MoneyTalk, Jakarta – Pengamat geopolitik Hendrajit menilai bahwa pembahasan mengenai kelayakan Presiden kedua RI, Soeharto, sebagai Pahlawan Nasional merupakan diskursus yang sehat dan perlu dibuka secara objektif. Menurutnya, baik pihak yang pro maupun kontra seharusnya sama-sama mengemukakan pandangan berdasarkan fakta sejarah yang akurat.
“Membincangkan kelayakan Pak Harto sebagai Pahlawan Nasional menurut saya itu baik ya. Yang pro dan kontra bagus juga berdiskusi secara terbuka. Yang setuju kenapa kok setuju, yang kontra juga jelaskan di mana nggak setujunya. Sama-sama kita beberkan fakta-fakta sejarahnya secara faktual dan akurat,” ujar Hendrajit, Ahad (26/10/2025).
Hendrajit menilai, Soeharto memiliki satu corak khas dalam perjalanan sejarah bangsa: “selalu berada di tempat dan waktu yang benar” atau at the right place and on the right moment.
Ia kemudian memaparkan sejumlah peristiwa penting yang menunjukkan bagaimana Soeharto berperan dalam momentum-momentum krusial sejarah Indonesia.
Pertama, Soeharto memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta ketika negara tengah dalam kekosongan kekuasaan akibat penangkapan para pemimpin bangsa oleh Belanda. “Terlepas ide serangan umum itu hasil rembugan antara Sri Sultan HB IX, Panglima Besar Sudirman, dan Dewan Siasat Nasional, mengapa justru Letkol Soeharto yang menjadi komandan serangan serentak itu?” ujarnya.
Kedua, saat Indonesia menghadapi tekanan Belanda dalam perebutan Irian Barat, Bung Karno mencanangkan TRIKORA dan menunjuk Mayjen Soeharto sebagai Panglima Mandala untuk melaksanakan operasi pembebasan Papua.
Ketiga, pada masa Konfrontasi dengan Malaysia tahun 1964, Bung Karno kembali mempercayakan tugas penting kepada Soeharto sebagai Pangkostrad dalam operasi Dwikora.
Keempat, ketika terjadi tragedi G30S/PKI tahun 1965, Soeharto tampil mengambil inisiatif dan mengendalikan situasi di tengah kekosongan kekuasaan nasional.
Dan kelima, pada 11 Maret 1966, Bung Karno memberikan Surat Perintah (Supersemar) kepada Soeharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Dari surat itulah Soeharto kemudian mengambil langkah tegas membubarkan PKI serta menertibkan pemerintahan.
“Dari rangkaian ini saja terlihat, Soeharto selalu berada di tempat dan waktu yang benar. Apakah ini kebetulan? Kalau kebetulan itu terjadi berkali-kali, tentu bukan sekadar keberuntungan, tapi ada faktor konstan di situ yakni kekuatan kepribadian,” tegas Hendrajit.
Ia juga menambahkan, seorang pahlawan sejati tidak hanya diukur dari ideologi atau posisi militer semata, tetapi dari passion dan keteguhan pribadi dalam menghadapi situasi kritis.
“Pahlawan, apakah dia militer atau sipil, kuncinya punya minat dan gairah yang terus-menerus pada suatu hal. Dari situ lahir keberanian dan ketetapan hati untuk merespons keadaan genting. Kepribadian khas Soeharto inilah yang membuat dirinya dimenangkan oleh sejarah,” jelasnya.
Menurut Hendrajit, seperti halnya Sukarno, Soeharto bukan sekadar tokoh yang beruntung, melainkan pribadi yang dengan karakternya mampu menggerakkan sejarah.
“Bukan kebetulan atau keberuntungan yang berulang, tetapi pribadi seperti Soeharto dan Sukarno-lah yang menggerakkan sejarah bangsa,” pungkasnya.




