Serang Habaib, Damai Hari Lubis: Rhoma Irama Picu Perpecahan Umat

  • Bagikan
Pengamat Kebijakan Umum Politik Dan Hukum, Damai Hari Lubis,

MoneyTalk, Jakarta – Ketua KORLABI sekaligus HRS Lover, Damai Hari Lubis, melontarkan kritik keras kepada Raja Dangdut Rhoma Irama terkait sikap dan pernyataannya yang dinilai lebih sering menyerang kalangan ulama, khususnya habaib, dibanding menunjukkan solidaritas terhadap isu kemanusiaan dunia Islam seperti Palestina dan Iran.

Menurut Damai, perjalanan panjang karier musik Rhoma Irama yang selama ini dikenal membawa pesan dakwah dan moral seharusnya menjadi modal untuk menjaga persatuan umat, bukan malah memunculkan polemik yang berpotensi memperuncing perbedaan di tengah masyarakat Muslim Indonesia.

“Rhoma Irama adalah tokoh besar. Musiknya dahulu menjadi inspirasi umat. Tetapi di masa tua justru lebih sering muncul pernyataan-pernyataan yang menyerang ulama dan habaib. Ini sangat disayangkan,” ujar Damai Hari Lubis dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).

Ia menilai, di tengah situasi dunia Islam yang sedang menghadapi tekanan geopolitik, terutama konflik yang melibatkan Palestina serta ketegangan dengan Iran, tokoh publik seperti Rhoma semestinya menggunakan pengaruhnya untuk membangun solidaritas umat.

“Seharusnya beliau turun bersama para penggemarnya menyuarakan penolakan terhadap kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel dan sekutunya Amerika terhadap rakyat Palestina. Itu jauh lebih bermanfaat bagi umat,” tegasnya.

Damai juga mengaku prihatin apabila pernyataan-pernyataan Rhoma Irama justru menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat terkait adanya agenda tertentu yang berpotensi memecah belah umat Islam.

“Jangan sampai publik bertanya-tanya apakah beliau sedang dipengaruhi kelompok tertentu atau menjadi bagian dari entitas yang sengaja menciptakan friksi di kalangan umat. Karena kalau tokoh-tokoh Muslim saling diserang, yang rugi adalah persatuan umat sendiri,” katanya.

Meski demikian, Damai mengimbau agar perbedaan pandangan di tengah umat Islam tidak berkembang menjadi konflik terbuka. Ia meminta seluruh tokoh masyarakat, ulama, dan figur publik lebih mengedepankan ukhuwah Islamiyah serta menjaga persatuan bangsa.

“Perbedaan itu biasa, tetapi jangan sampai merusak persaudaraan sesama Muslim. Tokoh publik harus menjadi perekat, bukan sumber perpecahan,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *