harga subsidi. SPBU asing? Bebas memilih lokasi dan segmen pasar. Tapi di sisi lain, tekanan kompetisi ini justru memaksa Pertamina berbenah,” jelasnya.

Rhenald Kasali,menutup dengan peringatan keras bagi para pemimpin dan regulator:

“Kepercayaan adalah mata uang paling langka di Indonesia. Mungkin publik mendukung SPBU asing bukan karena cinta asing, tapi karena mereka haus keadilan.”

Ia menegaskan, nasionalisme ekonomi tidak lagi relevan tanpa profesionalisme institusional.

“Publik kini tak peduli siapa pemiliknya. Mereka peduli siapa yang bisa melayani lebih baik,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *