MoneyTalk, Jakarta – Dalam sebuah diskusi yang ditayangkan di NU Online pada Senin (14/10), Farish A. Noor, seorang akademisi, sejarawan, dan ilmuwan politik Malaysia yang menjabat sebagai Profesor di Fakultas Ilmu Sosial di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), menguraikan pandangannya mengenai hubungan historis antara Amerika Serikat dan Asia Tenggara.
Diskusi ini membahas perjalanan sejarah hubungan diplomatik dan politis antara Amerika dan kawasan ini, yang menurut Farish, seringkali diabaikan dalam kajian sejarah kontemporer. Dalam pembahasannya, Farish mengungkapkan bahwa Amerika tidak serta merta menjadi kekuatan imperialis, tetapi lambat laun berkembang menjadi hegemon yang berpengaruh besar di Asia Pasifik.
Farish memulai penjelasannya dengan menyebut bahwa Amerika awalnya memproyeksikan citra yang berbeda dari kekuatan-kekuatan kolonial Eropa. Pada zaman Thomas Jefferson, kebijakan Amerika didasarkan pada prinsip bahwa mereka bukanlah kekuatan imperialis.
Amerika tidak ingin menaklukkan atau menjajah wilayah-wilayah di Asia, tetapi lebih memilih untuk menandatangani perjanjian diplomatik dengan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara dan Hindia Belanda. Ini, menurut Farish, merupakan bagian dari narasi Amerika yang ingin menonjolkan diri sebagai “republik” yang berbeda dari kerajaan-kerajaan Eropa yang dianggap “jahat.”
Narasi ini mulai berubah seiring dengan ekspansi Amerika ke wilayah Barat melalui Perang Amerika-Meksiko (1846-1848), yang mengakhiri kekuasaan Meksiko atas California dan membuka akses langsung Amerika ke Lautan Pasifik. Dengan menguasai California, Amerika memiliki jalur langsung menuju Asia Timur dan Asia Tenggara, yang sebelumnya memerlukan pelayaran panjang melalui Amerika Selatan. Perubahan besar terjadi ketika Amerika menaklukkan Filipina pada akhir abad ke-19, menjadikan Amerika kekuatan imperialis baru di kawasan Pasifik.
Farish menegaskan bahwa peran Asia Tenggara dalam kebangkitan Amerika sebagai kekuatan hegemonik tidak dapat diabaikan.
“Kita bukan lagi pemain pinggiran, kita pemain sentral dalam sejarah Amerika,” tegasnya.
Ia mengkritik bahwa baik sejarahwan Amerika maupun Asia jarang mencatat peran signifikan kawasan ini dalam pembentukan kekuatan Amerika. Pertemuan pertama Amerika dengan Asia Tenggara terjadi jauh sebelum Perang Dunia II atau Perang Dingin, namun banyak literatur yang tidak menggali periode ini secara mendalam.
Farish juga menyoroti pentingnya mempelajari sejarah bersama antara Amerika dan Asia Tenggara untuk memahami dinamika geopolitik saat ini. Menurutnya, transformasi Lautan Pasifik menjadi “domain” Amerika adalah salah satu hasil dari ekspansi Amerika di Filipina dan kawasan sekitarnya.
Amerika tidak hanya menguasai Filipina, tetapi juga Guam dan Hawaii. Lautan Pasifik, yang sebelumnya didominasi oleh kekuatan Eropa, menjadi zona pengaruh Amerika, sementara Asia daratan menjadi medan pertarungan antara kekuatan lain, seperti Jepang.
Dominasi ini diperkuat oleh pengembangan angkatan laut Amerika, yang menurut Farish, berawal dari kebutuhan untuk bersaing dengan kekuatan-kekuatan Eropa di kawasan Asia-Pasifik.
Pada awalnya, Amerika hanya memiliki beberapa kapal kecil, namun kemudian berkembang menjadi kekuatan laut terbesar di dunia. Ini adalah cikal bakal lahirnya “Pasifik Amerika,” yang menjadi kunci dominasi geopolitik Amerika di kawasan ini hingga hari ini.
Farish menolak pandangan bahwa persaingan antara Amerika dan Cina di kawasan Asia-Pasifik saat ini merupakan Perang Dingin kedua. Menurutnya, Perang Dingin pertama adalah pertarungan ideologi antara kapitalisme dan komunisme, sedangkan saat ini, persaingan Amerika dan Cina lebih bersifat ekonomi, dengan kedua kekuatan sama-sama menerapkan kapitalisme. Ia menekankan bahwa fenomena ini lebih mirip dengan konflik antara kekuatan kapitalis pada abad ke-19, seperti Inggris, Belanda, Prancis, dan Spanyol, yang bersaing untuk memonopoli perdagangan dan keuntungan ekonomi di berbagai belahan dunia.
Salah satu poin penting yang disampaikan oleh Farish adalah perlunya menggali kembali sejarah hubungan antara Amerika dan Asia Tenggara, yang jauh lebih panjang daripada yang sering disebut dalam buku-buku sejarah. Ia menyatakan bahwa interaksi antara Amerika dan kawasan ini dimulai sejak awal abad ke-19, bukan setelah Perang Dunia II seperti yang sering diasumsikan.
Farish menyayangkan bahwa banyak akademisi saat ini, baik di Amerika maupun di Asia Tenggara, tidak banyak yang tertarik untuk meneliti periode ini. Menurutnya, ini adalah episode penting yang dilupakan dalam sejarah.
Setelah Perang Dunia II, Amerika menggantikan peran kekuatan Eropa sebagai kekuatan dominan di Asia-Pasifik. Farish mencatat bahwa meskipun banyak negara Asia Tenggara mencoba membentuk sistem politik yang independen, seperti dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955, sebagian besar dari proyek-proyek ini tidak berhasil bertahan lama. Struktur politik yang dominan pada saat itu, yang diwarnai oleh pengaruh kolonialisme, tidak memungkinkan terbentuknya sistem politik yang benar-benar mandiri.
Dalam diskusi ini, Farish juga membahas bagaimana demokrasi di Asia Tenggara sering dianggap gagal oleh banyak peneliti Barat. Ia berpendapat bahwa demokrasi tidak dapat berkembang di wilayah yang telah lama berada di bawah kendali otoritarianisme kolonial. Proses demokratisasi di banyak negara Asia Tenggara baru dimulai setelah masa kolonial berakhir, sehingga tanah politiknya belum cukup subur untuk menumbuhkan demokrasi yang kuat.
Farish A. Noor menutup dengan pandangan optimis, meskipun mengakui bahwa tantangan yang dihadapi negara-negara Asia Tenggara saat ini sangat besar. Ia percaya bahwa kawasan ini masih memiliki peluang untuk memainkan peran penting dalam geopolitik global.
Untuk mencapai itu, penting bagi masyarakat Asia Tenggara untuk memahami dan menggali kembali sejarah panjang mereka dengan kekuatan-kekuatan besar dunia seperti Amerika Serikat. Hanya dengan begitu, menurut Farish, kawasan ini dapat membentuk masa depan yang lebih baik dan lebih mandiri.





