MoneyTalk, Jakarta – Pengamat geopolitik Hendrajit menilai novel klasik Gone with the Wind karya Margaret Mitchell mampu menggambarkan secara tepat dan universal tentang watak manusia setelah sebuah perang besar berakhir.
Menurut Hendrajit, novel tersebut mengambil latar American Civil War yang berlangsung pada 1861 hingga 1865, perang saudara antara kubu Utara dan Selatan di Amerika Serikat. Konflik itu berakhir dengan kekalahan pihak Selatan atau Konfederasi. Namun yang menarik dari karya Margaret Mitchell bukan hanya kisah perang, melainkan potret psikologis manusia setelah perang usai.
Dalam novel tersebut, muncul dua tipe karakter manusia pasca konflik. Di satu sisi terdapat tokoh-tokoh seperti Scarlett O’Hara, Rhett Butler, Melanie Hamilton Wilkes, serta tokoh-tokoh lain yang digambarkan tidak tenggelam dalam penyesalan masa lalu.
“Mereka tidak larut meratapi kejayaan yang hilang. Kekalahan dipandang sebagai fase memasuki dunia baru dan babak baru kehidupan,” ujar Hendrajit dalam analisisnya, Ahad (8/3/2026).
Tokoh-tokoh tersebut justru memandang masa pasca perang sebagai tantangan baru yang tidak kalah sengit dibandingkan peperangan sebelumnya. Dengan pola pikir seperti itu, mereka mampu bangkit dari keterpurukan, menjadi pribadi yang tangguh, bahkan mencapai kesuksesan di bidang-bidang yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.
Sebaliknya, Margaret Mitchell juga menggambarkan tipe manusia yang hancur secara mental setelah perang usai. Tokoh seperti Gerald O’Hara dan Ashley Wilkes digambarkan tidak mampu menerima kenyataan baru setelah kekalahan pihak Selatan.
“Mereka merasa dunia sudah runtuh bersama kekalahan perang. Akibatnya mereka terjebak dalam nostalgia masa lalu dan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman,” jelas Hendrajit.
Menurutnya, gambaran psikologis tersebut tidak hanya relevan pada abad ke-19, tetapi juga dapat diparalelkan dengan situasi geopolitik abad ke-21. Ia mencontohkan masa rekonstruksi di Afghanistan setelah invasi tahun 2001 dan di Iraq setelah perang tahun 2003.
Bahkan, kata Hendrajit, pola yang sama sangat mungkin terjadi dalam berbagai konflik global masa kini, termasuk potensi dampak pasca konflik antara United States, Israel, dan Iran apabila ketegangan tersebut benar-benar berkembang menjadi perang terbuka.
Ia menilai kedalaman pemahaman Margaret Mitchell dalam membaca watak manusia di masa perang membuat Gone with the Wind tetap relevan hingga hari ini.
“Pesan tersiratnya jelas. Kita boleh menengok masa silam, tetapi akan sangat berbahaya bila kita terjebak dalam nostalgia dan memaksakan masa lalu tetap hidup di masa kini,” katanya.
Hendrajit menambahkan bahwa ingatan manusia sangat terkait dengan dimensi waktu. Ketika seseorang terkurung dalam kenangan masa lalu, maka secara psikologis ia tidak lagi benar-benar hidup di masa sekarang.
Padahal, dalam perspektif spiritual, waktu memiliki makna yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
“Dalam Al-Qur’an bahkan ada seruan ‘Demi Waktu’. Itu menunjukkan bahwa waktu adalah medan kesadaran yang mengelilingi kehidupan manusia,” ujarnya.
Ia pun menutup refleksinya dengan doa, “Ya Hayyu Ya Qoyyum,” sebagai pengingat bahwa manusia harus tetap hidup dalam kesadaran waktu dan siap menghadapi babak baru kehidupan, apa pun yang terjadi setelah sebuah konflik atau perubahan besar dalam sejarah.


