MoneyTalk, Jakarta – Staf Khusus Presiden era Susilo Bambang Yudhoyono, Heru Lelono, melontarkan kritik keras terhadap wacana “Board of Peace” yang dikaitkan dengan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Menurut Heru, gagasan perdamaian yang digagas Trump justru bertolak belakang dengan realitas konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Israel dan Palestina.
“Simple saja kok. Mengapa masih percaya kepada Trump sebagai pencetus Board of Peace? Peace itu artinya damai, bukan?” kata Heru Lelono dalam pernyataannya, Ahad (8/3/2026).
Ia menilai konsep perdamaian tersebut sulit dipercaya jika melihat kondisi yang terjadi di Palestina selama ini. Heru menyoroti berbagai serangan yang menimbulkan korban sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
“Amerika dan Israel yang menghancurkan Palestina, membunuh anak-anak dan rakyat tak berdosa. Lalu sekarang mereka bicara peace?” ujarnya.
Heru juga menilai narasi perdamaian yang dibawa Trump lebih bersifat politis dibanding solusi nyata bagi konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.
“Trump hanya mencari kambing congek,” tegasnya dengan nada kritik.
Pernyataan Heru Lelono ini menambah panjang daftar kritik dari berbagai pihak terhadap peran Amerika Serikat dalam konflik Timur Tengah. Selama ini, kebijakan luar negeri Washington sering dipandang memihak kepada Israel dan kurang memberi tekanan kuat untuk menghentikan konflik yang menimpa rakyat Palestina.
Konflik antara Israel dan Palestina sendiri telah berlangsung selama puluhan tahun dan berulang kali memicu krisis kemanusiaan. Berbagai upaya perdamaian internasional telah dilakukan, namun hingga kini solusi permanen masih belum tercapai.
Pernyataan Heru Lelono mencerminkan pandangan sebagian kalangan di Indonesia yang menilai upaya perdamaian harus benar-benar berpihak pada keadilan dan penghentian kekerasan terhadap warga sipil.
“Kalau benar ingin damai, hentikan dulu kekerasan. Jangan bicara peace sementara bom masih dijatuhkan,” pungkasnya.





