MoneyTalk, Jakarta – Koordinator Politik Merah Putih, Sutoyo Abadi melontarkan kritik dengan mengutip Leo Tolstoy “Kebenaran selalu sederhana dan jujur, sedangkan kebohongan selalu rumit dan berkelok – kelok.
Dalam hukum negara dan hukum internasional, tidak ada satu pun alasan yang membenarkan penundaan penyelamatan manusia, apa pun dan dimanapun penyebab bencananya.
Sutoyo merujuk pada UUD 1945 (asli) menegaskan bahwa hak untuk hidup adalah hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun, dan bahwa perlindungan serta pemenuhannya adalah tanggung jawab negara, terutama Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan tertinggi.
Bahkan secara moral, ia menuntut respons yang lebih cepat dan lebih tegas, bukan dan tidak digantikan dengan pidato heroik kosong yang memuakkan.
Sutoyo mengingatkan salah satu pidatonya Prabowo Subianto berkali-kali dengan nada heroik ingin mati bersama rakyat. Rakyat menyambut dengan gegap gegempita, “Ini heroik menunjukkan sifat kepahlawanan, seperti keberanian luar biasa dalam menghadapi tantangan, seperti magnit menggambarkan tindakan gagah berani yang melibatkan pengorbanan demi kebenaran atau kebaikan”.
“Tidak pernah curiga dengan bersembunyinya sifat “Enigmatik”, yaitu teka-teki sifat yang menggambarkan sesuatu yang misterius atau sulit diinterpretasikan, akhirnya membuat orang bertanya-tanya. Sifat ini sering digunakan untuk orang, ekspresi, atau pesan yang ambigu dan membingungkan,” kata Sutoyo dalam keterangan kepada media (6/1/2026).
Sutoyo pun memperkirakan sangat mungkin Prabowo Subianto, pernah melewati masa Episodik riwayat atau peristiwa yang seakan‑akan dirinya sedang berada dalam satu rangkaian cerita yang lebih besar sebagai pahlawan yang heroik.
Diungkapkan Sutoyo, Prabowo Subianto beberapa kali menyatakan “kesiapan untuk mati demi rakyat sebagai bentuk kehormatan dan komitmennya”, saat di Kejaksaan Agung (24/12/2025) serta di Kongres Muslimat NU (10/2/2025), “menegaskan ia akan berjuang bersama rakyat Indonesia hingga akhir hayatnya, bukan hanya saat ada masalah tetapi juga dalam konteks menghadapi kekuatan asing atau tantangan negara” dan “menyatakan ingin berbakti kepada rakyat sebelum dipanggil Yang Maha Kuasa, ingin melihat rakyat makmur dan anak-anak tersenyum” (10/12/ 2023 ) sebelum menjadi presiden.
“Setelah menjadi Presiden terpaan ujian sebagai presiden datang bertubi – tubi, terakhir banjir bandang di Sumatra, ribuan rakyat mati diterjang banjir,” katanya.
Rakyat serentak berharap presiden bergerak cepat mengatasi bencana yang membawa korban kematian disana sini. Presiden bisa tampil heroik menunjukkan tekad dan tindakan segera mengatasi bencana yang menimpa rakyat sesuai janjinya siap mati bersama rakyatnya, sekalipun tidak harus mati bunuh diri bersama korban banjir di Sumatera.
“Rakyat benar-benar dibuat termangu ketika bencana datang, kematian bergelimangan, rumah lenyap terbawa arus. Dengan berbagai alasan Presiden menolak bantuan tanggap darurat dari sesama negara,” kata Sutoyo.
“Korban kematian tidak bisa ditransaksikan apalagi dengan alasan politik licik dibelakangnya. Macam-macam kejadian memilukan terkesan presiden pongah kegedean empyak kurang jagak ( merasa bisa tetapi tidak bisa berbuat apa apa ),” sambungnya.
“Ternyata ucapan heroiknya menyelinap sifat enigmatiknya. Rakyat baru sadar seraya bergumam dimana dedikasi dan kesediaan Prabowo untuk berkorban demi rakyat dan negara, sebagai pemimpin yang setia pada amanah rakyat, ternyata semua kosong,” tegas Sutoyo.
Di akhir keterangannya, Sutoyo mengatakan dengan mengutip kata bijak dari Abe Lincoln: “You can fool all the people some of the time, and some of the people all the time, but you cannot fool all the people all the time. ( Anda bisa membodohi semua orang pada suatu waktu, dan beberapa orang sepanjang waktu, tapi Anda tidak bisa membodohi semua orang sepanjang waktu ).





