MoneyTalk, Jakarta – Direktur Eksekutif Soekarno-Hatta Institute, Hatta Taliwang, memaparkan pandangannya mengenai bagaimana Iran berpotensi memaksa Amerika Serikat menghentikan perang melalui strategi yang terinspirasi dari Perang Vietnam.
Dalam analisisnya, Hatta menilai bahwa pendekatan paling efektif bagi Iran bukanlah konfrontasi langsung, melainkan perang asimetris yang menguras energi, biaya, dan dukungan domestik Amerika Serikat.
“Iran sudah berada di jalur yang tepat dengan mengedepankan perang asimetris—bertahan selama mungkin, bahkan jika harus menggunakan taktik gerilya dan hit and run,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (30/3/2026).
Menurut Hatta, strategi ini terbukti efektif dalam sejarah, terutama saat Vietnam menghadapi Amerika Serikat pada dekade 1970-an. Ketahanan jangka panjang, kata dia, menjadi kunci untuk melemahkan kekuatan besar seperti AS.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penguasaan Selat Hormuz sebagai senjata geopolitik utama. Jika Iran mampu mempertahankan kontrol atas jalur vital distribusi minyak dunia tersebut, dampaknya akan langsung terasa pada ekonomi global, terutama Amerika Serikat.
“Lonjakan harga minyak akan menekan rakyat AS. Ketika tekanan ekonomi meningkat, tuntutan untuk menghentikan perang akan datang dari dalam negeri mereka sendiri,” jelasnya.
Hatta juga menyoroti dinamika politik domestik di Amerika Serikat. Ia menyebut gelombang demonstrasi anti-perang yang disebut telah melibatkan jutaan warga di berbagai kota besar sebagai sinyal menurunnya dukungan publik terhadap kebijakan luar negeri Washington.
Ia membandingkan situasi tersebut dengan era Perang Vietnam, ketika jutaan warga Amerika turun ke jalan menolak perang yang berkepanjangan. Saat itu, tekanan publik menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perubahan kebijakan pemerintah.
Selain itu, Hatta menilai bahwa perang informasi juga menjadi elemen penting. Ia menyarankan agar Iran dan sekutunya terus mengekspos dampak serangan terhadap warga sipil untuk membentuk opini global.
“Eksploitasi isu kemanusiaan akan memperlemah legitimasi AS dan Israel di mata dunia,” katanya.
Tak kalah penting, lanjut Hatta, adalah dampak psikologis dari korban militer. Ia mengingatkan bahwa tingginya jumlah korban tentara AS dalam Perang Vietnam—lebih dari 58 ribu tewas dan ratusan ribu luka-luka—memicu tekanan besar dari keluarga korban di dalam negeri.
“Jika korban di pihak militer meningkat, terutama dari kalangan muda, maka tekanan dari keluarga dan masyarakat akan semakin kuat untuk menghentikan perang,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, analisis ini menggambarkan bahwa konflik modern tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh daya tahan politik, ekonomi, dan opini publik.
Hatta menegaskan, pelajaran dari Perang Vietnam menunjukkan bahwa kekuatan besar sekalipun dapat dipaksa mundur jika menghadapi perang panjang yang menguras sumber daya dan dukungan domestik.
“Sejarah mengajarkan, perang bukan hanya soal senjata, tetapi juga soal siapa yang mampu bertahan lebih lama,” pungkasnya.



