MoneyTalk, Jakarta – Kadang dunia politik Indonesia lebih lucu dari sinetron. Udah tahu Mahkamah Konstitusi (MK) sering banget ngasih peringatan keras lewat putusan-putusan pentingnya, eh, masih aja ada pejabat yang pura-pura lupa. Terutama yang doyan jabatan rangkap. Lagi enak-enaknya duduk di kursi wamen, tiba-tiba masih pengen duduk di komisaris juga.
Katanya sih buat “pengabdian”, tapi yang dilihat rakyat malah penggandaan slip gaji!
Padahal MK udah kasih banyak contoh soal betapa seriusnya pertimbangan hukum mereka. Bukan sekadar tulisan basa-basi kayak caption Instagram.
Nih, kita kasih kuliah singkat ala warung kopi:
1. Terkait hutan adat (putusan MK No. 35/PUU-X/2012). MK bilang, hutan adat itu bukan milik negara, tapi hak masyarakat hukum adat. Jadi, jangan asal klaim seenaknya. Pemerintah pun nurut, keluarin Permendagri 52/2014 dan PermenLHK 21/2019. Nah, ini bukti bahwa pertimbangan MK bukan buat dikopi lalu disimpan di laci, tapi buat dijalankan.
2. UU Cipta Kerja (putusan MK No. 91/PUU-XVIII/2020), cuma menyebut inkonstitusional bersyarat, tapi pertimbangannya ngasih kritik telak soal proses yang amburadul. Pemerintah dan DPR langsung buru-buru revisi dan lahirlah UU No. 6/2023. Kalau mau dibandingin, ini kayak mahasiswa yang sadar habis kena teguran dosen, langsung benerin skripsi.
3. Anak Luar Nikah (putusan MK No. 46/PUU-VIII/2010), MK bilang, anak di luar nikah berhak diakui asal ada bukti ilmiah. Mahkamah Agung langsung gercep bikin SEMA No. 3/2018. Jadi, siapa bilang MK cuma ngomong doang? Buktinya, lembaga tinggi aja bisa gerak cepat kalau hatinya nggak keras kepala.
4. Masa Jabatan Kepala Daerah (putusan MK No. 85/PUU-XI/2013), MK bilang, masa jabatan harus lima tahun penuh. KPU langsung nurut bikin aturan main baru. Ini contoh nyata bahwa taat MK itu bukan kelemahan, tapi kematangan politik.
5. Eks Koruptor Jadi Caleg (putusan MK No. 13/PUU-XVI/2018), MK bilang, meski nggak dilarang nyaleg, masyarakat berhak tahu siapa aja yang mantan napi. KPU langsung bikin aturan wajib publikasi. Coba kalau sekarang ada caleg mantan koruptor nggak ke-expose, pasti netizen ngamuk duluan sebelum MK turun tangan.
Jadi…
Kalau semua lembaga negara bisa patuh sama pertimbangan MK, kenapa giliran wamen rangkap jabatan malah ngeles bela diri kayak murid ketahuan nyontek? Apa karena yang diomongin MK kali ini ganggu kenyamanan slip gaji dobel?
Presiden Prabowo sudah capek-capek bangun narasi efisiensi. Tapi kalau anak buahnya malah sibuk jadi kolektor jabatan, ya gimana publik nggak suudzon?
Jangan bikin seolah-olah “efisiensi” itu cuma buat rakyat kecil, sementara elite sibuk cari jatah tambahan.
Hormati MK itu tanda negara masih waras. Dan berhenti ngeyel soal jabatan rangkap itu tanda pejabat masih punya rasa malu.
Kalau masih bandel juga, mendingan buka franchise warkop aja, bro. Bisa rangkap jabatan sebagai barista, komisaris, dan tukang ngitung laba sendiri. Minimal gak ganggu nama baik Presiden!
Penulis : Iskandar Sitorus, Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW)




