Forum Tanah Air Dibubarkan, Demokrasi Indonesia di Ujung Tanduk

  • Bagikan
Forum Tanah Air Dibubarkan, Demokrasi Indonesia di Ujung Tanduk
Forum Tanah Air Dibubarkan, Demokrasi Indonesia di Ujung Tanduk

MoneyTalk, Jakarta – Rocky Gerung kembali memancing perhatian publik setelah diskusi yang dihadiri tokoh-tokoh diaspora Indonesia dibubarkan secara paksa. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu, 28 September, di Grand Kemang Hotel, Jakarta, dalam acara Forum Tanah Air yang mengundang sejumlah intelektual untuk membahas keadaan Indonesia terkini. Melalui diskusi tersebut, Gerung mengkritik tindakan represif yang masih sering terjadi di akhir masa jabatan Presiden Joko Widodo.

Dalam wawancaranya di kanal YouTube Heru Subeno, Rocky Gerung mengungkapkan bagaimana acara tersebut diserang oleh sekelompok orang yang diduga disewa untuk menghalangi diskusi. Ironisnya, meskipun penjagaan polisi di sekitar hotel cukup ketat, para pelaku bisa masuk dan merusak properti. Gerung mempertanyakan mengapa upaya akademis dan intelektual harus dihalangi dengan cara-cara kekerasan, mengingat kebebasan berpendapat adalah hak asasi yang dijamin oleh konstitusi.

Forum Tanah Air, Jembatan Pemikiran Diaspora dan Kritik Terhadap Rezim Forum Tanah Air didirikan beberapa tahun lalu oleh para diaspora Indonesia, termasuk Rocky Gerung. Pendirian forum ini bertujuan menjadi wadah pemikiran kritis terhadap isu-isu politik, ekonomi, dan sosial di Indonesia. Forum ini diharapkan bisa memberikan solusi konseptual atas masalah-masalah yang ada di dalam negeri melalui perspektif dari luar negeri. Diaspora Indonesia yang terlibat dalam Forum Tanah Air ingin turut serta dalam membangun Indonesia melalui gagasan dan konsep.

Gerung menjelaskan bahwa forum ini berfungsi untuk mengonsolidasikan ide dan gagasan dari berbagai kalangan, terutama mereka yang tinggal di luar negeri. Forum ini tidak sekadar diskusi, melainkan upaya kolektif untuk memahami problematika Indonesia dari sudut pandang yang lebih luas dan objektif.

Namun, forum yang seharusnya menjadi ajang pertukaran gagasan justru dibubarkan dengan cara yang represif. Menurut Gerung, mereka yang menyerang acara tersebut tidak memahami isi diskusi dan hanya menjalankan perintah tanpa memahami apa yang sebenarnya dibahas. Lebih lanjut, ia menyebut tindakan ini sebagai bentuk teror terhadap pemikiran, salah satu bentuk kejahatan intelektual yang menggerogoti peradaban.

Kebebasan Berpendapat dan Tantangan Demokrasi Gerung menekankan pentingnya kebebasan berpendapat sebagai pilar utama demokrasi. Ia mengkritik keras tindakan sekelompok orang yang membubarkan acara diskusi tersebut tanpa memberikan ruang untuk berdialog. Sebaliknya, mereka yang tidak setuju dengan diskusi seharusnya membuat forum tandingan, bukan dengan kekerasan.

Menurut Gerung, demokrasi seharusnya menjadi wadah di mana ide-ide, meskipun bertentangan, bisa disuarakan secara terbuka dan adil. Namun, realitas yang terjadi di Indonesia menunjukkan bahwa kebebasan berpendapat masih sering dihalangi oleh kekuatan politik dan ekonomi yang tidak ingin suara kritis terdengar.

Tindakan membubarkan forum diskusi ini, menurut Gerung, menjadi catatan buruk di akhir masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Ia melihat adanya keterlibatan pihak-pihak tertentu yang tidak ingin kritik terhadap pemerintah dan isu-isu sensitif seperti dugaan dinasti politik, korupsi, hingga kritik terhadap keluarga presiden, menjadi pembicaraan luas baik di dalam maupun luar negeri.

Indeks Demokrasi Indonesia, makin Merosot? Peristiwa pembubaran Forum Tanah Air ini, menurut Gerung, mencoreng wajah demokrasi Indonesia di mata dunia. Ia memperkirakan bahwa peristiwa ini akan menurunkan indeks demokrasi Indonesia, yang sudah mengalami penurunan selama masa pemerintahan Jokowi. Gerung menilai bahwa tindakan represif ini hanyalah cerminan dari ketidakmampuan pemerintah untuk menangani kritik secara konstruktif.

Banyak diaspora Indonesia yang terlibat dalam Forum Tanah Air merasa kecewa dengan kondisi demokrasi di tanah air. Mereka akan kembali ke negara-negara tempat mereka tinggal dengan membawa cerita buruk tentang bagaimana ruang diskusi dan kritik di Indonesia dibungkam.

Tantangan Bagi Demokrasi Indonesia Rocky Gerung menyuarakan kekhawatirannya terhadap masa depan demokrasi Indonesia. Ia mengajak semua pihak untuk memahami bahwa perbedaan pendapat seharusnya disikapi dengan dialog dan argumentasi, bukan dengan kekerasan. Ia berharap agar bangsa ini bisa belajar dari peristiwa ini dan menghidupkan kembali ruang-ruang kebebasan untuk berpikir dan berdiskusi secara sehat.

Peristiwa di Grand Kemang Hotel ini menandai tantangan serius bagi demokrasi Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo. Jika tindakan represif seperti ini terus berlanjut, tidak hanya kebebasan berpendapat yang akan terancam, tetapi juga masa depan demokrasi itu sendiri.

Salam Akal Sehat, seperti yang diucapkan oleh Gerung, seharusnya menjadi semboyan bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi perbedaan pendapat.(c@kra)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *