MoneyTalk, Jakarta – Dalam sebuah diskusi terbuka, Hashim Djojohadikusumo, tokoh terkemuka di Indonesia dan adik kandung Prabowo Subianto, memaparkan rencana ambisius pemerintah untuk membangun perumahan bagi masyarakat, khususnya generasi muda seperti Gen Z dan milenial.
Hashim menggarisbawahi bahwa generasi ini semakin enggan memiliki anak. Salah satunya karena harga rumah yang melambung tinggi, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Banyak dari mereka yang harus tinggal jauh di pinggiran kota seperti di Purwakarta. Akhirnya menghabiskan berjam-jam untuk pulang pergi bekerja. Pada akhirnya memengaruhi kualitas hidup dan keinginan untuk berkeluarga.
Hashim mencatat, hal ini bukanlah sekadar masalah gaya hidup, tetapi lebih kepada akses terhadap perumahan yang layak dan terjangkau. Untuk mengatasi krisis ini, Prabowo Subianto telah menyusun rencana besar yang melibatkan pembangunan 10 juta unit rumah dalam 10 tahun ke depan.
Dari jumlah tersebut, 2 juta rumah akan dibangun di pedesaan untuk mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), BUMDes, serta koperasi. Sementara 1 juta unit lainnya akan dibangun di kota-kota setiap tahunnya.
Rencana besar ini didorong oleh data yang menunjukkan bahwa lebih dari 10,7 juta keluarga masih menunggu untuk memiliki rumah yang layak. “Ini bukan hanya individu, ini adalah keluarga,” ujar Hashim. Selain itu, data dari BTN dan pemerintah menunjukkan ada jutaan keluarga yang hidup di rumah-rumah tidak layak huni (RTLH).
Pembangunan perumahan ini tidak hanya akan berdampak pada masyarakat yang membutuhkan, tetapi juga memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi sektor-sektor lain seperti aluminium, baja, semen, dan kayu.
Hashim menyebut bahwa target pertumbuhan ekonomi Prabowo sebesar 8% bisa tercapai dengan kontribusi besar dari sektor perumahan. Bahkan, jika pembangunan berjalan sesuai rencana, angka pertumbuhan tersebut bisa bertambah hingga mencapai 9%.
Menanggapi pertanyaan dari dunia usaha mengenai sumber dana untuk mewujudkan visi besar ini, Hashim dengan yakin mengatakan bahwa dana sudah ada. Salah satu caranya adalah dengan menutup kebocoran anggaran, yang menurutnya merupakan masalah lama yang pernah diangkat oleh Prabowo sejak 2014.
“Prabowo selalu berbicara tentang kebocoran, dan sekarang kita tahu dari mana kebocoran itu berasal,” katanya.
Kebocoran ini, jika diatasi dengan baik, dapat menghasilkan hingga 50 triliun rupiah per tahun.
Hashim juga menekankan bahwa program ini tidak akan membebani masyarakat dengan kenaikan pajak. Sebaliknya, pemerintah akan fokus pada penegakan hukum dan memastikan semua pengusaha memenuhi kewajiban pajak mereka, termasuk pengusaha kelapa sawit yang menunggak hingga ratusan triliun rupiah.
Di akhir diskusi, Hashim juga membahas soal pembangunan infrastruktur hukum dan pendidikan. Ia mengingatkan pentingnya memberikan imbalan yang adil kepada para hakim dan guru, sebagai bagian dari upaya Prabowo untuk menciptakan sistem yang lebih adil dan merata.
Rencana besar Prabowo untuk perumahan ini tidak hanya memberikan harapan baru bagi generasi muda, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan merata di Indonesia.(c@kra)




