MoneyTalk, Jakarta – Forum keamanan terbesar di Asia, IISS Shangri-La Dialogue 2026, kembali menjadi panggung utama pertarungan pengaruh geopolitik global. Para kepala pertahanan, pejabat militer senior, menteri, hingga pemimpin negara berkumpul di Singapura untuk membahas berbagai isu strategis yang semakin memanaskan kawasan Indo-Pasifik.
Salah satu perkembangan yang menjadi sorotan adalah semakin eratnya kerja sama pertahanan antara Filipina dan Kanada melalui implementasi Status of Visiting Forces Agreement (SOVFA). Kesepakatan tersebut membuka peluang lebih besar bagi latihan militer bersama, pertukaran personel pertahanan, hingga peningkatan interoperabilitas kedua negara dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan regional.
Namun bagi pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, isu tersebut tidak bisa dilihat semata-mata sebagai kerja sama bilateral biasa. Menurutnya, langkah Filipina dan Kanada merupakan bagian dari perubahan arsitektur keamanan yang sedang berlangsung di kawasan Indo-Pasifik.
Amir Hamzah menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir terjadi perubahan signifikan dalam pola kerja sama keamanan internasional. Jika sebelumnya hubungan pertahanan banyak didominasi perjanjian bilateral dengan Amerika Serikat sebagai pusatnya, kini muncul jaringan kerja sama yang lebih luas dan saling terhubung.
“Filipina bukan hanya memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat. Manila juga memperluas kemitraan dengan Jepang, Australia, Kanada, bahkan sejumlah negara Eropa. Ini menunjukkan adanya pembentukan jaringan keamanan yang lebih fleksibel dan berlapis,” kata Amir kepada wartawan, Minggu (31/5/2026).
Menurutnya, Kanada melihat kawasan Indo-Pasifik sebagai wilayah strategis baru yang akan menentukan keseimbangan kekuatan dunia dalam beberapa dekade mendatang.
Dari perspektif intelijen strategis, keterlibatan Kanada di kawasan bukan hanya berkaitan dengan keamanan maritim, tetapi juga perlindungan jalur perdagangan internasional, stabilitas rantai pasok global, serta pengamanan investasi ekonomi jangka panjang.
Dalam forum Shangri-La Dialogue, isu Laut China Selatan kembali menjadi pembahasan utama. Kawasan tersebut masih menjadi titik persinggungan kepentingan berbagai negara besar.
Amir Hamzah menilai bahwa Laut China Selatan saat ini bukan lagi sekadar sengketa wilayah antarnegara, melainkan telah berkembang menjadi arena kompetisi kekuatan global.
“Siapa yang mampu mengendalikan jalur laut strategis akan memiliki pengaruh besar terhadap perdagangan, energi, dan mobilitas militer dunia. Karena itu Laut China Selatan menjadi salah satu wilayah paling sensitif dalam geopolitik abad ke-21,” ujarnya.
Menurut Amir, peningkatan kerja sama pertahanan Filipina dengan berbagai negara menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap perubahan keseimbangan kekuatan di kawasan.
Langkah tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa negara-negara menengah mulai membangun kapasitas kolektif untuk menghadapi berbagai potensi risiko keamanan di masa depan.
Selain Laut China Selatan, forum Shangri-La juga menyoroti perkembangan di Taiwan dan Semenanjung Korea.
Amir Hamzah melihat kedua wilayah tersebut sebagai titik rawan yang berpotensi memicu dampak global apabila terjadi eskalasi.
Menurut analisisnya, Taiwan memiliki nilai strategis yang sangat besar karena berada di jalur perdagangan internasional serta menjadi pusat industri semikonduktor dunia.
“Dalam perspektif intelijen ekonomi, Taiwan bukan hanya persoalan politik atau militer. Taiwan adalah pusat teknologi global. Gangguan terhadap stabilitas Taiwan dapat memengaruhi industri dunia dari otomotif hingga kecerdasan buatan,” jelasnya.
Sementara itu, Semenanjung Korea tetap menjadi salah satu kawasan dengan tingkat militerisasi tertinggi di dunia. Dinamika hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan terus dipantau karena berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan secara luas.
Menurut Amir Hamzah, yang menarik dari perkembangan saat ini adalah semakin jelasnya pola kompetisi strategis antara China dan negara-negara Barat.
Ia menilai Beijing sedang berupaya memperluas pengaruh melalui kekuatan ekonomi, investasi infrastruktur, dan modernisasi militer yang masif.
Di sisi lain, negara-negara Barat berusaha mempertahankan keseimbangan kekuatan melalui berbagai kemitraan keamanan dan kerja sama pertahanan.
“Yang sedang berlangsung bukan Perang Dingin dalam bentuk lama, tetapi kompetisi multidimensi yang mencakup ekonomi, teknologi, informasi, ruang siber, dan militer sekaligus,” kata Amir.
Dalam konteks tersebut, forum Shangri-La menjadi arena penting untuk membaca arah kebijakan para aktor global dan mengukur potensi perubahan konfigurasi keamanan kawasan.
Amir Hamzah menilai negara-negara ASEAN berada pada posisi yang sangat strategis sekaligus kompleks.
Di satu sisi, kawasan Asia Tenggara menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia. Namun di sisi lain, kawasan ini juga menjadi arena persaingan berbagai kekuatan besar.
Menurutnya, tantangan utama ASEAN adalah menjaga sentralitas kawasan tanpa terseret terlalu jauh ke dalam rivalitas geopolitik global.
Bagi Indonesia, perkembangan tersebut memiliki implikasi langsung terhadap keamanan maritim, perdagangan internasional, dan stabilitas regional.
“Indonesia perlu terus memperkuat diplomasi strategis, kemampuan pertahanan nasional, dan kapasitas intelijen geopolitik agar mampu membaca perubahan lingkungan keamanan yang berlangsung sangat cepat,” ujarnya.
Amir Hamzah menyimpulkan bahwa Shangri-La Dialogue tahun ini menunjukkan satu realitas penting: kawasan Indo-Pasifik telah menjadi pusat gravitasi geopolitik dunia.
Setiap kerja sama pertahanan baru, termasuk antara Filipina dan Kanada, tidak lagi dapat dipandang sebagai hubungan bilateral biasa. Di baliknya terdapat perhitungan strategis yang lebih luas terkait keseimbangan kekuatan, keamanan maritim, perlindungan rantai pasok global, hingga persaingan pengaruh antarnegara besar.
“Pertarungan geopolitik masa depan tidak hanya ditentukan oleh jumlah kapal perang atau kekuatan militer. Yang lebih menentukan adalah kemampuan membangun jaringan aliansi, menguasai teknologi strategis, dan memenangkan persaingan informasi. Itulah pesan utama yang dapat dibaca dari Shangri-La Dialogue tahun ini,” pungkas Amir Hamzah.




