MoneyTalk, Jakarta – Program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto terus menuai perhatian dan dukungan dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Aktivis Muhammadiyah Jakarta, Farid Idris, yang menilai Sekolah Rakyat sebagai langkah strategis negara dalam memperluas akses pendidikan sekaligus menjadi jalan konkret untuk mengentaskan kemiskinan struktural di Indonesia.
Menurut Farid Idris, pendidikan merupakan kunci utama untuk memutus mata rantai kemiskinan yang selama ini membelenggu jutaan keluarga Indonesia. Namun, ia menegaskan bahwa pendidikan yang dimaksud bukan sekadar formalitas, melainkan pendidikan yang berkualitas, terjangkau, dan berkelanjutan.
“Sekolah Rakyat adalah cara Presiden Prabowo meningkatkan kualitas pendidikan anak Indonesia, khususnya bagi mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu. Anak-anak ini akhirnya bisa menikmati pendidikan dengan standar yang baik, bukan pendidikan seadanya,” kata Farid, Kamis (15/1/2026).
Farid menjelaskan, selama puluhan tahun persoalan utama pendidikan nasional bukan hanya soal kurikulum, tetapi ketimpangan akses. Banyak anak dari keluarga miskin terpaksa putus sekolah karena keterbatasan biaya, jarak sekolah yang jauh, hingga minimnya fasilitas pendukung.
Dalam konteks inilah, Sekolah Rakyat hadir sebagai terobosan. Program ini dirancang untuk menjangkau anak-anak yang selama ini tersisih dari sistem pendidikan formal, termasuk anak dari keluarga miskin ekstrem, anak putus sekolah, hingga mereka yang hidup di wilayah padat penduduk dan daerah tertinggal.
“Kalau akses pendidikan dibuka secara serius, maka anak-anak ini punya peluang yang sama untuk berkembang. Negara tidak boleh membiarkan faktor ekonomi menjadi alasan anak kehilangan masa depan,” ujarnya.
Lebih jauh, Farid menilai Sekolah Rakyat bukan sekadar sekolah gratis. Yang menjadi pembeda utama adalah standar pendidikan yang dibangun sejak awal. Sekolah Rakyat dirancang agar memiliki kualitas pengajaran, fasilitas, serta sistem pembinaan karakter yang memadai.
Menurutnya, pendidikan bagi kelompok miskin tidak boleh diperlakukan sebagai pendidikan kelas dua. Justru, anak-anak inilah yang membutuhkan perhatian dan dukungan lebih besar agar mampu mengejar ketertinggalan.
“Sekolah Rakyat harus menjadi sekolah yang bermutu. Dengan standar pendidikan yang bagus, anak-anak ini bisa tumbuh menjadi generasi penerus yang unggul dan berdaya saing,” kata Farid.
Ia menambahkan, jika kualitas dijaga dengan baik, lulusan Sekolah Rakyat tidak hanya berhenti sampai jenjang dasar atau menengah, tetapi juga memiliki kesempatan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Farid menegaskan bahwa dampak Sekolah Rakyat tidak bisa dilihat secara instan. Namun dalam jangka panjang, program ini diyakini mampu menjadi instrumen efektif untuk mengentaskan kemiskinan.
Anak-anak dari keluarga miskin yang memperoleh pendidikan layak akan memiliki kemampuan, keterampilan, dan kepercayaan diri untuk bersaing di dunia kerja maupun menciptakan lapangan pekerjaan baru. Dengan demikian, kemiskinan tidak lagi diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Ketika anak-anak ini bisa kuliah, punya keterampilan, dan bekerja dengan layak, maka ekonomi keluarga mereka akan terangkat. Inilah esensi pendidikan sebagai alat pembebasan,” jelasnya.
Sebagai aktivis Muhammadiyah, Farid melihat Sekolah Rakyat sejalan dengan nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah yang sejak awal menempatkan pendidikan sebagai sarana dakwah dan pemberdayaan umat.
Muhammadiyah, menurutnya, memiliki sejarah panjang dalam membangun sekolah dan perguruan tinggi untuk masyarakat luas, terutama kelompok marjinal. Karena itu, ia menilai dukungan terhadap Sekolah Rakyat merupakan bentuk konsistensi moral dalam memperjuangkan keadilan sosial.
“Muhammadiyah selalu mendorong negara hadir dalam urusan pendidikan. Sekolah Rakyat adalah wujud nyata kehadiran negara bagi rakyat kecil,” ujarnya.
Meski memberikan apresiasi, Farid juga mengingatkan pentingnya pengawasan dan komitmen dalam pelaksanaan Sekolah Rakyat. Ia menekankan agar program ini tidak berhenti pada tataran wacana atau proyek jangka pendek.
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan:
-Kualitas tenaga pendidik yang memadai
-Kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman
-Fasilitas yang layak dan merata
-Keberlanjutan pendanaan dan pengelolaan
“Jangan sampai Sekolah Rakyat hanya bagus di awal, tetapi melemah di tengah jalan. Konsistensi adalah kunci,” tegasnya.
Di tengah tantangan global dan persaingan sumber daya manusia, Farid meyakini investasi di bidang pendidikan adalah pilihan paling rasional dan strategis. Sekolah Rakyat, jika dikelola dengan serius, dapat menjadi fondasi kuat dalam menyiapkan generasi Indonesia yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing.
“Anak-anak ini adalah masa depan bangsa. Memberi mereka pendidikan berkualitas berarti sedang membangun Indonesia di masa depan,” pungkas Farid.





