Sutoyo Abadi: Ketika Kritik Ditolak, Konfrontasi Menjadi Pilihan Politik

  • Bagikan
Sutoyo Abadi

MoneyTalk.id – Pengamat kebangsaan Sutoyo Abadi menilai gelombang kritik dan perlawanan yang muncul dari kalangan mahasiswa merupakan dinamika yang tidak dapat dipandang remeh oleh kekuasaan. Menurutnya, semakin besar tekanan yang diterima suatu gerakan, semakin menunjukkan bahwa gerakan tersebut memiliki arti dan pengaruh yang signifikan.

Dalam rilis yang diterima pada Senin (15/6/2026), Sutoyo menyinggung perjuangan Tiyo Ardianto dan rekan-rekan mahasiswa yang belakangan menjadi sorotan publik. Ia mengutip petuah ahli strategi perang Tiongkok, Sun Tzu, yang menyatakan, “Jangan terlalu yakin bahwa musuh tidak akan datang, lebih baik bersiap-siap menyambutnya.”

Menurut Sutoyo, keberadaan lawan justru dapat menjadi tolok ukur untuk menilai kualitas perjuangan seseorang maupun kelompok. Lawan yang tangguh, katanya, mampu membangkitkan kemampuan terbaik yang dimiliki seseorang.

“Semakin besar lawan akan semakin besar pula nilai perjuangannya, sekalipun seandainya harus mengalami kekalahan,” ujarnya.

Ia menilai serangan yang diarahkan kepada aktivis mahasiswa menunjukkan bahwa mereka telah dianggap penting dan layak diperhitungkan. Karena itu, momentum tersebut harus dijadikan sarana pembuktian diri sekaligus membangkitkan semangat perjuangan.

Sutoyo juga mengingatkan bahwa kekuasaan yang merasa terdesak biasanya akan bereaksi lebih agresif, bahkan menggunakan berbagai cara untuk mempertahankan posisinya. Dalam kondisi demikian, menurutnya, kewaspadaan harus terus dijaga.

Ia mengingatkan bahwa tawaran perdamaian atau kompromi dari pihak yang sedang terdesak tidak selalu lahir dari niat baik. Dalam pandangannya, langkah tersebut bisa saja menjadi bagian dari strategi untuk meredam dan melemahkan gerakan yang sedang berkembang.

“Hanya mesti hati-hati dan waspada. Pada saat bersamaan sering ditawarkan perdamaian dan kompromi sebagai strategi penyesatan, seolah-olah akan memberi banyak ruang, padahal hasrat mereka tak terbatas dan pada akhirnya akan melucuti lawannya. Sangat rawan kalau perdamaian disertai amunisi angpau,” tegasnya.

Karena itu, Sutoyo secara khusus mengajak Tiyo dan mahasiswa lainnya untuk tetap konsisten memperjuangkan tuntutan yang mereka yakini mewakili kepentingan rakyat.

“Dalam kondisi seperti ini Tiyo dan kawan-kawan mahasiswa lainnya harus mengeraskan diri. Tidak ada peluang kompromi sebelum aspirasinya direspons dan diwujudkan untuk kepentingan rakyat yang diwakilinya,” katanya.

Menurutnya, kekuasaan yang selama ini merasa nyaman dan menganggap dirinya selalu benar akan mengalami kegagapan ketika menghadapi perlawanan yang muncul secara tiba-tiba dari kalangan mahasiswa dan rakyat.

Sutoyo kemudian mengutip pernyataan ahli strategi Tiongkok lainnya, Zhuge Liang atau Chuko Liang, yang menggambarkan situasi kekuasaan yang kehilangan kewaspadaan sebagai “burung pipit bersarang dalam tenda, atau seperti ikan berenang dalam wajan, mereka tidak akan bertahan lama.”

Lebih lanjut, ia menilai sejarah menunjukkan bahwa rezim yang semakin tiran ketika menghadapi kritik dan perlawanan cenderung melihat semua pihak sebagai musuh. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat membuat penguasa kehilangan kepekaan terhadap realitas dan akhirnya dikuasai oleh ketakutan serta emosinya sendiri.

Dalam konteks perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan, Sutoyo berpandangan bahwa konflik tertentu justru dapat memiliki efek terapeutik atau menyembuhkan. Ia menilai konfrontasi menjadi pilihan ketika ruang kritik telah tertutup.

“Satu-satunya cara untuk menerobos rezim yang sudah menolak kritik adalah konfrontasi,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa sikap terlalu mudah mencari jalan damai dalam menghadapi ketidakadilan justru berpotensi memperpanjang persoalan. Menurutnya, berbagai bentuk kedzaliman, ketidakadilan, dan ancaman terhadap keselamatan negara harus dihadapi secara tegas.

Menutup pernyataannya, Sutoyo menegaskan bahwa dalam menghadapi pihak-pihak tertentu yang dianggap sebagai lawan politik yang nyata, diperlukan ketegasan sikap.

“Jangan naif terhadap musuh tertentu. Tidak boleh ada kompromi, tidak boleh ada jalan tengah,” tegasnya.

Ia juga mengutip pemikiran filsuf politik Jerman Carl Schmitt yang menyatakan bahwa kemampuan membedakan kawan dan lawan merupakan salah satu unsur penting dalam politik.

“Pemikiran politik dan naluri politik terbuka sendiri secara teori maupun praktis dalam kemampuan membedakan kawan dengan lawan. Poin-poin tinggi politik adalah sekaligus momen ketika musuh dalam kejelasan konkret dikenali sebagai musuh,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *