Pokoknya Ada Teddy

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Apa problem besar yang membebani Indonesia akhir-akhir ini? Defisit ekonomi, kenaikan harga minyak, korupsi, siswa keracunan MBG, atau presiden yang suka ngelencer ke luar negeri? Bukan. Problem terbesar adalah inflasi pengamat. “Sekarang ini ada satu fenomena, apa itu? Ada yang namanya inflasi pengamat. Jadi banyak sekali pengamat,” kata Letkol TNI Teddy Indra Wijaya, sekretaris kabinet, sosok super-menteri, yang kini merangkap sebagai pengamatnya pengamat.

Di era pemerintahan Jokowi ada sosok super-menteri, yang selalu memberi komentar. Selalu ada dalam hampir setiap program dan proyek pemerintah, populer dengan julukan Lord Luhut. Di era Prabowo sosok super itu dijuluki First Teddy. Ia selalu hadir di sisi Presiden Prabowo dalam setiap kesempatan dan kesempitan. Ke mana presiden pergi, di situ ada Teddy. Dari rapat kabinet, kunjungan luar negeri, hingga foto di posko pengungsi. Teddy selalu standby.

Julukan “The First Teddy” muncul karena kedekatan personalnya dengan Presiden Prabowo yang situasinya nir-first-lady. Belum pernah ada preseden dalam sejarah pemerintahan di Indonesia Sekretaris Kabinet begitu dekat, secara personal, dengan presiden. Dari Iwa Koesoemasoemantri, Seskab Presiden Soekarno; Sudharmono -Moerdiono era Soeharto; hingga Sudi Silalahi – Dipo Alam era Susilo Bambang Yudhoyono, bahkan Pramono Anung di era Jokowi. Mereka, beda dengan Teddy, adalah pejabat Seskab yang bertanggung jawab memastikan berjalannya pembagian tugas kerja-keria kabinet.

Teddy sangat istimewa, mungkin karena militer muda, segar, dan cakap, secara visual. Pada awal menjadi Seskab sempat diidolakan netizen perempuan. Namun belakangan kerap dicemooh, mungkin karena inflasi tampil di TV, seperti pengamat membosankan yang terlalu sering muncul di TV. Terlalu over-ekspose, banyak omong.

Sebagai Sekretaris Kabinet, Teddy bukan cuma mengatur jadwal dan mencatat risalah rapat kabinet. Kedekatannya dengan Presiden Prabowo, membuatnya mengurus, turut campur, atau mengomentari segala urusan pemerintahan. Dari urusan pangan, problem MBG, soal anggaran, bencana alam, media briefing hasil kunjungan kenegaraan. Ia terkesan menjadi juru bicara berbagai kementerian. Itu sebabnya belakangan ini ia mendapat julukan baru dari netizen, sebagai “Menstruasi”: Menteri Segala Urusan dan situasi.

Teddy cekatan dalam berbicara mengkomunikasikan ketidakjelasan. Soal isu akan ada resafel kabinet? “Tunggu aja, nanti Bapak Presiden yang ceritakan.” Tentang rencana memotong gaji pejabat? “Tanya yang menyampaikan.” Soal banyaknya kritik pada pemerintahan? “Pemerintahan ini tidak anti-kritik kok.” Soal anggaran kegiatan bazar UMKM? “Pokoknya ada.”

Karir politik Teddy cepat melejit, dimulai dari ajudan Menteri Pertahanan Prabowo, lalu asisten ajudan Presiden Jokowi, dan kemudian melejit menduduki kursi Sekretaris Kabinet. Penunjukannya sempat menuai perdebatan soal status prajurit aktif untuk jabatan sipil, selain level pangkatnya yang belum cukup tinggi. Tapi presiden Prabowo menyukai, mempercayai dan selalu ingin didampingi Teddy. Pokoknya harus ada Teddy.

Teddy mustinya bisa menjadi “brand ambassador” suksesnya program efisiensi pemerintah, satu orang merangkap banyak peran. Kalau saja kabinet Prabowo tidak terlalu gemuk. Satu Teddy sebenarnya bisa menangani banyak hal. Efisiensi seorang Teddy menjadi kurang optimal, jika Prabowo masih mempertahankan kabinet 100 Menteri. Inflasi menteri jadi merepotkan Teddy, sebagaimana inflasi pengamat.

Dalam komunikasi politik, ada istilah  buffer(penyangga). Merujuk pada peran, individu, atau mekanisme yang berfungsi untuk meredam tekanan, melindungi aktor politik utama, atau menjadi perantara antara elit politik dan publik. Buffer bertindak sebagai “tameng” agar citra aktor politik tetap terjaga. Teddy adalah buffer Presiden Prabowo untuk mengelola persepsi politik. Namun Teddy melampaui sekadar fungsi buffer; ia menjadi partner. Sekaligus tameng, atau decoy pengalih sasaran. Ketika publik sibuk mempersoalkan pernyataan Teddy, dan gaya komunikasinya, energi kritik terhadap Prabowo otomatis teralihkan ke dia.

Namun yang subtil adalah soal personalisasi pemerintahan (kekuasaan). Pengelolaan pemerintahan semakin kental bernuansa personal–bukan institusional. Presiden menunjuk orang-orang terdekat, dengan mengabaikan kompetensi dan meritokrasi. Penunjukkan berbasis kenyamanan dan kebahagiaan hati.

Acara merayakan ulang tahun Teddy, di sebuah hotel mewah di Paris-berbandrol 230 juta per malam adalah contoh ekshibisionisme kesenangan dan kenyamanan diri, yang insensitive pada kondisi kesulitan ekonomi tanah air.

Teddy menjadi simbolik gejala, sekaligus konsekuensi, personalisasi politik kekuasaan. L’état c’est moi, negara adalah saya. “Pokoknya Ada Teddy” adalah ironi bagaimana kekuasaan bekerja dan bagaimana republik dikelola tanpa ada kejelasan “tupoksi”.

Dalam pemerintahan, sebagaimana permainan kartu remi, ada Joker. Berfungsi sebagai kartu liar _(wild card)_ yang bisa menggantikan kartu lain, atau kartu truf tertinggi dalam permainan. Dan drama panggung politik kekuasaan juga selalu ada Joker-Joker seperti itu. Di era Soeharto ada Harmoko, era Jokowi ada Luhut Panjaitan, dan era Prabowo: pokoknya ada Teddy.

Penulis: Lukas Luwarso

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *