Kajian Politik Merah Putih Soroti Fenomena “Manusia Bermuka Dua”: Topeng Kepalsuan Pasti Terbuka

  • Bagikan
Dinamika Politik Dinasti di Pilkada Kaltim 2024, Mitos atau Realita?
Dinamika Politik Dinasti di Pilkada Kaltim 2024, Mitos atau Realita?

MoneyTalk, Jakarta – Koordinator Kajian Politik Merah Putih, Sutoyo Abadi, melontarkan kritik tajam terhadap fenomena “manusia bermuka dua” yang menurutnya kian marak dalam kehidupan sosial dan politik. Pernyataan tersebut disampaikan Sutoyo pada 9 Januari 2026, disertai refleksi moral, kutipan keagamaan, dan pandangan etis tentang kejujuran serta harga diri manusia.

Sutoyo mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh HR Bukhari dan Muslim, yang menyebutkan bahwa seburuk-buruk manusia adalah mereka yang bermuka dua—datang kepada satu kelompok dengan satu wajah, dan kepada kelompok lain dengan wajah yang berbeda. Bagi Sutoyo, pesan tersebut relevan dengan realitas saat ini, di mana kepalsuan sering disamarkan demi kepentingan pribadi.

“Orang bermuka dua biasanya lupa topeng mana yang sedang mereka kenakan,” ujar Sutoyo, mengutip pemikiran Anthony T. Hincks. Menurutnya, kepura-puraan bukan hanya merusak kepercayaan publik, tetapi juga menjadi jebakan bagi pelakunya sendiri, Jumat (9/1/2026).

Ia menegaskan bahwa pada akhirnya topeng kepalsuan akan terbuka dengan sendirinya. Ironisnya, kata Sutoyo, orang-orang seperti ini sering tidak menyadari kesalahannya, meskipun telah berkali-kali diingatkan. “Mereka menjadikan topeng sebagai cara hidup,” tegasnya.

Meski mengakui bahwa kehidupan kerap dipenuhi kepalsuan, Sutoyo mengingatkan agar manusia tidak terjebak menjadi pribadi bermuka dua. Ia menyebut, tidak ada manusia yang secara hakikat memiliki dua wajah, melainkan ada manusia yang memilih bersikap oportunistis—cari aman, berburu jabatan, atau mengejar keuntungan finansial dengan mempertaruhkan harga diri.

“Tidak peduli akibat dan dampaknya, yang penting kepentingan pribadi terpenuhi,” kata Sutoyo.

Namun demikian, ia juga mengajak masyarakat untuk tidak mudah menghakimi orang lain hanya dari satu sisi yang tampak. “Setiap orang memang memiliki banyak sisi, dan sering kali kita hanya melihat satu wajahnya saja,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Sutoyo menegaskan nilai kejujuran sebagai pilihan hidup. Menurutnya, jauh lebih terhormat untuk tidak disukai karena menjadi diri sendiri, jujur, dan apa adanya, daripada dipuja namun hidup dalam kemunafikan dan drama.

Ia pun menutup refleksinya dengan kutipan tajam dari Junhyung Beast: “Aku tidak suka dengan orang bermuka dua, karena membuat aku bingung harus menampar muka yang mana dulu.”

Pernyataan Sutoyo Abadi ini menjadi pengingat bahwa integritas dan kejujuran tetap menjadi fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *