Hendrajit Soroti Tiga Kejanggalan dalam Percakapan Telepon Presiden Prabowo–Menhan Sjafrie

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat geopolitik Hendrajit menilai percakapan telepon yang disebut-sebut terjadi antara Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bukanlah peristiwa biasa. Ia melihat ada tiga isu utama yang perlu dibedah secara serius: isi percakapan, gaya komunikasi presiden, dan relasi politik antara keduanya.

1. Isi Percakapan: Bukan Rahasia, Tetapi Tetap Penting

Menurut Hendrajit, konten percakapan yang diduga bocor itu sebenarnya tidak mengandung rahasia negara yang fatal. Isi arahannya lebih pada kebijakan luar negeri Indonesia terhadap kemungkinan memanasnya konflik China–Taiwan.

Ia menjelaskan bahwa imbauan agar Indonesia tidak ikut campur dalam kemungkinan konflik tersebut bukanlah hal baru, dan secara prinsip konsisten dengan One China Policy yang telah lama dianut Indonesia. Bahkan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat pun mengakui Beijing sebagai representasi resmi Cina sejak 1949.

“Jadi, secara konten, arahan itu sesuai dengan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif dan amanat Pembukaan UUD 1945 alinea pertama. Tidak ada yang bertentangan,” kata Hendrajit, Kamis (4/12/2025).

2. Cara Komunikasi Prabowo Dinilai Janggal: Mengapa via Telepon?

Hal paling mengganjal bagi Hendrajit justru bukan soal isi, tetapi cara Presiden Prabowo berkomunikasi.

Ia mempertanyakan alasan presiden menyampaikan arahan strategis melalui percakapan telepon, bukan melalui rapat terbatas yang berada di bawah koordinasi Menko Polhukam.

“Pertanyaannya, apa urgensinya sampai presiden harus menyampaikan arahan kebijakan luar negeri via telepon? Mengapa tidak dalam forum resmi kabinet?” ujarnya.

Hendrajit menilai pemerintah perlu memberikan klarifikasi agar isu ini tidak menjadi bola liar yang berkembang menjadi tudingan serius tentang kebocoran informasi negara.

“Jika dibiarkan, publik bisa menangkap kesan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam lingkaran dalam istana,” tambahnya.

3. Relasi Prabowo–Sjafrie: Mengapa Tidak Empat Mata Saja?

Isu ketiga yang disorot adalah dinamika hubungan antara Prabowo dan Sjafrie. Secara historis, keduanya dikenal sebagai duet solid sejak masa krisis 1998.

Karena hubungan keduanya dekat, Hendrajit heran mengapa arahan penting itu tidak disampaikan melalui pertemuan empat mata atau jalur komunikasi personal lain yang jauh lebih aman.

“Justru hubungan Prabowo dan Sjafrie seharusnya paling bebas hambatan. Kalau begitu, mengapa harus repot menggunakan telepon yang rentan bocor?” ungkapnya.

Menurutnya, justru lebih banyak tanda tanya yang muncul alih-alih jawaban dari kejadian ini.

Hendrajit juga menyoroti kesesuaian kewenangan. Jika percakapan itu benar terjadi, arahan terkait kebijakan luar negeri semestinya lebih relevan disampaikan kepada Menteri Luar Negeri.

“Dalam struktur pemerintahan, isu China–Taiwan adalah domain diplomasi. Sehingga, lebih logis jika arahan ditujukan langsung kepada Menlu,” jelasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *