Menunggu Pengakuan Akun Fufufafa Siapa Yang Punya

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Hal ini diungkapkan oleh pakar telematika yang juga mantan Menteri Pemuda dan Olahraga di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Dr. KRMT Roy Suryo, M.Kes, melalui tulisannya yang diterima oleh MoneyTalk pada Senin, 16 September 2024. Dalam tulisan tersebut, Roy Suryo membandingkan penantian publik atas pengakuan jujur dari Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Budi Arie Setiadi (BAS), serta mantan Walikota Solo, Gibran Rakabuming Raka (GRR), dengan skenario drama klasik En attendant Godot (Menunggu Godot) karya Samuel Beckett. Drama ini menggambarkan dua karakter yang terus menunggu sosok bernama Godot, namun Godot tidak pernah datang, melambangkan penantian yang sia-sia dan tidak berujung.

Penggunaan analogi ini dianggap sangat tepat oleh Roy Suryo dalam menggambarkan situasi terkait kasus akun Fufufafa di forum KasKus. Akun tersebut dilaporkan berisi ribuan postingan yang bersifat ofensif dan merendahkan sejumlah tokoh nasional, namun hingga kini, pengakuan dan klarifikasi dari pihak-pihak yang dicurigai masih belum muncul.

Sebelumnya, BAS pernah berjanji kepada publik bahwa ia akan mengungkap siapa sebenarnya pemilik akun Fufufafa di KasKus. Akun ini memiliki lebih dari 5000 postingan yang mengandung ujaran kebencian dan penghinaan terhadap tokoh-tokoh seperti Presiden terpilih Prabowo Subianto, mantan Presiden SBY, Anies Baswedan, hingga artis-artis terkenal seperti Syahrini dan Cinta Laura. Meski janji sudah dibuat, hingga saat ini, BAS belum memberikan klarifikasi yang jelas, dan publik terus dibiarkan dalam ketidakpastian.

Menurut Roy Suryo, publik kini seperti berada dalam skenario Menunggu Godot menanti jawaban yang tidak pernah tiba. Ia menyebut BAS sebagai “Menkomomdo” (Menteri Komunikasi Omong Doank), karena kegagalannya dalam memberikan kejelasan atas pemilik akun Fufufafa. Bahkan, meskipun BAS sudah menyatakan bahwa akun tersebut bukan milik GRR, Roy menyebut bahwa pernyataan itu tidak memiliki dasar ilmiah yang cukup kuat. Hal ini semakin memperkuat ketidakpercayaan publik terhadap klaim yang dibuat oleh Menkominfo.

Tak hanya BAS, GRR, yang kini berada di ambang posisi Wakil Presiden terpilih, juga memberikan respons yang tidak memuaskan. Dalam sebuah wawancara dengan wartawan, GRR menjawab dengan nada santai dan defensif, “Lha mbuh takono sing duwe akun, kok aku,” yang menurut Roy Suryo menunjukkan upaya menghindari pertanggungjawaban. Jawaban ini, disertai dengan gestur yang terlihat tidak nyaman, menambah kecurigaan publik bahwa GRR memang memiliki keterkaitan dengan akun Fufufafa tersebut.

Roy Suryo juga menggarisbawahi bagaimana gerak-gerik GRR bisa dianalisis oleh para pakar ekspresi dan gestur. Ia menduga bahwa jika diamati dengan lebih mendalam, gestur dan mikroekspresi GRR dapat memberikan petunjuk apakah ia sedang mengatakan yang sebenarnya atau mencoba menutupi sesuatu.

Seiring dengan lambannya tanggapan dari pihak-pihak terkait, masyarakat Indonesia, khususnya netizen, mulai melakukan investigasi independen terhadap akun Fufufafa. Roy Suryo menyebut beberapa netizen sebagai “Private Investigator” yang berhasil menghubungkan akun tersebut dengan sejumlah identitas, termasuk nama Raka Gnarly (@Chilli_Pari dan @rkgbrn), yang diduga terkait dengan GRR. Bukti tambahan seperti nomor telepon yang diklaim sebagai milik GRR juga telah dipublikasikan, semakin memperkuat asumsi bahwa akun tersebut memang terkait dengan sosok Gibran.

Lebih jauh, Roy juga mencatat bahwa netizen berhasil mengakses informasi tambahan melalui aplikasi seperti GetContact dan TrueCaller, yang menunjukkan bahwa nomor yang diduga milik GRR terdaftar dalam beberapa akun layanan digital, semakin mempersulit GRR untuk mengelak dari tuduhan.

Roy Suryo dalam tulisannya juga menyinggung fenomena “Ceboker,” yakni kelompok pendukung fanatik yang selalu membela idolanya tanpa mempertimbangkan fakta dan kebenaran. Kelompok ini, menurut Roy, berusaha membela GRR dengan cara yang tidak logis, termasuk menyebarkan teori bahwa postingan akun Fufufafa direkayasa menggunakan WayBack Machine untuk memalsukan tanggal posting. Namun, Roy dengan tegas membantah hal ini, menyebut bahwa cara-cara tersebut tidak hanya mengada-ada, tetapi juga menunjukkan betapa desperatenya upaya kelompok Ceboker dalam membela tokoh yang mereka junjung.

Roy Suryo menutup tulisannya dengan pesan yang jelas: penantian untuk mendapatkan pengakuan jujur dari BAS dan GRR adalah sia-sia, sama seperti menunggu Godot. Dengan bukti-bukti yang sudah terkumpul dari investigasi para netizen dan fakta-fakta yang tersedia di publik, masyarakat sudah cukup cerdas untuk menilai siapa sebenarnya di balik akun Fufufafa.

Sebagaimana Roy Suryo ungkapkan, “Pencuri pun tidak akan langsung mengaku ketika ketahuan.” Oleh karena itu, perlu adanya investigasi ilmiah dan teknis yang dapat membongkar kebenaran tanpa harus bergantung pada pengakuan dari pihak-pihak yang terlibat. Publik sudah tidak lagi perlu menunggu, karena kebenaran pada akhirnya akan terungkap, dan keadilan sosial serta tekanan masyarakat akan menjadi hukuman yang layak bagi mereka yang terlibat.(c@kra)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *