Kualitas Batu Bara di Bawah Standar Diduga Penyebab Tragedi PLTU Suralaya

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta, – Tragedi lingkungan yang ditimbulkan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya semakin mendapat sorotan publik setelah Ketua Padepokan Hukum Indonesia, Mus Gaber, mengungkapkan dalam wawancara dengan MoneyTalk pada Kamis (12/09).

Bahwa batu bara yang digunakan di PLTU Suralaya diduga memiliki kadar kualitas yang rendah dan di bawah standar. Kondisi ini dicurigai sebagai salah satu faktor penyebab memburuknya polusi udara dan dampak kesehatan di sekitar kawasan PLTU.

Dalam wawancara tersebut, Mus Gaber mendesak PT Indonesia Power sebagai pengelola PLTU untuk bertanggung jawab atas kondisi ini, serta meminta pemerintah segera mengambil langkah serius. Polusi udara ini jangan dianggap main main bisa merusak lingkungan, dan Ancaman nyata kesehatan rakyat.

Polusi udara ini dihasilkan oleh pembakaran batu bara berkualitas rendah berkontribusi pada berbagai masalah kesehatan masyarakat. Hal ini semakin dipertegas dengan hasil penelitian terbaru dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) yang menunjukkan bahwa emisi dari PLTU Suralaya menyebabkan sekitar 1.470 kematian per tahun, serta kerugian kesehatan yang mencapai Rp14,2 triliun.

Ini adalah krisis besar yang mempengaruhi ribuan nyawa dan ekonomi. Pemerintah tidak boleh diam saja, dan PT Indonesia Power harus bertanggung jawab penuh atas dampak yang diakibatkan,” tegas Mus Gaber.

Kemudian Polusi udara dari PLTU Suralaya diketahui memiliki dampak signifikan, tidak hanya di sekitar area pembangkit, tetapi juga di kawasan lain seperti Jakarta dan sekitarnya.

Dan hal ini dipertegas dari laporan CREA, bahwa PLTU Suralaya berkontribusi besar dalam pencemaran udara di Jakarta, di mana partikel halus (PM2.5) yang dilepaskan oleh pembangkit menjadi salah satu penyebab utama buruknya kualitas udara.

Seorang warga yang tinggal dekat dengan PLTU Suralaya mengungkapkan bahwa anaknya menderita penyakit paru-paru yang diduga akibat paparan debu batu bara dari pembangkit tersebut.

Debu fly ash dari batu bara ini membuat anak saya harus mengonsumsi obat paru selama enam bulan. Jika tidak tertangani dengan baik, penyakit ini bisa berujung kematian,” ujar Edi, salah satu warga terdampak.

Selanjutnya dalam beberapa laporan, dicurigai bahwa kualitas batu bara yang digunakan di PLTU Suralaya memiliki kadar yang di bawah standar, yang memperburuk tingkat emisi.

Batu bara dengan kualitas rendah biasanya memiliki kandungan sulfur, nitrogen, dan abu yang lebih tinggi, sehingga ketika dibakar, menghasilkan lebih banyak polutan berbahaya seperti sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NOx), dan partikel PM2.5 yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

PLTU yang menggunakan batu bara berkualitas rendah menghasilkan lebih banyak fly ash atau debu halus yang berbahaya dan mudah terhirup oleh manusia, terutama anak-anak dan lansia. Partikel-partikel berbahaya ini bisa menyebabkan berbagai masalah pernapasan, mulai dari bronkitis, asma, hingga penyakit paru-paru kronis seperti pneumokoniosis, yang dikenal sebagai penyakit “paru-paru hitam” akibat paparan debu batu bara.

Desakan Penutupan PLTU Suralaya oleh
Organisasi lingkungan Trend Asia yang fokus pada transformasi energi berkelanjutan terus diperjuangkan.

Mereka menilai, PLTU ini sudah terlalu banyak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Dan Novita Indri dari Trend Asia menyatakan, PLTU Suralaya harus segera ditutup dan digantikan dengan sumber energi terbarukan. Ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga keselamatan nyawa manusia.

Namun, PLN Indonesia Power, pengelola PLTU, membantah tuduhan bahwa kualitas batu bara yang digunakan di bawah standar, dan menegaskan bahwa mereka telah memenuhi standar pemerintah dalam pengelolaan emisi.

Dan pemerintah Diminta Bertindak lebih tegas kepada PLN Indonesia Power agar tragedi Lingkungan tidak berulang terjadi.

Kami meminta pemerintah tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan dampak kesehatan dan lingkungan dari dugaan penggunaan energi kotor seperti batu bara oleh PLN Indonesia Power. Kalau bisa sudah saatnya transisi ke energi bersih dilakukan,” ujarnya Mus Gaber

Dengan kerugian kesehatan dan ekonomi yang terus meningkat, serta ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat, semakin mendesak bagi pemerintah dan perusahaan terkait untuk mengambil langkah konkret demi mengurangi dampak negatif dari PLTU Suralaya.(c@kra)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *