MoneyTalk, Jakarta – Theo Derick, seorang YouTuber dan pengamat ekonomi independen, menyampaikan sebuah pernyataan mengejutkan melalui kanal YouTube-nya pada Senin, 14 Oktober 2024. Berdasarkan pengamatan data dari Amerika Serikat yang disesuaikan dengan kondisi ekonomi di Indonesia, Theo menjelaskan dengan gamblang.
Kata Theo, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, sekitar 9,4 juta orang yang sebelumnya termasuk dalam kelas menengah mengalami penurunan menjadi kelas bawah. Pernyataan ini memicu kekhawatiran tentang kondisi ekonomi di Indonesia, khususnya terkait kesejahteraan masyarakat kelas menengah yang rentan.
Klasifikasi Ekonomi Berdasarkan Total Kekayaan. Untuk memahami konteks pernyataan Theo, perlu melihat bagaimana klasifikasi ekonomi dihitung. Menurut Theo, kelas bawah di Indonesia dapat dikategorikan sebagai mereka yang memiliki kekayaan bersih di bawah Rp150 juta. Ini mencakup aset likuid maupun aset lain seperti properti dan kendaraan.
Sementara itu, kelas menengah didefinisikan dengan kekayaan antara Rp150 juta hingga Rp1,5 miliar. Sedangkan kelas menengah atas berada pada kisaran Rp1,5 hingga Rp6 miliar. Nah, di atasnya terdapat kategori Ultra-High-Net-Worth Individuals (Ultra-HNWI), dengan kekayaan di atas Rp450 miliar.
Kerentanan Kelas Menengah. Theo menyebutkan bahwa kelas menengah adalah kelas yang paling rentan. Hal ini karena kelas ini berada di antara kelas bawah dan kelas atas, sehingga seringkali tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Lebih parah, tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk benar-benar menikmati kehidupan yang lebih nyaman.
Kelas menengah di Indonesia adalah kelompok yang paling sering menjadi korban penipuan investasi, judi online, dan pinjaman daring dengan suku bunga tinggi (pay later). Selain itu, mereka juga terbebani oleh berbagai potongan penghasilan seperti pajak, BPJS, dan kewajiban lainnya.
Penyebab Turunnya Kelas Menengah. Theo menyampaikan bahwa selama periode 2019 hingga 2024, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan penurunan kelas menengah ke kelas bawah
Peningkatan Biaya Hidup: Biaya kebutuhan dasar semakin meningkat, mulai dari harga pangan, transportasi, hingga biaya kesehatan.
Inflasi yang Tidak Seimbang dengan Kenaikan Gaji: Gaji di Indonesia tidak naik secepat inflasi, sehingga daya beli masyarakat kelas menengah menurun.
Pinjaman dan Cicilan yang Tinggi: Kelas menengah seringkali terjebak dengan gaya hidup konsumtif yang memaksa mereka untuk mengambil pinjaman dan kredit, yang menguras keuangan mereka.
Investasi Bodong dan Judi Online: Kelas menengah rentan terpengaruh oleh investasi bodong dan judi online yang dapat menggerus aset mereka.
Konsumsi dan Gaya Hidup yang Berlebihan: Ada kecenderungan di masyarakat kelas menengah untuk mengadopsi gaya hidup kelas atas, dengan membeli barang-barang mahal melalui cicilan.
Pentingnya Habit Keuangan yang Sehat. Theo menekankan pentingnya membangun kebiasaan keuangan yang sehat agar dapat bertahan di kelas menengah atau bahkan naik kelas. Hal ini dapat dimulai dengan kebiasaan hidup hemat, menabung, dan berinvestasi. Kebiasaan mengalokasikan uang dengan bijak, seperti surplus pendapatan tiap bulan, memiliki tujuan finansial, dan fokus pada peningkatan nilai aset, sangat penting dalam menjaga stabilitas ekonomi pribadi.
Menghadapi Lingkungan yang Menggoda untuk Berhutang Theo juga membahas pengaruh besar dari berbagai layanan keuangan yang mendorong orang untuk berhutang, seperti layanan pay later dan pinjaman online. Hal ini membuat seseorang merasa “kaya” dengan akses ke dana yang sebenarnya bukan milik mereka. Oleh sebab itu, penting untuk menyadari bahwa dana dari pinjaman adalah kewajiban yang harus dikembalikan.
Theo mengingatkan bahwa kelas menengah harus mulai membangun kebiasaan finansial yang sehat, serta menghindari pengaruh eksternal yang mendorong mereka untuk hidup di luar kemampuan. Dengan begitu, mereka tidak hanya dapat mempertahankan kelas ekonomi mereka, tetapi juga membangun pondasi yang lebih kuat untuk masa depan.(c@kra)





