Kepercayaan Publik, Bukan Nasionalisme Buta, yang Menentukan Masa Depan Pertamina

  • Bagikan
Posisi Penting Diisi Elite Partai, Pertamina Jadi Area Bancakan?
Posisi Penting Diisi Elite Partai, Pertamina Jadi Area Bancakan?

MoneyTalk, Jakarta –  Dalam dunia bisnis modern, kepercayaan adalah mata uang paling berharga. Dan inilah pesan utama yang ingin disampaikan oleh Prof.Rhenald Kasali akademisi dan pakar perubahan dari Universitas Indonesia, dalam narasinya yang tayang di kanal YouTube pribadinya pada Kamis (9/10).

Dengan gaya bertutur yang reflektif dan tajam, Rainald membedah persoalan pelik di balik ramainya perbincangan soal SPBU asing seperti Shell, Vivo, BP, dan AKR, yang dinilai publik memberikan layanan lebih baik dibandingkan SPBU Pertamina. Bagi Rainald, isu ini bukan sekadar pertarungan antara nasionalisme dan globalisasi, tetapi tentang hilangnya rasa percaya masyarakat terhadap institusi nasional yang seharusnya menjadi kebanggaan bersama.

“Kita sudah terlalu lama dituntut untuk cinta produk dalam negeri tanpa pernah diberikan alasan untuk percaya,” ujar Rainald.

Dari Nasionalisme ke Profesionalisme

Rainald mengingatkan bahwa bangsa yang beradab tumbuh dari nilai keadilan, bukan dari tuntutan semu untuk mencintai. Ia menyinggung bagaimana dulu pemerintah mendorong semangat “Cintai Produk Dalam Negeri” melalui berbagai kampanye nasional. Kini, kata dia, situasinya terbalik — orang kota justru mengantri di SPBU asing, bukan karena membenci Pertamina, tapi karena merasa dilayani lebih baik.

Ia melihat fenomena ini sebagai tanda krisis kepercayaan, bukan sekadar preferensi konsumen. Bagi sebagian orang, SPBU asing melambangkan profesionalisme dan konsistensi, dua hal yang sering hilang dalam layanan publik di Indonesia.

“Publik menilai bukan siapa pemiliknya, tapi siapa yang bisa melayani dengan benar,” tegasnya.

Pertamina dan Beban Ganda Sebuah “Powerhouse

Dalam refleksinya,Rhenald mengingatkan bahwa Pertamina sejatinya pernah menjadi “powerhouse” ekonomi nasional lokomotif yang menarik perekonomian dan kebanggaan bangsa. Ia mengenang transformasi besar yang dilakukan pada awal 2000-an, ketika Pertamina memperbaiki citra, layanan, dan standar kebersihan.

Namun, kini ceritanya berbeda. Kasus BBM oplosan, ketidakkonsistenan kualitas, serta komunikasi pemerintah yang buruk telah membuat publik merasa kecewa. Ia menilai, Pertamina kini terjebak dalam dilema antara misi sosial dan logika bisnis.

“Menjadi SDM di BUMN seperti Pertamina itu tidak mudah. Di satu sisi harus melayani publik, di sisi lain harus bersaing dalam pasar bebas yang diatur dengan ketat,” katanya.

Kompetisi yang Tak Sepenuhnya Adil

Rhenald tidak menolak kehadiran SPBU asing. Sebaliknya, ia menilai kompetisi merupakan tekanan positif agar Pertamina terus berbenah. Namun, ia juga menyoroti ketimpangan yang ada.

Pertamina menanggung kewajiban untuk mendistribusikan BBM hingga ke pulau-pulau terpencil, sementara pemain asing hanya beroperasi di kota besar dengan segmen pasar menengah ke atas. Di sisi lain, pemerintah belum menunjukkan tata kelola yang mampu menjamin “fair competition” di sektor strategis ini.

“Pemerintah jangan salah paham. Kompetisi tidak untuk dimatikan, tapi untuk memastikan semua pihak bekerja dengan transparan dan profesional,” ujarnya.

Kepercayaan, Bukan Sekadar Bensin

Bagi Rhenald, pergeseran loyalitas publik ke SPBU asing seharusnya menjadi cermin bagi regulator dan BUMN nasional untuk introspeksi. Publik kini menuntut lebih dari sekadar produk mereka ingin transparansi, konsistensi, dan keadilan.

“SPBU asing menjual kepercayaan, bukan sekadar bensin. Dan kepercayaan itu adalah mata uang paling langka di Indonesia,” ujarnya dengan nada serius.

Rhenald mengingatkan bahwa nasionalisme tanpa profesionalisme hanyalah slogan kosong. Ia menegaskan, cinta terhadap bangsa harus diwujudkan dalam kualitas kerja dan komitmen pada integritas.

“Cinta sering diminta tanpa komitmen. Kepercayaan sering diminta tanpa transparansi. Itulah masalah kita,” kata Rainald.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *